If he’s NOT the one i want, he’ll be the one i need

NOTICE: Yang dituliskan disini, adalah hasil pemikiran makhluk dhaif yang belajar memaknai hidup, menikmati berbagai kejutan dan keajaiban dalam hidup lalu mencoba meramunya dalam tulisan. Semoga bermanfaat ^_^

 

Bismillahaahirrahmaanirrahiim…

If he’s not the one I want, may be he’ll be the one I need…

 

T-A-K-D-I-R.  Enam huruf yang akhir-akhir ini membuatku jungkir balik memikirkannya,

Aku tak pernah tau orang seperti apa kelak yang Tuhan takdirkan untukku,

Apakah dia seorang yang kukenal, mungkin salah satu dari temanku, atau seseorang yang sama sekali tak pernah aku kenal sebelumnya.

Siapapun itu, inginku… orang itu adalah orang yang menyukaiku dan aku sukai juga.

 

Paling tidak, ada hal yang berpotensi membangkitkan rasa itu, mungkin hal-hal yang irrasional seperti chemistry: sebuah rasa tak terdefinisikan diluar jangkauan fisik, materi, kepentingan, kedudukan dll.

Well, setiap orang punya taste, punya selera.

 

OK aku paham bahwa cinta mungkin berkembang seiring berjalannya waktu, karena kebiasaan, mungkin tumbuh dalam pernikahan itu, kata orang jawa sih: “witing tresno jalaran soko kulino”.

Apalagi aku adalah wanita, yang -menurut beberapa sahabatku- tidak memerlukan cinta untuk menikah, jika sang calon suami adalah orang yang baik dan sangat mencintai kita, katanya sih nanti kita –yang wanita ini- juga tumbuh cintanya. Baiklaaahhh.

Namun, bagaimana jika sang calon suami bukanlah orang sebaik dan secinta itu pada kita??

Jika pun dia baik tapi ternyata dia bukan pria yang sanggup meruntuhkan ego kelelakiannya untuk berusaha melumerkan hati kita hingga kita tak mampu mencintainya juga? Sedang dilain pihak kita juga tidak mempunyai perasaan khusus padanya?

Bagaimana kalau orang yang kita nikahi itu suatu hari setelah 10 tahun pernikahan, setelah memiliki 5 orang anak tetap tak mampu mencintai kita? Jadi selama ini ia hanya menggugurkan kewajibannya? Sebuah level terendah dalam menjalani sesuatu. “Dihamili tanpa cinta” kata seorang teman. Waw. Naudzubillaah.

Lalu bagaimana jika berharap akan seorang yang kita inginkan sedang dia tidak menginginkan kita? Pastinya akan sangat melelahkan sekali ya… Atau mungkin dia menginginkan kita juga tapi orang tuanya menentang? Atau ada suatu keadaan dimana tidak memungkinkan untuk bersama, misalnya ternyata dia adalah saudara kembar kita yang dipisahkan selama bertahun-tahun hahaaaa atau dia memiliki penyakit yang bisa membahayakan nyawa dan jiwa kita? Atau mungkin berbeda keyakinan dalam memandang sesuatu, sesuatu yang prinsipil?

Setiap orang yang memutuskan untuk menikah, pasti berharap bahwa pernikahan tersebut hanya akan terjadi satu kali dan berharap pernikahannya akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya,  tentu saja untuk menciptakan hidup yang bahagia mustilah dibarengi dengan keikhlasan dan kemantapan hati menjalaninya, hingga sakinah itu tercipta melalui mawaddah dalam membentuk kelompok inti pembangun peradaban yang mampu menyebarkan rahmat ke setiap penjuru bumi. Caelaahh ^_^

Proses perkenalan yang kita sebut dengan “ta’aruf” saat ini sudah dikenal oleh sebagian masyarakat muslim kita, sayangnya masih banyak yang tidak memperhatikan sisi manusiawi seperti perasaan suka dll, terlalu banyak yang menganggapnya enteng, hal remeh temeh yang tidak terlalu esensi untuk kategori pernikahan “Para Pejuang”. Bahkan dianggap sebagai suatu kesesatan oleh sebagian orang.

