Menjembatani Hati dan Akal

Alangkah damainya jika hati dan akal (logika, rasio dll) bisa berjalan beriringan, bergandengan tangan satu dengan lainnya, siapapun pasti menginginkan kondisi stabil demikian, kondisi jiwa yang mapan.

Indah & Ideal.

Namun, dalam diri manusia terdapat kecenderungan-kecenderungan dimana ia menggunakan akalnya atau hatinya secara dominan.

Sebagaimana yang kita ketahui, sebagian besar kaum pria menggunakan akalnya dengan prosentase yang lebih tinggi ketimbang perasaan atau hati mereka.

Berbanding terbalik dengan pria, kaum perempuan sebagian besar mengedepankan perasaan diatas segalanya, menggunakan perasaannya lebih dominan dalam banyak hal, termasuk dalam hal membuat keputusan.


Pertanyaan yang akhir-akhir ini menggangu adalah:


Seberapa sering kamu memutuskan sesuatu menggunakan akal?
Seberapa sering kamu memutuskan sesuatu menggunakan hati?

Seorang sahabat -sebut saja- A bertanya dalam sebuah percakapan pada sahabatnya B, A masih terheran-heran dengan keputusan yang diambil oleh B yang mengedepankan “rasa”.

Berikut kira-kira percakapan mereka.


A: Gw gak habis pikir, kenapa lo memutuskan hal tersebut hanya berdasarkan “rasa”, heraan! Dalam setiap mengambil keputusan, mana yang lebih sering lo kedepankan?
B: Hmmm…. Perasaan
A: Ah ya… Bisakah lo berdusta dengan perasaan lo? Selama ini lo terlalu sering berdusta pada logika, sekarang bisakah lo berdusta pada perasaan lo dan coba maju menggunakan akal??
B: Huwaaaa sakit tauuuu hati gw
A: Lo gak tau kan B, logika juga sakit karena keseringan lo kesampingkan! Selama ini, tindakan apa yg lo ambil TANPA pertimbangan HATI?

B: Gak ada, semuanya pake hatiΒ 
A: …………………
B: :-/


Percakapan diatas sempat membuatku terhenyak, mengingatΒ  bahwa aku dan si B adalah perempuan yang cenderung menggunakan perasaannya, muncullah pertanyan-pertanyaan ini:

Benarkah keputusan-keputusan yang kuambil dalam hidupku selama ini? Benarkah hanya mengikuti hati dan mengabaikan akal? Salahkah ketika keduanya tak sejalan?

Bagaimana menjembatani hati dan akal?

“…Ketajaman akal harus diimbangi dengan kecerdasan hati dalam menentukan sesuatu. Keduanya harus terus berdialog, tanpa putus, dan selalu dalam hidup ini..”Β katanya

Bagaimana saat hati dan akal tak dapat berdialog dengan baik? Tidak menemukan titik temu dan berkelahi?

Haaah….Sebagai manusia yang lemah aku hanya bisa berdo’a semoga Allah memberikan petunjuk atas setiap keputusan yang diambil oleh pengguna hati atau akal, dan pengguna keduanya, semoga diberikan yang terbaik oleh-Nya.

Pagi yang mengandung ribuan tanya pada hati dan akal
Utan kayu, Menjelang Ramadhan 1431 H


*gambar dari sini

Advertisements

39 thoughts on “Menjembatani Hati dan Akal

  1. Fatah Manohara

    hati bukan perasaan…..ada hati nurani tapi tidak untuk perasaan nurani…saya mendefinisikan hati nurani tempat dalam ruh yang belum ternoda oleh situasi dan menjadi kontrol atas perasaan dan akal…jika hati nurani adalah perasaan maka perasaanlah yg mendekati kebenaran…pada kenyataanya tidak selalu sama dengan akal yang tidak selalu…penyebab adanya tidak selalu karena akal dan perasaan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi.C#

    Reply
  2. ario fanie

    hati adalah raja…jika baik maka baik smuanya…
    dalam mengambil keputusan mutlak diperlukan keduanya. karena hati dan pikiran berjalan beriringan yah.
    baik akal dan hati memunyai standar kebeneran masing2….mana yang lebih baik yah…
    kalau akal bersifat keputusan yg mendalam, terkadang butuh proses lama
    smentara hati…..mampu mempresentasikan hasil dng cepat..intuisi yang cepat..
    disamping keduanya ada lg bisikan2 yg terkadang bisa mengacaukan hati….mesti waspada..
    jadi pada akhirnya…hati bersih akan memberi arahan baik, kemudian pikiran bekerja untuk mencapai tujuan tersebut…..hehe..ganbatte mencapai cita2

    Reply
  3. Fatah Manohara

    esty….tnyakan pada hati nurani kita…jujur itu benar?tapi mungkin anty kita berbohong karena tidak tega terhadap sesuatu…atau akal kita memutuskan untuk berbohong karena jika jujur temen kita bakal ditonjok orang…inilah penggambarannya.C#

    Reply
  4. Heri Hito

    kalo Akal itu logika
    hati adalah estetika

    beda matematikanya

    kadang kita perlu saklek 1 + 1 ya harus 2
    tapi ada pertimbangan estetis ketika kita menemui 2 – 1 = 0

    ada tingkatan logika, etika, estetika & cahaya
    sepertihalnya ada syariat, tarikat, hakikat & makrifat

    semua akan kembali ke maqom kita masing2… πŸ™‚

    Reply
  5. aji teguh

    menjembatani akal dan hati?

    harus dengan bangunan iman yg kokoh, fondasi aqidah yang menhujam ke dalam sanubari, tiang-tiang yang terpancang kuat, serta dari bahan2 bangunan akhlak yang qurani.
    Sehingga manusia mampu menyelaraskan antara keduanya πŸ™‚

    insya Allah…

    Reply
  6. Heri Hito

    sederhananya aja ya:

    -Akal (logika), berada di Kepala,
    disitu matematikanya selalu tentang = UNTUNG – RUGI (kalah – menang)

    -Hati (estetika/cinta kasih) berada di “dada”,
    disitu tempat matematikanya = BAIK – TAK BAIK (menyenangkan – tak menyenangkan)

    kapan pakai logika, kapan pakai hati? atau kedua-duanya?… ya tergantung siapa/apa yg kita hadapi…

    kecuali orang-rang sufi, yg parameternya selalu hati, makanya sifatnya: cinta kasih, mengalah, toleran, karena maqomnya sudah Cinta (kasih), cinta itu hakikat… kadang ga butuh sebab (logika)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s