Perempuan Berkalung Sorban

Rating:
Category: Movies
Genre: Drama

Prolog…
semi-curhat dulu deh ceritanye..
Sore2 hari kamis menjelang malam jum’at..
di kostan sahabat di daerah cihampelas, tadinya niat mo jalan2 aja..
sang sahabat tersebut mengajak NONTON Perempuan Berkalung Sorban, mendadak! alias out of our daily planning that day..
sang sahabat tersebut kekeuh (baca:bersikeras.pen) NONTON Perempuan Berkalung Sorban HARI itu juga!
well, secara ditraktir alias gretongan jadi ya.. mau aja gitu… hehheeheh dasar pragmatis oportunis hehehe (kadang2 aja)

Overall film Perempuan Berkalung Sorban ini rada kontroversial (terlebih bukunya, gitu sih kata temen2 di blog lainnya),
rada menyudutkan Islam dengan sudut pandang satu kelompok pondokan saja (padahal ga semua pondok salafi seperti itu loh), rada vulgar dan nilai-nilai keislamannya rada maksain (sepertinya asal film ini bukan novel Islami tapi cuma latar belakang movie-nya aja orang-orang pesantren di Jawa timur).
tapi ceritanya lumayan me-reset mind orang2 yang menjadikan Kyai dan para pemimpin Pesantren sebagai acuan, padahal satu2nya acuan dan teladan adalah Rasulullah, hayoooo buat yang taqlid buta terhadap satu pemimpin ato golongan (Khususnya pesantren2 nehhh), mulai2 insyaf deh (mending yang diikutinnya bener gitu)
Yaaahh setiap orang boleh berpendapat (tentunya bertanggung jawab juga)…

The Review of that movie..
masih teringat skenario dialog seorang Anisa kecil yang protes karena tidak diperbolehkan belajar berkuda kepada ayahnya:
“Kenapa Perempuan ga boleh belajar berkuda abi? Sayyidah Aisyah dan Sahabiyah di Zaman Rasul saja boleh berkuda, berperang, kenapa nisa ga boleh?”
Abinya menjawab “Karena mereka bukan anak abi!!!”
halaaaahh piye toh ini Kyai bukannya mengacu pada murninya ajaran Rasulullah malah mengada2kan hukum sendiri…

The Review of that movie…
Film ini mengisahkan tentang seorang Anisa (Revalina S.Temat) sang Pembebas dan Pendobrak (izinkanlah saya menyebutnya demikian), seorang anak Kyai yang lahir dan dibesarkan dilingkungan Pesantren Salafi Al-Huda yang saklek menganggap buku-buku selain al-Qur’an dan Hadist itu menyimpang, haram (oowww.. kayaknya yang bikin fatwa ini bukan Muslim yang ngerti kalee ya).
di pesantren tersebut Anisa belajar bahwa Islam hanya membela laki-laki karena model pengajaran di pesantren itu yang dogmatis, menafsirkan ayat-ayat Qauliyah dan Hadits Nabi hanya dengan pandangan yang sempit dan lebih mengarah ke arah kultural, tanpa mengindahkan pemikiran-pemikiran Islam lain (apalagi pemikiran-pemikiran diluar Islam).

Anisa yang frontal, bebas dengan protes atas keadaan yang tidak seimbang itu selalu mendapatkan celaan atas protes-protesnya tersebut, dianggap menyimpang, membelot dll oleh hampir semua warga Al-Huda kecuali paman jauh Anisa, Khudori (Oka Antara), jadilah Khudori tersebut satu2nya orang tempat Anisa bercerita, berpendapat, berbagi dan “berlindung”, namun satu2nya tempat ternyaman Anisa ini ternyata pergi dari lingkungan Pesantren al-Huda untuk melanjutkan studi di Cairo.
tahun-tahun Anisa selanjutnya adalah tentang kepedihannya karena lose contact dari Khudori, lalu tidak diijinkan untuk kuliah di Jogja padahal beasiswa full teng huaaa kasiiian, terus dinikahkan dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang anak Kyai Pesantren terbesar di Jawa timur yang ENGGA bgt (kerjaannya mabok, kasar, ringan tangan, maen cewe wuahh ga ada Islami2nya dehh, ga ngejamin ya ANAK KYAI, bukan Rasul toh?), meskipun Anisa berontak atas perjodohan yang tidak melibatkan persetujuannya itu tetap saja pernikahannya terjadi hikss kasiiiaan :[
dikemudian hari Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda).

Suatu hari…. Khudori pulang dari Cairo!!
berpapasanlah mereka dengan tidak sengaja, Khudori merasa menyesal dan tidak mampu memaafkan dirinya karena telah membiarkan sepupu jauhnya yang tak lain adalah cintanya menikah dan menderita bukan bahagia, sediiiiihhhh bgtz!
pertemuan mereka tampak sangat menyakitkan karena keduanya masih saling mencintai (huaaaa sediih amat!)
Apakah yang akan terjadi? Menikahkah mereka pada akhirnya? bagaimana akhir kisahnya? bahagiakah atauh sebaliknya?
Saksikan di bioskop-bioskop terdekat tayang 15 Januari 2009

Pemain
– Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Ida Leman

Sutradara
– Hanung Bramantyo

Penulis
– Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor

Produser
– Hanung Bramantyo

Produksi
– Starvision

*^__^*

Advertisements

7 thoughts on “Perempuan Berkalung Sorban

  1. RASULLULAH MUHAMMAD

    Urusan berkelit, muslim jagonye… Heh heh… sape dulu dong junjungannye…
    Simak kisahnye…

    Mamad mempunyai seorang anak laki2. Namanya Zaid. Sebenarnya Zaid ini cuma anak angkat, tapi karena sejak kecil dia diperlakukan bak anak kandung oleh Mamad, Zaid pun gak sadar akan status sebenarnya.

