Dari Desa di Lampung Rasa Jawa


Sabtu lalu, 19 Maret 2011

Kami sekeluarga (aku, suami, mertua, adik ipar dll) berangkat ke Lampung untuk menghadiri acara unduh mantunya Bu Dhe seperti yang diceritakan disini sebelumnya.

Berangkat jam 5.30 dari Jakarta pake mobil, kami sekeluarga dengan di-supir-i (bahasa yang aneh) suamiku yang berhasil menyetir mobil selama 12 jam lebih. Tepuk tangan dooonk.

Sampe Merak sekitar jam 9,dilanjut naik kapal (hiyaaaaa baru pertama kali naek kapal laut *norak*)

Di kapal kami jalan-jalan-liat-liat-duduk-duduk-poto-poto
Seru juga liat pemandangan laut dari atas kapal.

Jebyuuurr…
Ada yang terjun dari kapal ke laut, Wow.
Ternyata mereka biasa terjun nyebur gitu, semacam memperagakan atraksi :p
Pas udah dibawah mereka minta orang-orang yang ada di kapal ngelempar koin. Haghaghag.

We Love Indonesia ^_^


Poke the cloudΒ 


Ndhoooottt
*suara kapal yang mau menepi*


Sampailah di Bakauheuni pukul 11.00
Terus jalaaaaaaan
jalaaaaan
jalaaaaan
jalaaaan
loh koq gak sampe2…

Kata orang, Lampung deket karena tinggal nyebrang dari Merak (enyaaaak deket sampe Bakauheuni nya doang), tetapiiii Lampung yang dimaksud adalah Lampung Tengah, Desa Poncowati, Desaaaaaa se desa desanyaaa… Konon kata kepala kampung yang waktu itu ceramah pas acara unduh mantu, Desa Poncowati adalah desa terpencil dengan populasi paling sedikit se Lampung. Wow. Pantesan.

Ini kok Jauuuh bangeet doengdoeng!

Bandar Lampung lewaaat, eh kok masih gak nyampe juga?
Kesyeeel.

But, di tengah perjalanan… When we’re almost sampe lokasi, mataku dihibur oleh beberapa pemandangan…


Ada kebo di depan sekolah hihihi




Wuaaa BT hilang seketika…
Swejuuukk buanget

Semilir angin, pohon, sawah, sungai, sapi, matahari sore, kerbau, hujan rintik-rintik, wangi kampung, asap mengepul dari rumah. Sweet.
Sesuatu yang sangat mahal untuk orang-orang Jakarta yang setiap hari berteman kepulan polusi, asap rokok di jalanan dan gedung-gedung. Hukshuks.

Jam 17.40 akhirnya sampai ditempat tujuan. Fiiuhh. Hamdulillaah.

Sesampainya di rumah Bu Dhe, ngobrol sana sini, kenalan sana sini.
Eh eh… Kok nggak berasa di Lampung ya?
Berasa di sebuah desa di jawa tengah / timur, semua orang berbahasa jaaawwaaa.

Tukang dekor rumah, para asisten rumah, para tetangga, Kepala Kampung, Ustadz semuuuaaah berahasa jawa. @,@
Ini Lampung apa jawa? Ngeeek… Baru sadar kalo jaman dulu banyak orang jawa yang pindah a.k.a jadi transmigran ke Lampung ini, panteees aja dimana-mana orang jawa, nama desa juga bernuansa jawa.

Hohoho ini Lampung tapi rasa Jawa.


Habis menjamak shalat, malemnya tidur tok.
Capek & Ngantuk.

Kukuruyuuukkk…
*suara ayam di pagi hari*

Ahad, 20 Maret 2011

This is the day. Acara unduh mantunya, aku dan adik ipar dandan minimalisΒ  qiqiqiqiq Berbekal celak mata Rani KOHL (aku kasih link, in case, you haven’t know it, nggak promosi coz nggak tau juga siapa yang jual ) sama lipgloss akhirnya kita beres dandan Hihihi.

Pose yang aneh @,@


Sambil nunggu rombongan besannya Budhe, aku poto2 jalan…
Di depan rumahnya Bu Dhe, ada petani yang lewat dari sawah pake sepeda lagi
, what a view. ^_^



Masih dalam rangka menunggu, banyak bocah yang tampaknya lucu kalo dipoto, aku minta mereka berkumpul, lalu jepratjepret deh ala Anty kwkwwk
merekaa… engg entah siapanya suamiku, sodara pokoknya


Acara unduh mantunya sampe malem kali yah…
Bosen, akhirnya kami kabur ke belakang rumah, nyari tempat yang asri, eeh sawahnya masih rada jauh, yang deket adanya sungai sama sapi, yaa sutra deeh nyemplung disana (note: pake gaun kondangan wkwkwk)

Ada Capuuuung, gotcha!


