[3] Akhir Cinta yang Tak Mudah

Jodoh adalah misteri takdir Ilahi yang siapapun tak bisa mencuri jawabannya dari Lauhul Mahfudz. Kisah ini merupakan salah satu cerita hikmah tentang perjalanan panjang seorang Nina menemukan jodohnya, berawal dari gosip tentangnya dengan seorang teman kelasnya bernama Adit,  gosip itu muncul karena teman-teman satu angkatan mereka menilai bahwa Adit sepertinya memiliki ketertarikan khusus terhadap Nina dan mereka dianggap akan sangat cocok sebagai pasangan suami-istri mengingat mereka adalah dua makhluk unik yang berada dalam kelas, jurusan, fakultas, kampus dan organisasi keislaman yang sama.

Teman-teman kelasnya “seolah” menginginkan mereka untuk bersama, hingga terdengarlah gosip tidak sedap mengenai Nina dan Adit akibat guyonan-guyonan tersebut, teman-teman sekelas tidak mengerti bahwa guyonan itu akan membawa petaka bagi Adit dan Nina di lingkungan organisasi kerohanian Islam tingkat kampus.


Witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah pepatah jawa, terbiasa dengan guyonan teman-teman sekelasnya, mengantarkan Adit pada sebuah tanya “Adakah sebenarnya perasaan dalam hati Nina untuknya???”. Pertanyaan tersebut disimpulkan secara sepihak oleh Nina sebagai bukti kebenaran gosip itu, pertanyaan itu pula yang akhirnya membuat Nina “menolak Adit” dan membuat hubungan mereka sebagai saudara dan teman sekelas merenggang.

Adit menikah pada tahun 2007 dengan seorang muslimah shalihah yang disangka teman-teman sekelasnya adalah Nina.


—Ini adalah kelanjutan dari cerita yang sudah lebih dari 2 tahun lalu kutulis, aku menunggu ending kisah ini, karena ceritanya adalah kisah nyata—


Sejak tahun 2007, Adit hidup bahagia
di kota tempatnya bekerja bersama istri dan bayinya yang baru lahir dengan sehat dan selamat. Sementara di belahan bumi lainnya, Nina bergelut dengan aktifitasnya setelah menyelesaikan kuliah dan bergelar Sarjana Teknik. Nina masih sendiri. Bukan karena Adit, sama sekali bukan. Beberapa kali Nina melakukan proses ta’aruf (perkenalan sebelum menikah) dengan berbagai pria mulai dari preman –menuju— insyaf hingga “level ustadz”, tapi mungkin karena belum berjodoh, ta’aruf selalu kandas… das… das.

Tak satupun mulus dan berhasil. Bermacam-macam alasannya, mulai dari restu keluarga, waktu yang tidak tepat, perbedaan prinsip, ketidakcocokan dll. Semua peluang jodoh berasal dari beraneka jalan, lewat kakak, adik, teman, saudara, dll tapi tidak pernah sekalipun melalui guru ngaji di tempat Nina menimba ilmu agama (ini yang seringkali membuat hatiku geram, Sang guru ngaji kurang peka dalam hal perjodohan anak binaannya ), sementara bulan demi bulan, tahun demi tahun, satu per satu junior Nina mendahuluinya menggenapkan setengah Dien , aku mengerti bagaimana tidak enaknya berada dalam posisi itu. Bukan karena tidak bahagia melihat saudari-saudarinya yang lain meretas cinta di jalan Ilahi dengan jodohnya masing-masing, ini karena masalah classic perempuan yang membudaya dan sulit dihilangkan meski dengan tingkat intelektual yang tinggi sekalipun. Orang sunda menyebutnya dengan istilah ‘ngarunghal’ yaitu melangkahi seorang kakak dalam menikah.