Tentu saja dengan catatan bahwa perasaan itu bukan nafsu semata, harus dibarengi dengan rasionalitas yang seimbang.

Padahal itu sangat  penting loh, bayangkan saja… setiap manusia ini memiliki hasrat pemenuhan biologis, sosial dan psikologis, bagaimana bisa ketiga aspek terpenuhi dengan baik jika pasangannya tidak mampu memenuhi ketiganya, mungkin hanya satu atau dua, padahal ketiganya butuh untuk dipenuhi. Maka dari itu seyogyanya ta’aruf ini menjadi sarana yang baik dan benar untuk mencocokkan dua kepribadian yang berbeda agar dapat berjalan beriringan saling melengkapi. Indahnyaaa hihiii ^_^

Rasulullah SAW sendiri telah menganjurkan adanya Nadzhar (melihat) dalam proses ta’aruf untuk mengukur tingkat kepuasan atas penerimaan calon suami terhadap calon istri, begitupun sebaliknya. Bukan sesuatu hal yang justru dihindari dengan alasan mengurangi keikhlasan dll. Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan sisi-sisi manusiawi.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memprovokasi pembaca agar mencintai lawan jenis secara bombastis, spektakuler, fenomenal hahaaahaaa (a.k.a naksir-naksiran ga jelas dan tidak bertanggung jawab sebelum pernikahan), tapi setidaknya, mempertimbangkan aspek yang satu ini.

Sungguh, tidak ada satupun orang didunia ini yang benar-benar sempurna sesuai dengan kriteria yang kita inginkan dan harapkan. Karena sampai matipun kita takkan pernah menemukannya. Pencarian itu hanya akan membuat jiwa kita lelah mencari seorang sempurna itu. Ini hanya sebuah bentuk usaha dari makhluk bernama manusia yang pasti bisa menilai sejauh mana  ia bisa menerima orang lain yang akan menjadi pasangannya dengan apa adanya, begitupun sebaliknya. Hey bukankah ini inti dari semuanya? menerima dan diterima apa adanya.

Hemmmmmm,,,,

Rabb telah mengingatkan bahwa bisa jadi apa yang kita sukai buruk untuk kita, dan bisa jadi apa yang kita benci itu baik bagi kita.

Namun, salahkah jika berharap agar ada satu orang saja yang menyanyangi kita dan kita pun menyayanginya? Memiliki perasaan yang sama seperti yang kita rasakan padanya? Seseorang yang tepat pada waktu yang tepat, terbaik untuk kita, dan kita mengetahuinya dari sejak awal, bukan harus mengetahuinya belakangan?

Huuuummmm mencintai dengan tulus. Melihat kita sebagai wanita yang berharga untuk dijaga. Tidak selalu berbau kepentingan. Satu saja. Semoga  bukan keinginan yang muluk-muluk ya Rabb…

Hummmmmm…. Bisakah tahu dari awal kalau orang itu baik atau buruk bagi kita?  

[Hehehe teteeep aja nih baong]

Baiklah jika seorang itu bukan seseorang yang kita inginkan, mungkin dia adalah seseorang yang kita butuhkan, dan kita hanya perlu mempercayai bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, kita akan mengetahuinya cepat atau lambat 🙂

Saat ini, yang perlu kulakukan adalah terus memperbaiki diri, agar pada saatnya nanti seseorang itupun akan merasa menemukan seorang sosok terbaik dari kita (The Best Of Us)

Tidak ada yang sejati disini, hanya berupaya menjadikan yang tidak sejati ini ke jalan sejati milik-Nya.

