Kabar Gembira bagi yang lagi didatengin Sailormoon: Hukum I’tikaf bagi wanita haid

Bismillaah..

Ramadhan kariim, 10 hari terakhir yang biasa kita optimalkan dengan i’tikaf untuk taqarrub ilallaah demi berburu karunia Allah berupa malam lailatul Qadr. Untuk Muslimah yang didatangi sailormoon tentu sedikit-banyak akan sedih mengingat banyak amalan yang tidak bisa dilakukannya.

Apakah Muslimah yang haid diperbolehan i’tikaf (berdiam diri di Masjid)?
Berikut ini penjelasan mengenai hukum i’tikaf bagi wanita haid.

Anty copaskan artikel dari sumber (insya Allah) terpercaya yang menyatakan bahwa i’tikaf bagi muslimah yang sedang haid itu boleh loohhh.. hanya saja content ibadahnya yang rada berubah dari bidadari yang ga kena halangan..
cekidot yaaaa…

1. Pertanyaan A:

Bagaimana hukumnya wanita yang sedang haid menghadiri kajian yang dilakukan di masjid. Apakah hal ini dibolehkan? Jazzakumullah atas jawabannya.

Jawabannya:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun, menurut pendapat yang shahih wanita yang sedang haidh boleh masuk masjid untuk mengikuti kajian.

Adapun hadits yang bunyinya ” Saya tidak halalkan masjid bagi wanita haidh dan orang junub” maka hadits dhaif jiddan menurut para peneliti.

*sumber: http://media-ilmu.com/?p=187


2. Pertanyaan B

Assalamualaikum
Ustd Abdl Hadrami yang saya cintai karena Allah

saya mau tanya tentang hukum wanita haid memasuki mesjid dan apa saja yang tidak diperbolehkan atasnya?

Jawaban:

Wa’alaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat, amma ba’du;

Saudaraku–Barokalloh fiik,

Hukum Wanita Haid Masuk dan Berdiam Diri Dalam Masjid

Hanya ada empat larangan atas wanita haid yang telah disepakati para Ulama’ dan tidak ada khilaf diantara mereka dalam keempat larangan tersebut, yaitu:


1. Shalat.
2. Shoum (puasa).
3. Thawaf di Ka’bah.
4. Jima’ di farji (kemaluan).

Hanya empat larangan itu saja yang disepakati, adapun yang lainnya maka terjadi perbedaan pendapat, termasuk tentang hukum wanita haid masuk dan menetap di dalam masjid.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah membahas masalah ini panjang lebar dan memuaskan dalam kitabnya “JAMI’ AHKAAMIN NISAA’ “ Jilid 1 Dari Halaman 191 Sampai Halaman 198.

Ringkasnya,
Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) mengatakan bahwa tidak ada satupun dalil yang sahih (sanadnya) dan sharih (secara jelas dan terang) melarang seorang wanita yang sedang haid masuk ke dalam masjid, karena inilah beliau merajihkan pendapat yang membolehkannya.

Dalil yang Membolehkan:

1. Al-Bara’ah Al-‘Ashliyyah, maksudnya seseorang itu pada asalnya adalah terbebas dari larangan selama tidak adanya larangan tersebut.

2. Pada masa Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam terdapat seorang wanita kulit hitam yang biasa membersihkan masjid, tinggal di dalam masjid. Tidak ada keterangan bahwa Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam memerintahkan kepadanya untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya. (HR. Bukhari).

3. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada ibunda ‘Aisyah -Radhiallahu ‘Anha ketika beliau datang bulan (haid) sewaktu melaksanakan ibadah haji bersama beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yang berhaji kecuali jangan engkau Thawaf di Ka’bah.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam hanya melarang wanita haid (Ibunda Aisyah –Radhiallahu ‘Anha) thawaf di Ka’bah dan tidak melarangnya untuk masuk ke masjid.

4. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. ‘Atha’ bin Yasar -Rahimahullah berkata : “Aku melihat beberapa orang dari sahabat Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam duduk di dalam masjid dalam keadaan mereka junub apabila mereka telah berwudhu seperti wudhu shalat.” (Diriwayatkan Said bin Manshur dalam Sunan-nya dengan sanad hasan).

Sebagian ulama meng-qias-kan (menganalogkan) wanita haid dengan orang junub.

Juga mereka berdalil dengan keberadaan Ahli Shuffah yang bermalam di masjid dan tentunya pasti ada yang mimpi basah ketika dalam keadaan tidur. Demikian pula bermalamnya orang-orang yang i’tikaf di masjid, tidak menutup kemungkinan di antara mereka ada yang mimpi basah hingga terkena janabah dan di antara wanita yang i’tikaf ada pula yang haid.

6. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada Ibunda ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha: “Ambilkan untukku Al-Khumrah (sajadah) dari dalam masjid.” Ibunda ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha menjawab: “Sesungguhnya aku dalam keadaan haid.” Lalu bersabda Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim).
Dalam hadis ini Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam membolehkan wanita haid untuk masuk ke dalam masjid.

Adapun hadis yang berbunyi: “Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang junub dan tidak pula bagi wanita haid.” Maka hadits ini adalah DHA’IF (lemah) kerana ada seorang perawi yang bernama Jasrah bintu Dajaajah.

