Polisi dan Sebuah Kesan (1st Day In Jakarta)

Kesan pertama… kadang bisa menjadi tolak ukur masa depan sebuah hubungan, pun termasuk hubungan dengan sebuah tempat atau komunitas.

Kesan pertamaku terhadap Jakarta: panas, gerah, macet, sumpek, sesak, penuh kriminal, penculikan, perampokan, individualis, cuek dan tidak ramah.

OK laah… tidak semuanya benar, tidak bisa dipukul rata, kita sepakati itu. No offense.

Tapi, kukira ada hal yang menjadi common impression disini, kesan yang sama terhadap petugas bernama Polisi.

Ini adalah ceritaku, kemarin saat tiba di Jakarta… (11072010) sesampainya di tempat kos (Utan Kayu-Matraman), aku dan keluargaku berniat untuk survey ke kantor cabang Matraman di Jl.Matraman Raya, luruuuuss… belok kiri dikit lalu lurus lagi… eeeh tiba-tiba ada Polisi yang menilang kami, dengan muka keheranan kami saling berpandangan satu sama lain, kami berhenti, aku dan supirku menghadap polisi –tengil- itu dia beranggapan bahwa kami telah melanggar lalu lintas, doeeeng?? Apaaaahhh??? Tidak mungkin!!! Tidak ada rambu-rambu lalu lintas disana, kami mengikuti jalur angkot biru ‘melayu-senen’, apakah karena plat mobil kami bukan B lalu kami dibodohi? Polisi itu mengancam kami dengan membawa-bawa “pengadilan” dan proses peradilan yang lama karena kami bukan dari Jakarta, eeeeeh si Bapak ini meremehkan kami, dia kira kami bodoh apa???  Seumur hidupku, aku belum pernah secara langsung menyaksikan dan merasakan kebengisan polisi jalanan itu, akhirnya merasakannya disini.. di Jakarta!

Aku masih ingat dengan jelas, seorang dari mereka yang ditilang (selainku dan supirku) itu adalah seorang bapak tua yang tersenyum miris padaku seolah berkata “sabar ya Mbak… begitulah Polisi Negara kita”. Aku yakin seyakin-yakinnya mereka yang ditilang sore itu adalah para orang tua dan orang-orang yang benar-benar tidak mengerti peraturan jadi-jadian tersebut.

Aku sempat bersitegang dengan polisi itu, karena gak sudi ngasih uang itu, permasalahannya adalah plat nomer kami itu plat F, yang konon katanya akan melalui proses panjang peradilan, supirku juga ketakutan (may be karena dia supir dari daerah, akhirnya dia membujukku untuk membayar upeti sahajaaa dan lekas pulang)

UUD. Yeaa ujung-ujungnya DUIT. Dengan gaya mengancam ala penjahat ia akhirnya meminta duit juga hahahahahahaa bener-bener deeeh, geleng-geleng kepala sambil pengen ketawa sinis. =)) LOL. Kesian deh polisiiiiii. *pengen nonjok*

Dengan hati tidak rela aku menggelosorkan uang Rp. 50.000 demi Polisi nakal itu, bukan.. bukan nominal itu yang aku persoalkan, tapi peraturan jadi-jadian polisi itu yang sama sekali tidak bisa aku terima, ini tidak sejalan dengan hati nurani serta akal sehatku! Uang haram tuh, masuk kas negara kah? Rasanya tidak mungkin.

Akhirnya Jakarta memberiku pengalaman yang sangat mengherankan: Polisi dengan faktanya! hahahaaha

Duuuh Rabbiii… sakit hati, perih banget menyaksikan Negara ini berpolisikan petugas-petugas tidak amanah. Miris melihat bapak-bapak tua itu…

Gambar adalah dokumentasi pribadi pada “kejadian” dengan polisi lainnya

Mari berdoa dan berbuat agar mafia legal ini bisa bertaubat secara individu dan sistem.

Polisi = Mafia Legal?
Rasanya tidak berlebihan statement ini hihihihihihi

Advertisements

43 thoughts on “Polisi dan Sebuah Kesan (1st Day In Jakarta)

  1. dhayu puspita

    nggak usah di jakarta, anty.. polisi nakal mah dimana2 kali..
    makanya, sulit sekali berbaik sangka pada sosok2 berseragam cokelat yg menamakan diri mereka POLRI..
    hihi..

    *punyadendamkesumatmapolisi*

    Reply
  2. tintin syamsuddin

    sapa suruh datang ke jakarta.. 😀

    sedih sebener, kalu mau kuatkuatan, lawan aja buuuuu.. jangan kasih duit lah.. ku aja kalu ada polisi nilang ga kira2, ya nantang ikut deh ke kantor polisi.. cuek kabeh.. akhirnya malah dibebasin..
    eh ada namanya ga?

