Mbak Yanti dan Pelajaran berharga darinya

Sebagaimana yang telah kuceritakan, Mbak Yanti adalah orang yang pertama kali kukenal di daerah Utan Kayu, di Ramadhan pertamaku di Jakarta, Mbak Yanti yang rela membagi sajadahnya berdua denganku, yang menganggapku adiknya. Manis dan sederhana. Aku tidak tahu bahwa kelak aku akan mendapatkan banyak pelajaran dan persaudaraan yang tulus darinya.

………

Malam 10 Ramadhan 1431 H

Waktu menunjukkan pukul 18.50 WIB ketika Mbak Yanti mengirim pesan singkat, sebuah ajakan tarawih bersama di mesjid sekitar. Aku menyetujuinya, beliau menjemput dan pergilah kami ke Masjid UIJ, sekedar ingin tahu bagaimana “model” tarawih Masjid lain selain al-Manar.

Saat Ustadz berceramah sebelum tarawih, Mbak Yanti teklaktekluk ngantuk, terlihat jelas bahwa ia sangat kelelahan setelah bekerja seharian di sebuah toko pakaian. Aku mengelus pipinya dengan lembut, membangunkannya seraya memberitahunya bahwa tarawih akan dimulai.


Usai Shalat… Kami pulang melalui jalan berbeda, melalui Gg. Flamboyan 3. Katanya ia ingin menunjukkan jalan-jalan di daerah sini. Baiklaah.

Dalam perjalanan, kami berbincang-bincang, hingga akhirnya perbincangan kami berujung pada….

“Kapan? kayaknya Dek Anty sebentar lagi..” Doeng-doeng errrr -__-

“Amiiin” Jawabku dan aku membalas tanya padanya…
“Mbak kapan nih? Mbak dulu dong… hehee Anty kan masih kecil” *preeetzz*

Ia hanya tersenyum dan berkata…


“Ehmm… Mbak sudah punya anak di kampung, Dek

He? doeng2?

Aku kaget, mengingat wajahnya yang tampak masih single… Kutebak usianya tidak berbeda jauh denganku.

“Maksudnya Mbak?” Tanyaku keheranan
“Ya… Mbak sudah punya anak, di kampung” Jawabnya sambil menunjukkan foto anaknya
“Terus suami Mbak dimana sekarang? Ko misah-misah sih?” tanyaku lagi *kurang ajar*

Ia tersenyum dan berkata…

“Suami Mbak sudah meninggal 3 tahun yang lalu

Duaaar….. Bagai tersengat listrik aku mendengarnya

*apaaaaaaah! adegan shock*

“Meninggalnya karena apa mbak?” Tanyaku lagi penasaran
“Kecelakaan Dek, kecelakaan motor saat pulang… Saat itu Mbak baru menikah sekitar 2 bulan dan sedang mengandung” Jelasnya

Aku: menelan ludah, ada yang tercekat di tenggorokan

“Masya Allah, Mbak sabar ya…” Jawabku klise

“Iya Dek… Mbak hanya ingin kuat dan berani menghadapi hidup, karena kita gak akan pernah tau episode selanjutnya dalam hidup ini”

Aku mengangguk-angguk tanda menyimak dan mencerna perkataannya

“Makanya Mbak ingin sekali optimal di Ramadhan kali ini, siapa tau ini Ramadhan terakhir Mbak… Tilawah Mbak belum banyak nih sedih banget, waktu cepat berlalu” lanjutnya

Aku tersenyum dan kebingungan harus bagaimana berekspresi, antara sedih, haru, bingung, simpatik dan salut. Kuatir salah ekspresi, kuatir menyinggung. Akhirnya kuputuskan untuk bercerita tentang seorang wanita yang juga tegar membesarkan anak-anaknya yang masih kecil sendirian hingga mereka dewasa. Sangat hebat dan kuat, semakin mendekat pada Allah ketika satu demi satu ujian menghampirinya, ia menjadi wanita tangguh dan mencintai Rabb-Nya lebih dari saat Sang Suami masih disampingnya. Aku berharap bisa membantu menguatkan Mbak Yanti melalui cerita tersebut.

Aku memberanikan diri untuk bertanya lagi…

“Mbak gak ada minat buat nikah lagi? Kan masih muda?”

“Mbak sebenernya udah gak begitu kepingin Dek, cuma Mbak memikirkan anak Mbak, dia pasti butuh figur seorang ayah” Jawabnya menjelaskan

“Oooo iya sih Mbak, bener tuh… Anak Mbak pasti butuh banget, lagian Mbak masih muda, masih butuh pendamping untuk berbagi…”


Aaah… Mbak Yanti, betapa aku merasa beruntung dan bersyukur bisa bertemu dengan wanita kuat dan sederhana sepertimu, mengingat ujianmu yang pasti tidak mudah dilalui oleh seorang wanita yang baru saja menikah dan tengah mengandung. Terlebih ketika aku tau bahwa usiamu hanya sedikit lebih tua dariku. Sungguh aku malu, merasa begitu banyak masalah, sementara dirimu dengan kuat dan sabar menghadapi cobaan Rabb-Mu…

Diam-diam aku menjadi menyayangimu Mbak…
Semoga Allah menjagamu
Semoga suatu hari kau bertemu dengan orang yang mampu mencintaimu lagi.

Foto Pribadi

Advertisements

41 thoughts on “Mbak Yanti dan Pelajaran berharga darinya

  1. Alwaysselalu .

    kullu nafsin dzaiqotul mawt…

    dak ada yang tahu kapan kita kembali KepadaNya

    adek seornag temen baru 1 bulan nikah…. ternyata Allah berkehendak lain…

    Semoga Allah Menjadikan sebaik2 umur kita pada akhirnya
    sebaik baik amal kita pada penutupannya

    Reply
  2. Mulyani Hasanah

    alhamdulillah geuning ada temennya disana buat tarawih…padahal suka mikir, karunya si anti di Jakarta tarawehna kumaha? padahal kita disini pada seneng.huhuhuhu.ah udah tenang atuh nya ayeuna mah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s