Nina seorang aktifis islam yang kepribadiannya sangat mencerminkan akhlak yang baik
seorang muslimah, hal itu membuat dirinya menjadi “magnet” bagi orang-orang disekitarnya, taat tapi tidak kaku, berwibawa tapi orang-orang tak merasa sungkan, lembut tapi kuat, ceria tapi pada tempatnya, intinya Nina sangat shalihah. Aku merasa beruntung dan bersyukur dipertemukan dengannya dan menjadi adik angkatnya.


Suatu sore seorang
  atasan (sebut saja Pak Ahmad) di tempatnya bekerja, menawarkan Nina untuk dijodohkan dengan binaannya yang shalih dan berkomitmen tinggi pada dakwah Islam (sebut saja Mas Didi). Beberapa hari kemudian dibulan Agustus, sebuah proposal pernikahan dan biodata dititipkan Pak Ahmad kepada teman prianya bernama Pak Abu yang bekerja satu instansi dengan Nina, hmmm entah apa yang menyulitkan Pak Abu karena hingga November proposal itu belum juga sampai pada yang berhak: Nina dan guru ngajinya!!! Ini Masalah amanah. Seringkali disepelekan, padahal amanah itu menyangkut masa depan dan kelangsungan hidup dua manusia, yang harusnya segera diantarkan karena Nina dan Pak Abu sering berinteraksi, sulit untuk ber-khusnudzan karena ketika Pak Abu menjawab kenapa proposalnya belum sampai pada Nina, Pak Abu memberikan jawaban yang tidak nyambung, tidak masuk akal, tidak berhubungan dengan masalah penyampaian amanah dan parahnya ketika ditanyakan baik-baik oleh adik Nina, Pak Abu malah membalas dengan sms penuh amarah dan sangat tidak kasar, ahhh wallaahua’lam.  Mungkin harus demikian jalannya.

Ternyata, belum berhenti sampai di situ rintangan dalam jalan perjodohan Nina. Masalah lain yang membuat Nina megap-megap menahan air mata adalah guru mengajinya sendiri (sebut saja Bu Tine), yang terkenal ‘menyulitkan’ anak binaannya untuk menggenapkan Dien, dengan alasan sekufu lah, sibuk lah, khusnudzannya mungkin hyper sibuk heueheue Wallaahua’lam *fiiuuhh*. Singkat cerita… Ketika proposal sudah berada ditangan guru ngaji Nina, malah tidak diproses dan sama sekali tidak ditindaklanjuti, sampai Pak Ahmad merasa jengah, beliau mencoba menghubungi beberapa kali sampai tak tahu harus bagaimana lagi menghubungi Bu Tine, Nina sudah terlalu lelah dan malas untuk membahas masalah ta’arufnya yang tidak jelas kelanjutannya, maju atau mundur, tak ada kepastian. Perih. Hingga Nina dengan wajah pasrahnya mengatakan “Mungkin jodohku tidak ada di dunia” hiks.. sangat sedih mendengarnya. Hal ini telah membuat Nina merasa kurang nyaman berhubungan dengan Bu Tine.


Hari demi hari, Nina menjalani rutinitasnya yang sangat melelahkan. Dalam perjalanan menuju kantornya di daerah Surapati-Bandung, Nina mencoba menghilangkan rasa bosan dan lelahnya dengan menghidupkan radio HP-nya, tanpa sengaja Tuning Radio Nina langsung melesat ke stasiun radio yang memutarkan lagu, yang dengan indah mengalun...

“Akhirnya… kumenemukanmu saat hati ini ingin berlabuh, kuberharap….”

Tanpa terasa ada air terjun deras dari kedua pipi Nina membasahi jilbab biru langitnya, hmmm mungkin gumamnya “kapan kira-kira aku bisa menyanyikan lagu ini?”. Lagu itu mengalun hingga akhir dan berganti dengan lagu lainnya, Nina segera memutar Tuning radio tersebut ke radio MQ favoritnya.

Suatu pagi di kamarnya, berita gembira datang.


