Aida: A piece of my puzzles

Hidup ini ibarat puzzle yang terserak di jagat raya, belum utuh jika belum menemukan seluruh piece-nya.

Hidup juga ibarat jaring laba-laba yang bertautan antara satu sama lain, jaring Maha luas yang menghubungkan kita dengan siapapun dan kejadian apapun di alam semesta ini.

Pertemuan kita dengan satu, dua atau bahkan banyak orang tak terduga bisa menghantarkan kita pada kepingan puzzle yang terserak itu, menyambungkan kita dengan jejaring hidup.
 
Kita semua pasti pernah mengalami sebuah jenis hubungan interkoneksi, antara kita, teman kita, temannya teman kita dan ternyata temannya yang lain adalah teman kita juga (yah gitu lah).

Begitupun Aku dan beberapa temanku, salah satunya adalah Aida Hanifa, kami bertemu di ruang maya, di batas tak bersekat ruang dan waktu. Kami semakin terkoneksi saat mencuat kasus seorang Dinta, karena ternyata… kasus Dinta ini adalah kasus yang diceritakan sahabatku yang lain (MA), MA adalah temannya Dinta juga, ia tau banyak hal tentang Dinta dan Sang Pria.

Semenjak aku dimutasi ke kantor Jakarta, sebagai orang baru disana aku kenalan dengan teman-teman kantorku, salah satunya adalah Teh Ayu Kartikasari, pas tau beliau tinggal di Bekasi, aku asal tanya aja siapa tau Teh Ayu kenal Aida, Buje, Vyka, Kakek Ichad, en temen-temen Bekasi eeeeh ternyata Teh Ayu beneran kenal mereka… Subhanallaah.

What a flat world!

Dulu… Aida pernah bilang bahwa aku adalah saingannya yang sepadan, haghaghag..
Entah maksudnya saingan dalam hal apa, tebakanku sih mungkin saingan dalam berargumen dan diskusi, dalam hal galak per-galak-kan, atau dalam ke GJ-an?? wkwkwkwk

Yayaya… Dalam beberapa hal kami memang nyambung, saking nyambungnya… sampai-sampai pertemuan pertama kami bagai pertemuan kesekian bak teman lama yang baru bertemu kembali. Hal itu sangat mungkin dikarenakan kami sering berkontak ria di MP, YM, sms dan telpon.

Kemarin (Rabu, 14072010), Aida datang ke kantorku di Jl. Matraman Raya, setelah datang dari kantor dan kampusnya yang kebetulan memang dekat dengan kantorku.

Aida membawakan mendoan hangat untukku huhuhuhuuu enak banget da, kata temaen kantorku: “pisangnya mantap” makasih ya da…

Rencana awal adalah aku akan bertemu Aida sekaligus Dinta, tapi ternyata Dinta cancel ke kampus, akhirnya Aida saja yang datang (and later i would be very thankful that she -Dinta- couldn’t come hihihihi), kami hanya berencana bertemu saja dan tidak merencanakan untuk jalan-jalan, but.. fortunately… alhamdulillah, kami jadi jalan-jalan afterwork (while Aida’s waiting at Gramed Matraman).

Jalan-jalan nekat bersama Aida ke Atrium, padahal kami tidak tahu jalan pulang (nantinya), Naik bis yang ke arah senen atas ajakannya Aida -yang dia sendiripun tidak yakin, apakah benar bis tersebut akan menghantarkan kami ke Atrium- wkwkwkwk

Sesampainya disana, perut kami yang sudah berdemo entah sejak kapan memaksa kami mencari tempat muara demo ini berakhir: tempat makan. Terlalu banyak tempat makan membuat kami bingung, akhirnya kami -aku sih- memilih Gokana Tepan, makanan bernuansa Jepang (recommended, better than H*K**N- qwqwqwqwqw).

Setelah itu… kami berniat mencari gantungan hape lucu, sayangnya tidak menemukan yang cling… Eh tiba-tiba mataku tertuju pada kumpulan gelang-gelang perak yang mirip dengan gelangku yang hilang, yihaaa… pas! Tapi tidak ditangan Aida. Akhirnya gelang ini dibeli cuma satu saja dan dihadiahkan Aida untukku, padahal tadinya mau beli yang kembaran gitu, Thank you Da… *smooch*

Belum berhenti ke GJ-an kami, saat menuju tempat pulang… Aida memintaku memotretnya bersama Ondel-ondel di pintu ‘keluar-masuk’ sampe dimarahin satpamnya karena tadinya pose yang kuarahkan adalah pose nabok tu ondel-ondel hahahaha.

Eh eh Ondel-ondel itu menggodaku untuk berpoto bersama hahahaha akhirnya nyari orang lewat yang sudi kiranya mengambil poto kami yang Ge Je, satu, dua, tiga orang lewat… gak ada yang mau motoin, tibalah sang mbak eh apa mas ya? haghaghag akhirnya si sang mbak-mas itu dengan baik hati mengambil poto kami ini, terima kasih mbak-mas… hihohiho


Sampai jam menunjukkan pukul 19.30, kami bergegas meninggalkan Atrium dan pulang…
Aida bilang “Buset, berasa rumah gw depan Atrium aje, jam segini masih keluyuran wqwqwqw” hahahaaa Euforia ketemuan hhihihii

Akhirnya… aku menemukan satu dari sekian banyak puzzle-ku yang berserakan dan puzzle itu kutemukan di Jakarta, di kota yang kucaci maki.

Thank You da… you washed away my sadness and gloomy yesterday because of missing Bandung badly. huhuhhuhu.

This is the 4th story on my 4th day in Jakarta

Advertisements

69 thoughts on “Aida: A piece of my puzzles

  1. tintin syamsuddin

    ga kenal maka ga sayang, setelah hinadina jakarta pasti lupa pulang ke bandung..
    seneng ya ketemu temen juga, apalagi “nyasar”nya ke atrium..
    semoga betah di jkt.. dan menemukan beberapa keping puzzlenya.. (eh kalu udah selese puzzlenya bosen loh, kudu dibongkar lagi aja..)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s