Pelangi dijalanku… [sebuah warna rasa]


Prolog:
Sekitar satu tahun yang lalu, seorang Ardian Perdana Putra Sang Aktivis Salman mengajakku untuk gabung bikin
Proyek Buku Kampung Bocah Part II: sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan tentang ukhuwah bersama aktivis Salman dan anak-anak FSLDK se-Indonesia, buku Kampung Bocah sequel pertamanya udah terbit, berisi kumpulan tulisan anak-anak Salman aja…

Setahun berselang…

Tulisan untuk kampung bocah ini belum terbit juga, kendalanya karena pengurusnya pada sibuk kegiatan lain, pada nikah, dll ck...ck…  tadinya mah ga akan kupublish di blog yang ini, karena emang niatnya buat projek buku Kampung Bocah itu ajah… hehee berhubung belom ada kejelasan nasib Buku Kampung Bocah II ituuuuuhhh, maka aku putuskan untuk posting tulisanku disini aja deeh… lumayan semoga bermanfaat  ^____^

Happy Reading!!
Cekidooottttt…

Pelangi
Miranty Januaresty*


Tiba-tiba aku terjaga malam itu, kucubit pipiku…
“awww… sakit” ringisku.
Alhamdulillaah aku masih hidup! Allah masih memberikanku kesempatan (entah untuk keberapa kalinya) berbekal amal baik dan mengizinkanku memperbaiki diri, hingga saat Ia menjemput… aku berada dalam keadaan terbaik , dalam keadaan mencintai dan dicintai oleh-Nya. Terimakasih Allah.   
Alhamdulillaahilladziii, ahyanaa ba’damaa amaatanaa wailaihinnusyuur.

Akhir-akhir ini, aku berpikir keras, bilakah waktuku akan tiba? Waktu Ia memanggilku? Aaah namun pemikiran itu belum berbanding lurus dengan persiapanku menjelangnya.
Naifnya diri ini.

Rabb, jika boleh aku meminta.. aku ingin Kau jemput dalam keadaan Kau cintai ditengah orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Keluarga dan saudara-saudaraku seiman. Betapa indahnya. Amin, Allaahumma Amiin.

Aku telah dididik dalam nuansa pendidikan agama sejak kecil. Pagi sekolah di Madrasah, siang di sekolah Diniyah, malam mengaji kitab kuning. Pun ketika beranjak SMP, saat aku menjadi santriwati di salah satu Pondok Modern di Sukabumi. Dari kecil itu pula, kata ukhuwah tidak lagi asing bagi ku. Tapi tak pernah sekalipun aku memahami dan menjiwai kata ukhuwah tersebut. Sepertinya kata itu hanya ada pada masa Rasulullah hidup, hanya sebagai kata pelengkap kosa kata bahasa Arab yang kupelajari. Tidak ada spirit yang kurasakan dari kata-kata itu.

Hingga saat kuliah tiba, aku menemukan sebuah komunitas unik dimana para lelakinya (rata-rata) berjanggut, bertitik-titik hitam di jidatnya, celana mereka ngatung, jika berbicara menunduk dan berhijab, dan yang pasti… ehmm mereka keren (cakep-cakep juga hohooo…) dikemudian hari aku mengenal mereka dengan panggilan ikhwan.  Para wanitanya berjilbab lebar, selalu ramah, murah tersenyum, selalu bersalaman ketika bertemu. Aku mencoba menghampiri mereka, dan.. mereka sangat menyambutku dengan hangat, hangat sekali. Kelak, aku menyebut mereka sebagai akhwat. (diawal mengenal mereka, aku masih belibet mengucapkan kosa kata baru ini, ikhwat, ikhwit, akhwit, akhwin, akhwan,  ato bakwan heheheh).

Setelah hari itu.. aku merasa nyaman selalu berdekatan dengan mereka, bisa merasa betah berada seharian di Masjid, entah itu ada kegiatan, rapat, ta’lim dll (kawan, tahukah bahwa baru kali ini aku rela diceramahi dan berlama-lama di Mesjid, hohoo… Dulu? Uhhh… terpaksa). Hobi mereka adalah memekikkan takbir. Jujur.. pertama kali melihat mereka bertakbir, my mind said: ga ada keren-kerennya hehehe. Namun entah kekuatan magis apa yang mereka punya, sehingga mampu membuat seseorang berkepala batu sepertiku menjadi luluh dan lumer. Haaahhh… mungkin ini energy dari kosa kata itu; ukhuwah fillah wa lillah! Dari sana aku belajar mengenal mentoring, Liqo’, tarbiyah, ta’lim, dakwah, jihad, daurah dll. Dari sana pula aku memaknai syahadat dan keislamanku kembali. Ajaibnya, aku justru ketagihan dengan semua itu TANPA paksaan seperti masa kecil dahulu ketika aku belajar agama.

Tahun-tahun kuliah pun berganti, ukhuwah itu tetap indah dengan warna-warninya. Tetap nikmat meski dengan berjuta rasa, yang tidak selalu manis.
Bagiku mereka (para ikhwan dan akhwat itu) adalah keluarga kedua. Kenangan bersama mereka indah tak terperi. Diantara mereka ada beberapa orang spesial di hatiku.

