Bukan obrolan suami istri, tapi kok?

Aku: Ini obrolan suami istri?
No Name: bukan

Astaghfirullaahaladziim

Semoga Allah mengampuniku jika ada yang terluka saat membaca postingan ini…
Kepada orang yang “merasa”… Mohon maafkan aku. Tidak bermaksud menjatuhkan, hanya ingin saling mengingatkan.
Beberapa hari yang lalu blogwalking, entah rumah siapa yang kutemui
Tampaknya seorang muslimah berjilbab lebar.

Ah ya, maafkanlah aku yang suka melabeli seorang wanita berjilbab lebar dengan label shalihah, toh kesalehan bukan hanya diukur dari satu hal saja (meski dalam hal ini tentu saja aku yakin bahwa mereka yang memutuskan untuk berjilbab adalah shalehah, setidaknya sudah melangkah satu jalan menuju kesalehan).

Klak klik sana sini mengantarkanku pada sebuah rumah wanita muslim yang sepertinya memiliki idealisme yang sama, muslimah dan tidak berpacaran sebelum menikah. Setidaknya itulah yang kuyakini.

SHOCKED

Saat melihat postingannya kok aneh ya, banyak postingan yang berisi panggilan mesra yang seharusnya hanya ditujukan pada pasangan yang halal, seperti:  bunda, ayah, aa, I love you dll. Sebal seketika, saat aku bertanya melalui fasilitas komen di MP pada salah satu curhatannya:

Aku: Ini obrolan suami istri?
No Name: bukan

Sok Suci? Sok Baik/Saliha?
Bukan! Demi Allah, bukan merasa diri sok suci, baik dan shaliha!
Sangat sadar betul siapa diri ini, hanya Allah yang menutupi aib diri.

Berangkat dari keprihatinanku, terhadap hubungan pria wanita sebelum menikah hattaa itu orang yang mungkin sudah paham, Rabbanaa… Entah kenapa, sakit rasanya mengetahui dan sadar akan hal ini. Masih banyak muslimah yang belum paham (atau mungkin sudah paham) tapi belum bersegera untuk ta’at terhadap syariat hubungan lawan jenis yang sudah ditetapkan oleh Allah melalui Rasulullaah.

Akhwaati fillaah…
Yakinlah kelak, ada saatnya kita bisa bermesraan memanggil seseorang dengan panggilan sayang…
Bersabarlah hingga saat itu tiba, saat ijab qabul menggaung ke Arasy-Nya

Satu hal yang perlu kau sadari…
Jika engkau dengan mudahnya mencintai seseorang yang bukan MAHRAM-mu apalagi sesumbar mengatakan panggilan cinta, sayang, pada dia yang BUKAN mahrammu, kelak KAU AKAN MENYESAL!

Apakah kamu yakin dengan pasti 100% bahwa orang yang kamu panggil dengan sebutan cinta seperti itu kelak akan menjadi SUAMIMU?
yakin?
Sedangkan hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi esok hari
Meski khitbah sudah terjadi, tak ada satupun yang tahu dia jodohmu atau bukan, hingga tangannya berjabatan dengan tangan ayahmu/walimu dalam majlis aqad nikah.

Bisakah kamu membayangkan jika dia yang kamu panggil dengan panggilan mesra itu ternyata BUKAN JODOHMU?

Bisakah kamu bayangkan bagaimana perasaan suamimu nanti, jika ternyata sebelum menikah dengannya, kamu sudah banyak mengungkapkan kata mesra BUKAN padanya?

Saudariku… Aku sayang padamu.
Aku tidak membencimu. Aku benci perbuatanmu.
Maukah kurangkul untuk bersama berjalan pada-Nya?

Demi Allah, peliharalah hati dan dirimu. Jagalah ucapanmu. 

***Tidak bermaksud membicarakan siapapun itu orangnya (bukan postingan ghibah, naudzubillah), hanya ingin mengajak semua untuk belajar dari salah satu kisah orang lain agar tidak mengikuti jejaknya yang salah… karena aku yakin, itu hanya salah satu dari sebagian yang langsung “tertangkap” mataku. cmiiw

Bukan juga postingan MENGHAKIMI, adakah kata2ku disini yang menghakimi? Jika dirasa ada, mohon maafkanlah… Karena tidak berniat seperti itu.

So please… Gak usah bertanya siapa karena ini bukan postingan GHIBAH, insya Allah BUKAN KONTAK kita semua.
Semoga ada setitik kebaikan dari tulisan ini. Aamiin.

Advertisements

105 thoughts on “Bukan obrolan suami istri, tapi kok?

  1. Insan Dhoif

    menyimak…..
    Pasti bukan saya…(he2x). Soalnya ga pernah manggil sayang2. jangankan sama lawan jenis, sama yang sejenis juga ga pernah kayaknya, he3x…

    Reply
  2. carrot soup

    kalo gw enegnya ama yg sering ngasih2 bunga ama hadiah2 ama yg belum istrinya, eh pas udah dinikahin jangankan dikasih begituan, uang belanja aja seret ngasihnya..

    Reply
  3. Reza Salahudin

    wuih , jadi inget waktu kelas 9 smp , ada akhwat sesumbar manggil sayang , mungkin orang seperti itu menggunakan tulang belakang sebagai pusat pengotrol prilaku alias reflek doang ,di banding berfikir dulu dengan otak .

    ah cape lah nanggepin orang kaya gitu .

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s