    Bahkan setelah Zaid dewasa, Mamad mencarikan jodoh lalu menikahkan anaknya itu dg seorang wanita berparas cantik bernama Zainab. Zaid pun lalu memboyong istrinya itu tinggal serumah dengan dia dan Babehnya, Mamad.

    2 taon berlalu, Zaid dan Zainab dikaruniai anak laki2, yg oleh Mamad kakeknya, diberi nama Alley Shatree. Mamad sangat bahagia dg kehadiran cucunya ini.

    Seperti pagi2 sebelumnya, begitu bangun pagi, Kakek Mamad langsung beranjak dari kamarnya ke depan kamar si Zaid, hendak menimang cucu. Tapi pagi itu dia terkejut mendapati pintu kamar itu tertutup.
    “Aaalleeeeeyyy…???” panggil Mamad sambil mengetuk perlahan.
    “Alley nya lagi nenen, Kek!” sahut Zainab dari dalam. Mamad mulai ngiler. Otaknya yg cap Kepala Kelinci (play boy) bekerja cepat.
    “Lho babehnya si Alley mana, Nab?” tanya Mamad lagi.
    “Udah berangkat dari tadi setelah shalat subuh, Beh!”

    Merasa mendapat kes4an emas, Mamad masuk setengah paksa dan langsung menatap dalam2 cucunya yg lagi netek, plus tetek si Zaenab yg montok. Sambil nahan liur, tangan Mamad cepet2 menutup kembali pintu kamar tsb dari dalam.
    “Lho Beh, koq ditutup seh? Gak enak lho sama para pembantu…” protes Zainab.
    “Kasian si Alley, Nab, nanti masuk angin.” tukas Mamad gak mo kalah diplomasi, sambil beringsut duduk di pinggir ranjang kian merapat ke Zainab yg masih menyusui anaknya.
    “Duilleee… makin cakep aje cucuku ini…” siasat Mamad meredakan rasa kikuk Zainab, sambil mencolek pipi si Alley. Tak lupa nyenggol tetek Zainab ala qadar nya. “Persis emak lo…” Gile! Kali ini giliran pipi si Zainab yg dicolek.

    Dasar wanita, bukannya risih malah serasa melayang disanjung dedengkot, hilang kewaspadaan.
    “Aaahh… Babeh bise aje deh!” suara Zainab lirih sambil tertunduk beberapa saat. Kesempatan ini gak di-sia2in Mamat. Secepat kilat dan setengah maksa, mulut si Alley dilepas dari tetek emaknya, ganti Mamad yg nenen sekarang!

    Tiba2 “Plaaakkk!!” Pipi Mamad ditampar Zainab.
    “Dasar tua2 keladi! Udah bau tanah gak tau diri! Awas lo ya, gue ngadu ame laki gue ntar!” teriak Zainab. Para pembantu serta tetangga malah berdatangan ingin tau apa yg terjadi. Mamad pun ngacir kembali ke kamarnya, ngumpet.

    Tak lama kemudian, Zaid pulang. Didapatinya anak bininya sedang nangis.
    “Lho ada apa ini?” tanya Zaid, tapi gak dijawab ama Zainab. Zaid balik tanyain anaknya:
    “Nape nangis kamu, Ley?”
    “Huuu… huuu…Tetek emak bau jigong, Beh! Huuuu…” lapor Alley sambil nangis.
    Setelah mampu kendalikan emosi, Zainab pun melaporkan semuanya kepada suaminya. Tak lupa diberi bumbu penyedap.
    Zaid pun berang, lalu angkat parang! Pintu kamar Mamad di-gedor2.
    “Keluar kau, Beh! Kelakuan Babeh persis binatang! Dasar orang tua keparat! Tak tau diri! Cepat keluar biar kupancung palamu, Beeehh!” teriak Zaid histeris.

    Sadar kepepet, dari dalam kamarnya Mamad pun berkelit dg manisnya: “Relax, Man… tenang! Kasi gue kes4an! Sekarang coba lu nanya ke bini elo! Selama ini berapa kali gue mimi ame die? Baru sekali, Man! Se…ka…li…! Tapi elo ributnya sekampung! Sekarang coba jawab gue! Berapa kali elo mimi ame bini gue, hah? Jawab!”

    Reply
  2. fifi hasyim

    sy juga nulis ttg ini loh…hehe… nice film…meski sebenarnya cerita pesantrenx agak lebay, hmmm cz sy juga d pesantren, n ga begitu bgt jg, tp sy suka film ini.. 😀

    Reply
  3. nens seta

    aku gak tega nonton film itu sampai selesai…

    bener deh, lebih tega nonton film thriller yang penuh adegan2 penyiksaan fisik ketimbang liat film yang isinya penyiksaan batin….pake bawa2 agama pula, huafh….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s