Ada Ibu Peri yang selalu menjadi Ibu kedua sekaligus kakakku yang sabarnya seluas lautan, menghadapi seorang ‘aku’ yang ‘aneh’, Ibu Peri yang menjadi penopang ketika rapuh, yang mengajarkanku banyak hal tentang syukur dan sabar secara riil, dalam praktek, bukan sekedar teori. Kami saling menasehati dalam kebaikan (kebanyakan beliau yang menasehatiku), saling mencintai persis Ibu dan anaknya. Darinya aku belajar hidup sederhana dan belajar berzuhud. Pernah suatu ketika uang saku kami sudah menipis, kami harus mensiasati itu semua dengan cara yang sehat tapi murah, karena tahu Mie Instan itu tidak baik dikonsumsi secara terus-menerus maka kami menjadikan QO (Quaker Oat) sebagai solusi terbaik untuk mengganti kebutuhan kami akan karbohidrat dan nutrisi lainnya (solusi baru buat anak kost kere nih… tahan satu bulan, bisa asin bisa juga manis tergantung selera kita hehehe). Lucunya saat-saat itu. 

Ada pula Bu DeCe yang mempercayaiku ketika semua meragukan, yang menjadikanku sebagai seorang qiyadah dalam hajat besar tahunan kami di Keputrian, yang yakin terhadapku bahwa aku bisa berubah menjadi akhwat tangguh, dewasa dan bermanfaat, yang rela meminjamkan bahunya untukku, yang rela menjadi ‘tong sampah’ku, yang rela mengajariku banyak hal, yang rela mengantarku keliling Jakarta seharian penuh untuk mencari data-data dan mengejar interview skripsi, yang selalu tersenyum untukku, mengalah untukku, hmm.. rindu sekali.

Ada Mbil yang gembil alias chubby, galak, cadas, teman sesama gila dan aneh, selalu jadi saingan, selalu berseteru, jarang akur, tapi dia yang mengerti diri ini dan selalu kurindukan. Mbil yang menerimaku apa adanya. Tak jarang aku merasa iri dengan amal-amal dakwahnya yang luar biasa (Ampuni aku yaa… Rabb). Mbil, maafkan kekuranganku yang belum mampu mempersembahkan tafahum sebagai hadiah ukhuwah terindah untukmu. Mbil yang selalu harokiy, akhwat rocker yang ghirah dakwahnya selalu menginspirasi, darinya kubelajar banyak tentang Dakwah Kampus.

Terakhir dari yang terspesial.. ada Pejuang al-Qur’an, sahabatku, guruku, teman seperjuanganku, orang yang seandainya saja dia adalah ikhwan, akan aku nikahi hihiii ^___^. Ia adalah ‘Sayyid Quthb-ku’ yang bersamanya aku belajar membiasakan diri shalat tepat waktu, menghafal Qur’an, diskusi tentang Islam, dakwah, tarbiyah, fiqih, sejarah, buku hingga hal-hal lucu yang tak penting.
Ada kejadian yang takkan pernah aku lupakan. Sekitar setengah tahun yang lalu, ketika tengah mengerjakan skripsi, daya tahan tubuhku drop, aku sakit (dengan berbagai macam penyakit). Entah kenapa aku tak ingin diperiksa dokter dan hanya ingin dirawat oleh Sang Pejuang Al-Qur’an dikamarnya, alhasil aku (pasti sangat) merepotkannya. Seolah menjelang ajal, sungguh aku lemah sekali dan sudah berpasrah terhadap apapun yang akan terjadi, Sang Pejuang Al-Qur’an begitu sabar mengurusku, membelikan bubur untukku, menyuapiku, meminumkan obat untukku, menjagaku, mendo’akanku, bertilawah di dekatku, hingga yang membuatku terharu adalah ketika ia menitikkan air matanya saat melihatku mengerang kesakitan (tapi Sang Pejuang Al-Qur’an tidak mau mengaku kalau dia menangis melihat kondisiku yang mengkhawatirkan), sehingga suatu hari ternyata skenario hidupku tidak berhenti di episode itu. Allah menyembuhkanku. Alhamdulillaaah… alangkah indahnya saat-saat itu.

Seperti apapun kondisi saat ini, mereka takkan pernah tergantikan. Sungguh sulit mendefinisikan ukhuwah dengan kata pengganti yang lebih indah dari kata cinta untuk mereka, yang kutahu aku belajar banyak hal dari mereka tentang ketulusan, pengorbanan, keikhlasan, kebaikan, kesabaran, tentang cinta, tentang memberi, tentang hidup, tentang Islam, dakwah, tarbiyah dan ukhuwah.
Saat ini seorang Miranty, telah memahami bahwa ukhuwah islamiyah bukan sekedar kosa kata biasa. Bahwa ukhuwah islamiyah itu sesuatu yang ril, sebuah ikatan hati agung karena Allah dan Iman. Sesuatu yang berwarna-warni seindah pelangi, berbeda namun indah, Indah tak terperi.