HP-nya menjerit-jerit minta diangkat, Sang Guru ngaji memintanya untuk datang ke rumahnya untuk ta’aruf tahap II yakni saat Nadhor
(melihat calon pasangan.pen). Saat hari itu tiba… Jantung Nina berdetak kencang, gugup, malu, cemas, takut dll (biasa… Demam ta’aruf hehehe) membuat Nina tak sanggup melihat wajah Mas Didi, “ga beranii” katanya, padahal Nadhor itu perlu dilakukan muslimah dengan seksama. Mas Didi sangat mantap untuk melanjutkan proses ta’aruf dengan Nina. Tiga hari berselang, Nina didampingi guru mengajinya Mas Didi beserta istrinya dan salah seorang teman Nina datang untuk bersilaturrahim ke keluarga Mas Didi karena Mas Didi asli Bandung sedangkan rumah Nina di luar kota, jadi didahulukan yang dekat dulu meskipun Mas Didi menawarkan untuk lebih dulu silaturrahim ke keluarga Nina. Di tengah percakapan, keluarga Mas Didi menyindir “Neng Nina, jadi kapan atuh kami diundang silaturrahim ke rumah neng Nina?” glek glek glek… Nina tersedak hhhmmm… dia rikuh, untungnya Nina mampu mengendalikan perasaannya dengan menjawab “insya Allah secepatnya Pak, Bu…”, seisi ruangan tampak sangat antusias. 

Sampai di kamar, Nina bertanya pada temannya “Gimana sih wajahnya Akh Didi?” toeng!! Sang teman menjawab “cakep teh, tinggi, putih, rapih!!” wuaaa sebagaimana orang yang mendapat durian runtuh  pasti girang, jingkrak2 dll, Nina malah BIASA saja. Begitulah uniknya Nina membuktikan keistimewaan dan kualitasnya.



Kami selaku saudarinya merasa senang mendengar kabar ta’aruf-nya dengan Mas Didi, hmm… ternyata perjalanan Nina menemukan jodohnya tidak sampai situ, Mas Didi tiba-tiba memutuskan untuk tidak melanjutkan proses tersebut melalui Pak Ahmad, alasannya adalah  karena Didi tidak percaya diri untuk “maju” mengingat penghasilannya dibawah standar.

Didi berlalu…

Lalu datanglah Ozi, Mahasiswa S1 Syiria Fakultas Syari’ah…

Lalu Doni Sang Pelaut…


Semuanya gagal dengan ceritanya masing-masing yang begitu menyesakkan.
Huufff… Lalu Allah mempertemukan Nina dengan Azis alumni Teknik Sipil ITS. Secara keseluruhan proses mereka berjalan lancar, meskipun awalnya ada kendala keluarga tapi mereka berhasil meyakinkan kedua keluarga, berlanjut pada proses khitbah dan persiapan pernikahan.

Nina sudah bersiap, jika kelak ia akan dibawa Azis ke Balikpapan, tempat ia mendapatkan pekerjaan, Nina sangat excited dengan pernikahannya dua minggu lagi.

Menghitung hari…

Mempersiapkan hari H…

Tanggal sudah ditetapkan…

Undangan siap disebar…

Tak dinyana, sebuah sms datang bagai BOM ATOM yang meluluhlantakkan segala impian.

“Saya positive mundur dari proses ini!!!”
Begitulah isi pesan singkat yang berasal dari pemilik nomor bernama Azis

Ia dan keluarganya meng-cancel rencana pernikahan yang tinggal dua minggu tersebut. Alasannya sangat tidak syar’i, gara-gara salah paham mengenai biaya walimah. Sangat disayangkan, kenapa tidak dibicarakan dulu? dikomunikasikan dengan baik, Sang Calon Ibu Mertua mengancam: “PILIH IBU ATAU MBAK NINA!!!” Sang Anak yang penurut dan tidak ingin durhaka itu sebenarnya bukan tak berusaha membujuk, tapi Sang Ibu memang telah berkeras hati, terlebih ia dihasut oleh saudara-saudaranya terkait dengan mitos ORANG SUNDA…  (padahal Nina bukan orang Sunda, Nina hanya tinggal di Jawa Barat)

Akhirnya pernikahan indah 26 September itu tidak pernah terjadi.
Kabar mengenai pernikahan yang sudah terdengar ke seantero kampung dan kawan-kawan itu GAGAL, BATAL. 

