Kenapa Harus Iri?

“Enak ya jadi dia…”
“Kamu beruntung banget deh…”
“Ko hidupnya sempurna sekali ya?”
“Pengen deh kayak gitu”
“Andai saja… hidupku sepertinya”

“Kenapa hidupku tidak seindah dia?”

Pernah dengar gumaman semacam itu di sekitarmu?
Atau kamu sendiri yang pernah terpikir hal seperti itu?
Mungkin kita sendiri pernah berdecak kagum melihat hidup orang lain yang -dari luar- tampak lebih hebat, lebih indah, lebih sempurna dari kita?

Pernahkah iri?
Pada seseorang… Pada dua orang atau lebih?
Sampai-sampai kita membencinya?
Hingga kita jadi bersikap “jahat” padanya? Karena merasa sebal melihat kehidupannya jauh lebih bahagia?
Atau malah sebaliknya? Diam-diam mengaguminya dan bersikap “lebih hormat” dan “lebih mengistimewakan” orang tersebut?

Aku pernah
Sungguh sangat menyiksa hati dan jiwa
Melihat hidup orang lain tampak amat sempurna, tampak sangat bahagia tanpa cela,
tanpa tangis, tanpa duka, hanya ada tawa..

Apalagi ketika mendapatkan musibah, mendapatkan hal yang kurang meng-enak-kan, lalu sekilas mengingat betapa bahagianya jika aku menjadi si A, si B, si C misalnya…
Sayangnya pikiran seperti itu justru bukan membantu, malah sebaliknya. Menyiksa diri sendiri.

Perasaan dan pikiran “iri” berasal dari jiwa yang kurang bersyukur, yang belum sepenuhnya berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang Dia berikan.

Seorang teman pernah mengaku iri pada si X…

“Enak ya jadi si X… Sudah cantik, shalehah, lulus kuliah, bekerja, menikah dengan Dokter baik dan shaleh, sudah punya rumah pula, padahal masih muda”


Hihihi jadi senyumsenyum sendiri, seandainya saja dia tahu apa yang dialami si X, pasti dia akan berpikir 1000 kali mengatakan hal begitu
.
Percayalaah… Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk kebahagiaan.

Tidak mungkin seseorang diberikan hidup yang demikian sempurna hingga tak pernah ada duka dan masalah yang melanda. Tidak mungkin.
Yakinlah… Bahwa setiap manusia di dunia memiliki kelemahan, kekurangan dan ketidaksempurnaan.
Karena itulah fungsi “the afterlife” agar manusia -salahsatunya- termotivasi untuk mereguk kebahagiaan yang hakiki: Syurga. Itulah salah satu hikmah kenapa dunia ini tidak pernah sempurna.


Padahal bisa jadi sangkaan kita itu salah besar
Bisa jadi…
Dia yang tampak bahagia itu… tidak lebih bahagia dari kita
Bisa saja menyimpan duka
Dia yang tampak sempurna itu… bisa jadi memiliki cacat yang dia sembunyikan
Bisa saja diuji Allah dengan ujian yang tidak pernah kamu duga…


Seseorang yang diberikan banyak kelebihan oleh Tuhan maka t
anggung jawabnya terhadap diri, masyarakat dan Tuhannya pun jauuuuh lebih banyak, seperti:

  • Bagaimana ia menjaga diri dari sombong
  • Bagaimana ia menggunakan kelebihannya? Apakah ia menggunakan untuk kebaikan, menghasilkan hal-hal bermanfaat bagi banyak orang? Atau sebaliknya
  • Apakah ia bermanfaat dengan kelebihannya itu? Tidak sama sekali atau bahkan menjerumuskannya?
  • dll

So, mulai sekarang…
STOP IRI HATI
ya
Capek sendiri loh
Karena kita tidak pernah tahu apa yang ada dibalik sangkaan kita, dibalik apa yang terlihat…

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya Nabi SAW bersabda, “Jauhilah oleh semua sifat dengki/iri hati itu, karena sesungguhnya sifat dengki itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan sebagaimana apai menghabiskan kayu bakar ” (HR Abu Dawud)

Dari pada iri hati… Lebih baik mensyukuri apa yang Allah berikan pada kita seraya menghisab diri…

Sudahkah saya bersyukur?
Apakah saya berguna bagi orang lain?

Dan ingat pulalah ketika Tuhanmu memberikan pernyataan: “Jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmatKu kepadamu; sebaliknya jika kamu mengingkari nikmat itu, tentu siksaanku lebih dahsyat. (Ibrahim: 7)


Happy Weekend Dear Friends…

Mari Bersyukur!

Anty yang mau mudik ke Sukabumi prikitiiiw

Advertisements

49 thoughts on “Kenapa Harus Iri?

  1. AFC Rama R

    “Sesungguhnya ALLOH telah menentukan taqdir2 makhluq sebelum DIA menciptakan langit & bumi sejauh 50.000 tahun.”
    (Hadits Riwayat Muslim)

    kita juga harus berusaha,bukan pasrah saja..

    Reply
  2. zarah sera

    Hati2 di jalan anty..
    Salam bwt keluarga πŸ˜€

    Yg pasti tiap orang sudah ditetapkan taqdir, berasal dr kata qadar..yaitu kadar..takaran..
    Takaran alias kadar itu mutlak kuasaNya,Allah selalu tepat dan pas perhitungannya..ga keliru..

    So,taqdir alias qadar aku,kamu dan semua udah pasti pas πŸ˜€

    Tinggal syukur sabar,menjadi yg tbaik yg qta bisa..

    Aza!

    Reply
  3. andalusia NP

    antyyyy selepas 2010 saya lagi merenung apa yg bisa saya laporkan pada 2011 segala pencapaian di 2010?? Kenapa yg ada bisa saya laporkan hanya segala aktivitas dan capaian yg hanya bermanfaat untuk diri saya sendiri?? Kenapa saya hanya berputaran dalam “sekedar aku”??

    Apakah saya berguna bagi orang lain??
    Pertanyaanmu makin membuatku terpacu untuk hidup “bukan sekedar aku”. Terimakasih untuk pengingatnya ya :*

    antyyyy…oleh-oleh mocci, manisan pala, bandrek, sareng kue jahe-nya nyaaaaa ^_*. salam ka mamahmu πŸ™‚

    Reply
  4. Cinderellanty Chan

    Neneeeenggg nengnooongg
    yap… sebaik2nya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ^___^
    sami2 neng
    teu kabujeung ceu,,, abi di bumi wae da teu kamana2 πŸ˜€ qqqqq
    kapan atuh nginep tea? :p

    Reply
  5. tiwik nih

    ehmmm, iri boleh kok, jelas di hadistnya πŸ˜‰

    Dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam , ia bersabda : β€œTidak dibenarkan iri hati kecuali kepada dua orang; seorang lelaki yang dikaruniai Allah hapalan Al Qur’an maka ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan seorang lelaki yang diberi Allah harta lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang”. Muttafaq ’alaih.

    wallahu'alam.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s