    Reply
  3. Aida Hani

    Biasanya orang yg benci sesuatu malah didekatkan dengan yg ia benci. Hwahahahaha.. Mang enak lho Nty! Btw, Rabu gw k kampus. Boleh maen kaga yha ke kantor loh?? Haghaghag..

    Reply
  4. Ninis -Niswatun Nafi'ah-

    Yaah begitulah polisi Jakarta.Tapi lebih sadis lagi polisi yang bertugas di Jalan Margonda Depok, hampir tiap hari ada aja supir angkot yang ditilang.. Aku udah bosen tuh ngejar2 angkot gara2 sopir angkot dikejar2 polisi.. Huh..

    Reply
  5. Tian OT

    sabar, sabar nty.
    tapi ada yang tidak lengkap dari cerita ini. pertama, menurut versi polisi, pelanggaran apa yang menyebabkan dia menyetop mobil anty? terus, apa sopirnya merasa nggak melakukan itu? kalau memang tak setuju cara “damai di jalan”, kenapa tidak menempuh langkah sidang pengadilan? (biasanya seminggu setelah surat tilang diberikan).
    komentarku, bukannya polisi di mana-mana sama, termasuk di bandung juga? (maksudnya, polisi yang mau “damai” di tempat).

    Reply
  6. sang pemimpi

    Kalo ga se7,ga usah ngasieh mbak,bw aj ke pengadilan,skalian mdidik polisinya..tkadang kita sbg pguna jalan ga mau ribet mknya ngasih2 aj,laen kali ikt pengadilan aj..kita liat dia akn gmana..

    Reply
  7. rahmatt m

    nggak nanya kesalahannya apa?
    saya masih menghormati polisi lalu lintas, lebih2 saat mereka mengatur lalu lintas Jakarta yang kacau. kasihan polisinya.

    saya pernah sekali ditilang, karena memang saya melanggar. saya minta slip biru dan bayar tilangnya lewat BRI — ternyata ada layanan tilang

    Reply
  8. M. Izriadi Abdullah

    sebuah kondisi yang ironi memang…. gk disana aja, tapi sudah dimana-mana…. gmn ya cara menyadarkan hal itu? mesti dipangkas dari akar nya… yaitu dari recruitment nya…… hmmm……

    Reply
  9. rahmatt m

    g tahu, mip
    alhamdulillah, waktu itu lengkap
    cuma dudulz aja belok kanan di bundaran patung kuda =D

    seminggu setelah itu aku sakit
    dalam mimpi salah jalan terus naik motor =D

    Reply
  10. ario fanie

    minta form biru klo itu nanti bayarnya bukan ke polisi…tp ke peradilannya..
    biasanya polisinya males nanti ngurusnya..terus di lepasin…
    makin lengkap dengan smua cap kota jakarta ya…

    Reply
  11. Wishnu Triwibowo

    wekkekeke…. Disitulah kesalahannya. Ketidaktahuan si supir mengetahui rambu2 lalu lintas bisa jadi bumerang, karena ada beberapa jalur yg emang khusus dilalui angkot. Pun kalo emang merasa tidak bersalah, jangan memberikan SIM/STNK. Debat dijalan cukup membantu kok. Laporan polisi nakal saat ini udah banyak, itu juga yg membuat mereka takut kalo macem2.

    Reply
  12. Wishnu Triwibowo

    wekekekeke… kalo gitu jelas2 aneh jika sampean nyerah dengan memberikan upeti. Paham & menguasai rambu kok mau dibodohi? udah reformasi nih….. kalo perlu si polisi suruh nunjukin rambu2 yg dilanggar. Kalo nggak mau, jalan lagi aja…. (gw pernah kejadian ky gini, si polisi gw suruh nunjukin rambu yg ternyata ketutupan pohon, debat kusir bentar sampe gw ceramahin hak2 gw sbg pengemudi akhirnya lolos juga). wekekekeke (no offence)

    Reply
  13. Rani Zaoldyeck

    afwan.. yg difoto oknumnya? hmm.. baiklah nanti disampaikan.. saran sy lain kali lbh berhati2 & bila ditilang (lg) lebih baik ke pengadilan., u mencegah celah korupsi.. Insya Allah Ditlantas POLDA METRO terus memperbaiki diri & dibutuhkan dukungan masy. dg tdk bertransaksi di jalan.. OK.. krn tak selamanya 'damai' itu indah.. ^ ^

    Reply
  14. Cinderellanty Chan

    nope, bukan itu potonya… aku gak sempet jepret poto yang lagi bertransaksi… jadi gak kupajang… cm ada poto polisi lagi nulis2 gitu… bukan orang itu ko jangan dilaporin, emang dikau kerja di kepolisian kah say?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s