Life goes on

Fast forward

Nina berproses dengan Dwi.


Nina dan Dwi seolah “meminta” restuku.
Tahukah? Dwi adalah seseorang yang dulu pernah “ada sesuatu” denganku, orang yang sama, yang pernah akan berproses denganku dan kandas karena alasan keluarga.
Aku dan Nina sempat risih jika membicarakannya, Rabbii… ada yang tidak nyaman ketika bertanya tentang prosesnya, tidak seperti ketika Nina berproses
dulu, akulah orang yang pertama diberitahu, aku adalah adik angkatnya dan saat itu aku sangat merasa tidak nyaman. Ada yang berubah dengan hubunganku dan Nina. Aku bukan tidak ingin melihat Nina bahagia, bukan cemburu, aku pun justru ikut andil dalam menjodohkan mereka, tapi kuakui ada yang tidak nyaman saat itu, Nina pasti merasakan hal yang sama. Sebuah dilema. antara Kakakku dan dia yang sempat singgah di masa laluku.

2 bulan berlalu… Nina mengirim pesan singkat yang menjelaskan bahwa ia dan Dwi tidak melanjutkan prosesnya, karena alasan keluarga. Ehmm… Entah bagaimana perasaanku saat itu, tidak senang, tidak juga sedih. Aneh.


Akhirnya…

Nina tetap berjuang, berikhtiar menemukan jodohnya, do’a tak kunjung padam.
Sebulan berselang, tidak lama setelah itu… seorang teman “merekomendasikan seorang adik” di kantornya untuk berkenalan dengan Nina, step by step. Meskipun di awal banyak kesulitan dalam upaya melobi keluarga, tapi dengan langkah matang proses itu menjadi mudah: perkenalan-pertemuan keluarga-khitbah-hingga akhirnya AQAD NIKAH dan WALIMAH.

Aku hampir tidak percaya, prosesnya secepat ini, penantian panjang akhirnya berujung juga, Nina MENIKAH.

Aku memeluknya dengan sangat erat ketika bersalaman di pelaminannya. Adit beserta istri dan anaknya juga hadir menyaksikan momen ini.


Sesaat ketika Aqad terucap, para saksi mengucapkan: “SAH” dan do’a untuk kedua mempelai, Nina muncul dari kamar untuk kemudian mengecup tangan Sang Suami, terdengarlah lagu OST Ketika Cinta Bertasbih, ada haru menyeruak disana. Haru bahagia untuknya.

Selamat untukmu wahai bidadari dunia
Penantian panjang kini berakhir sudah
Ia… suamimu adalah hadiah terbaik untukmu.

Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakumaa fii khaiirr.


Her wedding was held on Ahad, May 2 2010

Written on the last day in 1429 Hijriyah 11.07 PM
at my lovely room and finished on 11 May 2010 at 20.24 PM

THE END

***Tulisan yang “telah kuberanikan” untuk ikut berpartisipasi dalam kontes blog http://anazkia.multiply.com/journal/item/359/Kontes_Blog_Bermula yang dispronsori oleh http://denaihati.com/

Advertisements

61 thoughts on “[3] Akhir Cinta yang Tak Mudah

  1. lesmana affan

    klo g da airmata yang menetes disetiap jalan hidup yang kita lalui, maka pastinya kita g kan begitu besar merasakan kebahagiaan…kebahagiaan yang teramat sangat hanya akan dirasakan oleh orang yang selalu menitikan air matanya untuk rasa syukurnya…. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s