[Copas] Bisakah aku menikah karena-Nya

Bisakah aku menikah karena-Nya??

Pernikahan Atas Nama Cinta?

Sebagian manusia ingin menikah karena cinta yang memabukkan. Tak sabar ingin memadu cinta. Larangan Tuhannya ditabrak. Pacaran menjadi halal. Siang dan malam yang terbayang hanyalah wajah si dia. Lagu-lagu cinta melankolis menjadi alunan indah dari hati yang merindu. Bila sang kekasih dekat, ia takut berpisah. Bila sang kekasih jauh, hatinya resah gelisah menahan kerinduan. Lalainya hati karena disibukkan oleh selain-Nya adalah kesengsaraan dan kerugian tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Menikah adalah moment yang dinanti. Didamba. Seakan-akan, menikah adalah terminal akhir dari kisah percintaan. Dunia penuh dengan hingar bingar cinta nafsu yang memang di blow up oleh media-media. Lagu, sinetron, film, semuanya atas nama cinta. Cinta nafsu. Thaghut baru.

Sebagian orang mengatakan bahwa menikahi sang kekasih adalah karena cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah benar cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala? Karena jika saja cinta itu benar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya akan membawa diri semakin dekat kepada-Nya. Maka patut dipertanyakan cintanya itu, apakah benar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala atau hawa nafsu semata.

Cinta. Meminta dan memberi cinta dari dan kepada yang belum berhak. Alangkah malunya hati bila memberikan cinta pada yang tidak berhak. Tiadalah berhak memberikannya, karena sudah ada pemiliknya, meski belum tahu siapakah belahan jiwa itu, karena pasangan jiwa adalah rahasia Allah.

Mereka Menjemput Kematian…


Pernikahan identik dengan kebahagiaan, sedang kematian, identik dengan kesedihan. Tetapi tidak selamanya demikian. Bisa jadi, kematian lebih membahagiakan ketimbang pernikahan. Dan sementara sebagian orang mengejar cinta dan disibukkan angan-angan akan pernikahan dengan sang kekasih, para pejuang justru sibuk menggadaikan seluruh yang mereka miliki, termasuk pernikahannya demi sebuah perniagaan yang balasannya adalah syurga.

Ayat Al Akrash. 17 tahun. Menggapai syahadah menjelang pernikahannya. Pernikahan yang seharusnya menjadi penantian semua gadis. Menikah di kemelut perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan? Ayat Al Akrash bukannya tak punya cinta. Ia mencintai calon suaminya. Tetapi, ada yang lebih tinggi dari cinta kepada manusia, yaitu cinta kepada Allah Subhanahu wa Taala. Ya, dan bom cinta itu menewaskan 3 tentara Israel dan melukai 70 orang lainnya. Subhanallah? Ayat kini telah menjadi mempelai wanita seluruh warga Palestina dan pejuang Islam sedunia.

Zahid. 35 th. Sahabat Rasulullah SAW ini akan menikah dengan wanita yang sholehah, sangat cantik dan terhormat. Ia tengah mempersiapkan pernikahannya. Panggilan jihad berkumandang. Para sahabat menyarankan kepadanya untuk tidak ikut berjihad, karena ia akan berbulan madu. Tetapi apa jawaban sang pejuang ini? Zaid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”Lalu Zahid menyitir ayat, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24). Dan majulah Zahid ke medan pertempuran. Menggapai syahid.

Abdurrahman bin Abu Bakar. Menikah dengan Atikah. Ia sangat mencintai isterinya karena agama dan akhlaknya. Yang karena kecintaannya itu, membuat Abdurrahman betah di rumah dan beberapa kali tidak shalat berjamaah di masjid. Mengetahui hal ini, Abu Bakar menyuruhnya menceraikan saja isterinya itu. Dan Abdurrahman bersyair dengan sedih untuk isterinya, “Demi Allah tidaklah aku melupakanmu walau matahari kan terbit meninggi dan tidaklah terurai air mata merpati itu kecuali berbagi hati. Tidak pernah kudapatkan orang sepertiku mentalak orang seperti dia, dan tidaklah orang seperti dia ditalak karena dosanya. Dia berakhlak mulia, beragama dan bernabikan Muhammad. Berbudi pekerti tinggi bersifat pemalu dan halus tutur katanya..”Namun kecintaan yang dalam kepada Atikah tidak menghalanginya untuk memenuhi panggilan Allah kala jihad dikumandangkan. Ada cinta di atas cinta. Ia tinggalkan isterinya dan berjuang hingga syahid. Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.

Hanzolah. Sahabat Rasulullah SAW. Pengantin baru. Malam pertama. Panggilan jihad berkumandang. Dan ia memenuhi panggilan itu hingga menggapai syahid, dalam keadaan masih junub. Dimandikan oleh para malaikat. Diabadikan dalam catatan sejarah kafilah para syuhada.Yaseen Al Jazairi. Pejuang dari Algeria . Syahid di Afghanistan pada tahun 1989. Akan menikah. Namun panggilan jihad di Afghanistan membuatnya rela menggadaikan tabungan pernikahannya untuk membeli tiket ke tanah jihad, Afghanistan , dan syahid di sana .

Mereka Dijemput Kematian
Menikah. Begitu banyak harapan yang manusia inginkan pada calon pasangannya. Harus begini dan begitu. Sebagai tanda kehati-hatian dalam memilih. Namun janganlah bergantung pada manusia, siapapun itu.. Karena manusia tetaplah manusia, yang jiwanya ada dalam genggaman-Nya.

Seorang ikhwan bertaaruf dengan seorang akhwat. Hari pernikahan sudah ditentukan. Kala sang akhwat usai membeli pakaian pernikahan bersama calon mertuanya, mobil yang mereka kendarai bertabrakan dengan sebuah truk. Sang akhwat meninggal dengan wajah hancur. Sang calon suami melepas kepergiannya di pemakaman dengan kesedihan yang mendalam. Ia berjanji tidak akan menikah, kecuali sampai tiga tahun lagi karena sangat sulit baginya untuk melupakan calon isteri. Masih sering teringat di benaknya ketika mereka bertaaruf, yang tentunya tidak berduaan, melainkan ditemani oleh teman-teman akhwat yang lainnya, beramai-ramai.

Kisah yang tak jauh berbeda. Ikhwan dan akhwat yang baru saja usai acara ijab qabul. Dalam resepsi pernikahan, sang akhwat meninggal dunia karena memang tengah sakit. Suaminya sangat berduka. Pun banyak kisah-kisah ikhwah yang kematian menjemput dikala pernikahan  sudah tinggal hitungan hari.

Penutup
Banyak manusia yang berangan muluk dan berhasrat dengan cinta yang memenuhi segenap jiwa, dan hari-harinya disibukkan oleh sang kekasih, hingga lalai pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi laa haula wala quwwata illa billah�, ternyata didahului takdir dan kematian merenggut nyawa.

Pernikahan menjadi moment yang paling dinanti oleh kebanyakan manusia di dunia dan semua orang seakan berlomba mengagungkan cinta. Tetapi diantara manusia-manusia itu, masih ada orang-orang yang rela meninggalkan apa yang didamba oleh kebanyakan manusia, demi sebuah cinta sejati dan kerinduan akan kehidupan yang abadi.

 * Artikel ini milik seorang akhwat yang ku upload [aku tlah meminta ijinnya untuk me-upload]dari http://muslim_watashiwa.blogs.friendster.com/dont_forget_to_allah_/2007/09/bisakah_aku_men.html

Semoga barakah artikelnya ukht…
jazakillah

Advertisements

8 thoughts on “[Copas] Bisakah aku menikah karena-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s