Umar RA berkata: tidak ada kebahagiaan sejati sampai kita melangkahkan kaki di Syurga…  sooooo idealist 🙂

Finally, I believe that whether he’s not the one I want, may be he’ll be the one I need…

He must be the best man I would have, and I will be the best woman he would find at last

All I can do is believe…

On the day I realize that: No Body gets too much. That’s it.

Senja yang terang – Menjelang fajar

Bandung, 17-18 Mei 2009

Kamar ‘gudang’ yang belum sempat kubereskan

 ^_^

cinderellanty

 

 

Advertisements

23 thoughts on “If he’s NOT the one i want, he’ll be the one i need

  1. catur Bentengcatur...

    wah, diketik dari bulan lalu, tp baru publish bulan ini.
    diterima dan menerima apa adanya mungkin memang intinya. entah juga apakah itu memang intinya, karena sy pun belum melaluinya.

    saat ini sedang menyerahkan pada Alloh sepenuhnya.

    biar Alloh yg memberikan jalannya

    Reply
  2. Ar Rifa'ah

    Yah… takdir tentang 'itu' memang sesuatu yang unik, penuh dengan teka-teki padahal telah tertulis dengan jelas bahkan 50ribu tahun sebelum bumi dicipta.

    Seorang akhwat sehabis mengkuti ta'lim sakinah pernah berkata, bahwa dalam pernikahan yang paling dibutuhkan sebenarnya bukanlah cinta (dalam hal ini mungkin maksudnya cinta yang terbatas pada romantisme yang berbunga-bunga, dll.), tapi kesabaran. Kesabaran untuk menerima pasangan apa adanya sebagai rangakain dari takdir Allah yang telah ditetapkan atas diri ini, kesabaran untuk melalui tiap detik dengan berbagai problematikanya, dan kesebaran lainnya yang akan teruji dalam kehidupan pernikahan. Apakah rasa cinta akan serta merta melahirkan kesabaran itu? Entahlah…

    (maap yah, agak sok tau…—> pengakuan jujur seorang 'singel'

    Reply
  3. Umm Nusaybah

    setuju sekali ama tulisannya sis..alhamdulilllah luckily I have found the soulmate I yearn for who loves me the way I am but it takes time and patience to understand between us….btw ta'aruf saya bilang 90 persen puuenting dan faktor penentu kesuksesan pernikahan

    Reply
  4. Cinderellanty Chan

    iya nih, comments yg di post sm tmn2 via email mau ku publish juga ka, mau nyumbang komen yg panjang? heueheu^^
    ciyeeee.. iya hanya Allah yg tau yg terbaik untukmu ka^^ fate will find a way ka (eiffel??? hohooo)

    Reply
  5. Bamu dua sembilan

    Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun,
    Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa,
    Dan jikalau itu tiada,
    Cinta takkan tercipta, dalam hitungan tahun, bahkan millenia.
    (Kahlil Gibran)

    Reply
  6. may poshu

    numpang liwat and numpang comment

    Ada juga lho akhwat yang mensyaratkan sang ikhwan harus satu organisasi (pergerakan) ma beliau. Katanya sih biar lebih cocok, biar lebih satu visi, biar lebih konek, dan lain-lain. Akhirnya sang ikhawan membiarkan sang akhwat memilih ikhwan lainnya yang lebih cocok.

    Bukankah untuk menikah, tidak perlu persyaratan (yang memberatkan)? Harusnya dipermudah. Jika dalam proses (ta'aruf) sudah mendapatkan kesan gak menyukai atau tidak cocok, tolak saja tanpa perlu persyaratan lainnya.
    CMIIW

    Reply
  7. Cinderellanty Chan

    syukran for comment… 🙂 tiap orang prinsip dan nilai yang dipahaminya beda pak… jadi mungkin semua kembali pada pemahaman masing2 pihak… betull… memang tidak boleh memberatkan dengan catatan prinsip aqidah dan hal2 prinsipil lainnya serta hal prioritas terpenuhi…. waallaahu a'lam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s