Rabb.. jagalah mereka yang berusaha menemukan cinta-Mu melalui saudara-saudaranya, terangilah jalan bagi mereka yang berharap akan cahaya dari-Mu. Kokohkanlah ikatannya, mohon pertemukan dan kumpulkan kami di jannah-Mu kelak bersama Rasulullah, para sahabat, keluarga dan para Pejuang al-Qur’an yang lain. Amiin.


Ya Muqallibal quluub tsabbit quluubanaa alaa diinik, Ya Muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa alaa thaa’atik
Rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idzhadaitanaa wahablana min ladunka rahmah innaka antal wahhaab…

Gelombang kehidupan kan terus menghantam, kedepan kan semakin banyak tantangan
Lalu, mungkinkah Allah dan Rasulullah terlupakan?
Kita buktikan “idealisme takkan pernah tergadaikan”
Ukhti, bersama kita ukir peradaban
(Pejuang al-Qur’an on January 2008)

The picture is taken from: http://tiarrahman.multiply.com/photos/album/58#photo=2
=> tengkiiuu mas


Ukhuwah memang tak selalu putih, namun ia pun tak selalu hitam, ia bukanlah satu hal yang ekstrim berada pada satu gradasi warna, ia bisa jingga, merah, kuning, biru, ungu dll… tidak selalu indah dalam pandangan setiap orang, karena setiap orang memiliki warna kesukaannya masing-masing…
tapi ia tetap indah dilangit cinta-Nya… meski berbeda… meski suka atau tidak.
wallaahua’lam bish shawaaab…

Menjelang fajar, Maret 2009

al-faaqirah ilaa ‘afwi Rabbihaa
*Penulis adalah tukang corat coret di http//:www.cinderellazty.multiply.com

Advertisements

46 thoughts on “Pelangi dijalanku… [sebuah warna rasa]

  1. Mon Mon

    Subhanallah.. Anty, tulisannya bagus sekali. Diri ini jadi malu karena kadang suka lupa dengan adanya ukhuwah islamiah.. terima kasih sudah mengingatkan yaa. jangan pernah bosan mengingatkan 😀 semangat, Anty! gelombang kehidupan itulah yang akan membuat seorang anak manusia menjadi sekuat baja.

    Reply
  2. :: Teruskan Perjuangan ::

    Tulisan yg menggugah…..
    terkadang kita terlupa, ukhuwah mungkin diwarnai noda warna merah, biru, kuning, pink atau mungkin juga warna abu-abu. Sahabatku, tapi jangan lupa untuk kembali mengubah warna persahabatan menjadi putih

    untuk para sahabatku….aku ingin mengatakan :
    Bersama kalianlah aku merasakan indahnya persahabatan. Bersama kalianlah aku merasa hidupku begitu bahagia. Terimakasih telah mengenalkan indahnya ukhuwah kepadaku. Mengenalmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah kesempatan, dan menjadi saudara seaqidah denganmu adalah kebahagiaan. Semoga Allah tetap menyatukan hati-hati hambanya dalam ridhonya

    Reply
  3. nens seta

    sepakat….ukhuwah memang seperti pelangi…

    sudah saatnya kita berjuang maksimal demi masa depan kita dan ukhuwah ini…

    hingga suatu saat nanti, keputusan syuronya dapat merubah nasib bangsa ini^^

    AYO!!!! SEMANGAT PARA PENCARI MIMPI!!!!

    Reply
  4. Cinderellanty Chan

    sipsip nens… keputusan syoro sapa nens??? kita yg memutuskan bagaimana nasib bangsa inih looohh :p mungkin kamu nanti yg ada disana bukan mereka… skenario lain didepan.. kita gak tau :p

    Reply
  5. Mip2 _

    ukhuwah itu seperti candu nty, selalu dikangenin…
    ukhuwah itu seperti aura, yang ketika kita melihat aura tersebut pada diri seseorang, maka kita seakan terpaut dengannya…
    dan yg terakhir ukhuwah itu cinta, cinta yang berlandaskan cinta pada Allah, yang pada nanti di yaumul mahsyar akan menaungi para pecinta tersebut…

    hehe…

    Reply
  6. zarah sera

    Udah sampai rumah..
    Komen ah,

    dan tahukah kamu..
    Ada lagi yg ajaib dari ukhuwah..
    Ukhuwah itu begitu kuat menembus batas,..hingga,seperti saat bertemu anty pertama kali ku bisa merasakannya,hayyah
    😀
    ku tak menyangka awalnya hanya maya aja..eh eh..Nyata qta ketemu berkali-kali ya sayy^^

    Yg pasti ukhuwah adalah buah dari iman..
    Bergetar hati ini saat melihat wajah2 berseri,walau ku tak kenal..ikhwah..walaupun baru bertemu sekali..tapi..sensasinya saudara selamanya..

    Reply
  7. ario fanie

    bagus2 postingannya..two thumbs up, mengingatkan klo banyak orang2 di sekitar yg banyak mendukung dan support…walaupun sesulit apapun,selalu ada pertolongan…ukhuwah never diess

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s