Setelah Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) membawakan dalil-dalil yang melarang secara panjang lebar, Beliau mengatakan: “Pada akhirnya kami memandang tidak ada dalil yang shahih dan sharih (yang tegas dan jelas) melarang wanita haid masuk ke masjid, dan berdasarkan hal itu boleh bagi wanita haid masuk masjid dan berdiam di dalamnya.” (1/195-196)

Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) juga menukil ucapan Asy-Syaukani –Rahimahullah dalam kitabnya “NAILUL AUTHAR (1/230)”: “Dan yang berpendapat tentang bolehnya wanita haid masuk masjid dan bahwasanya dia tidak dilarang kecuali apabila dikhawatirkan apa yang terjadi daripadanya (maksudnya, apabila dikhawatirkan darahnya akan mengotori masjid) adalah Zaid bin Tsabit –Radhiallahu ‘Anhu, dan Al-Khaththabi menyebutkan bahwa ini juga pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ahlu Dhahir. Adapun yang melarang adalah Sufyan, Ashhabur Ra’yi dan yang masyhur dari madzhab Malik.”

Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) mengatakan pada bagian akhir pembahasannya dalam masalah ini yang panjang lebar (1/198): “Setelah dilakukan penelitian, menjadi jelas bahwasanya tidak ada dalil sahih yang melarang wanita haid masuk ke dalam masjid. Oleh karena itulah, maka boleh baginya untuk masuk ke dalam masjid. Wabillaahit Taufiiq.”

PENTING!!!
Wajib atas setiap muslim untuk bersatu, menghormati dan menghargai saudaranya sesama muslim, juga berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat seperti ini. Masalah ini adalah masalah furu’iyyah (cabang agama) dan bukan masalah ushuliyyah (pokok dan prinsip dasar agama), oleh sebab itu janganlah masalah ini dijadikan sebagai bahan perpecahan diantara kaum muslimin. Hendaklah masing-masing mengamalkan keyakinannya selama hal itu dilakukan atas dasar ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah karena berilmu adalah wajib sebelum berucap dan berbuat. Semoga Bermanfaat.


Sumber: tulisan dari sini
Foto dari sini

Referensi lain: http://muslimah.or.id/fikih/hukum-seputar-darah-wanita-haid.html

Advertisements

14 thoughts on “Kabar Gembira bagi yang lagi didatengin Sailormoon: Hukum I’tikaf bagi wanita haid

  1. Cinderellanty Chan

    ayooo,,, let's i'tikaf meskipun sedang halangan, alhamdulillah skrng2 banyak mesjid yang mengadakan dan memfasilitasi tempat khusus bagi wanita yg sednag haid untuk itikaf, misalnya diselasar mesjid dll 🙂

    Reply
  2. Iwan Yuliyanto

    Yang saya yakini termasuk wanita dilarang menyentuh Al-Qur'an dalam keadaan haid; dengan berzikir dengan memperbanyak membaca tasbih, tahmid, istighfar dan tahlil, itu sudah cukup sebagai ibadah bagi wanita yg sedang haid.

    Reply
  3. Cinderellanty Chan

    oooh gituuu
    kalo dalam hal ini saya megang yang boleh mas
    karena tafsir alquran ttg orang suci itu = malaikat
    terus jaman dulu para istri dan sahabat ttp membaca qur'an karena belum dibentuk mushaf (mushaf kan mulainya pas khalifah umar kalo nda salah) hehehe

    gpp kan yah beda, ikhtiar para ulama tentu ada dasarnya 🙂

    Reply
  4. Iwan Yuliyanto

    Beda ya jelas gak papa, mbak Anty, malah makin memperkaya khasanah ilmu 🙂

    Memang gak ada dalil yang menguatkan untuk masing-masing perbedaan pendapat itu. Maksudku, hadits-hadits yg menyatakan larangan atau membolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al-Qur'an itu masih diragukan ke-shahih-annya, nahh… jika hadits-hadits tsb bukan hadits-hadits shahih, maka hadits-hadits tsb gak bisa dijadikan hujjah untuk melarang atau membolehkan wanita haid membaca Al-Qur'an, TAPI… ada tapinya nih… adanya perbedaan pendapat (berdasarkan periwayatan & penafsiran hadits-hadits) seperti ini menjadikan adanya SYUBHAT. Bukankah Rasulullah SAW pernah berpesan, “kalo ragu-ragu sebaiknya ditinggalkan”. Maka berdasarkan inilah saya lebih memilih keyakinan bahwa yg lebih utama bagi seorang wanita haid adalah untuk tidak membaca Al-Qur'an kecuali jika hal itu dibutuhkan dalam kondisi darurat, misalnya seorang guru wanita atau seorang pelajar putri yg menghadapi ujian sekolah yang berhubungan dengan Al-Qur'an, atau kondisi darurat lainnya saat sedang berdiskusi (dalam rangka berdakwah) karena dakwah jangan sampai terhenti hanya karena alasan haid 🙂

    Namun demikian ini bukan masalah ushuliyyah kok, justru sebuah masalah untuk membuat kita belajar bagaimana mengambil kebijakan untuk sebuah keyakinan.

    Reply
  5. Iwan Yuliyanto

    Itulah hikmahnya ber-ikhtiar.
    Untuk soal i'tikaf bagi wanita yang didatengin sailormoon, saya sependapat dengan postingan mbak Anty di atas, siapa sih yang tidak ingin mendapatkan ganjaran lailatul qodar? semuanya berhak untuk mengejar dan menjemputnya, tentunya dengan sikap (adab) yang baik.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s