Oiya aku dan suami pulang duluan karena dia ada rapat mendadak hari seninnya, huhuhu padahal masih betaaah sm suasana desanya, tadinya sih hari senin kami sekeluarga mau jalan-jalan. Nggak jadi deeh. Huhuhu.

Jam 17.00 kami berangkat meninggalkan Poncowati menuju Tanjung Karang – Bandar Lampung diantar Om Harno, disana ada bus dari Lampung sampai Jakarta-Gambir.

Ditengah jalan, hampir maghrib…
Dari dalam mobil kami terpana melihat langit yang luar biasa cantik, mega berwarna jingga, pink, ungu dan biru, perpaduan warna yang wah… Subhaanallah.


Amsainaa wa amsakalmulku lillaah

Sampai di Tanjung Karang sekitar jam 20.51, it means kami menempuh perjalanan dari Poncowati sekitar 3 jam lebih.
Sebelum naik bis, liat kereta… Palembang-Lampung kalo gak salah ya? Bener gak? Ternyataaa… Lampung-Palembang jauuuh juga. Ffiiuuh.

Di Bis, aku langsung tidur pulas, tautau sampai merak.
Pas mataku melek, ditengah gelapnya bis aku melihat ada muslimah yang lewat

Ah gak kenal, lanjut tidur. Zzz.

Sampe di Gambir, tiba-tiba ada yang manggil:

“Antyy!!”

Kaget!
Hooo… Ternyata yang manggil tadi itu
Susi temen MPku yang pernah kutemui di Botanical Square Bogor wkwkwkwk
Masya Allah berarti semalaman aku satu bis dengannya! Subhanallaah. Takdir.


Beberapa hari setelah itu… Aku juga terkaget-kaget setelah tahu kalau salah satu teman kantorku adalah teman kosnya Susi di IPB dulu. wkwkwkw

What a flat world.


Overall, it was a very great trip. The lovely one.
Mari berpetualaaang. Menjelajah Indonesia


Β  Poto-poto jepretan Anty

97 thoughts on “Dari Desa di Lampung Rasa Jawa

  1. samsiah iah

    hehe…iya lucu juga… ada di lampung tapi serasa di jawa… itu juga yg aku rasakan waktu menikahkan adek dengan orang jawa yang transmigran ke lampung ^_^
    orang lampung asli tinggalnya di bandar lampung…

    Reply
  2. susie ncuss

    oo… jadi itu tho reaksimu waktu aku lewat di deketmu hiks hiks
    *padahal sendirinya juga ga ngeh ada makhluk bernama anty di bus yang sama =))*

    lampung memang banyak desonyaaaa :))

    Reply
  3. Mia Mia

    wah seru perjalanannya jdi mengingatkan ku pada alm bapak.
    di Lampung memang banyak orang jawa nya nty & orang tasik, makanya ibu & alm bapak ku jadi bisa bahasa jawa/ngerti karena pernah buka usaha di sana, di pegunungan, berkebun kopi dan jualan sembako, waktu aku blm lahir katanya.
    inget banget kalau pergi ba'da ashar/ maghrib biar sampe di sana pagi. disana biasanya seminggu
    pulang2 bawa pisang tanduk, kopi lampung dan suka bawa buah jaling yang rasanya mirip jengkol tp bentuknya lucu kayak kancing πŸ™‚
    ahhh jadi kangen bernostalgila

    Reply
  4. Mia Mia

    mungkin pernah waktu masih bayi πŸ™‚
    karena ibu ku di sana pas hamil aku
    pengen banget naik kapal trus kesana ,tetangganya pada baik katanya.

    eh iya ,dulu waktu kakek ku meninggal, alm bapak ku kebetulan lagi di lampung.
    alm bapak jadi guru ngaji juga disana..jadi informasi kakek meninggal nya lewat radio RRI
    *dulu kan blm ada hp*

    Reply
  5. tintin syamsuddin

    hahaha kirain lampung deket setelah nyebrang ya.. sama dong orang lampung juga kita jakarta itu deket setelah nyebrang merak.. selamat menempuh hidup baru buat sodara di lampung ya.. iya kebanyak orang sumatera juga orang jawa tuh..

    asik ya dunia sempit ternyata ketemu empeyer juga eh temen kost temen kantor..

    Reply
  6. lala luthfiy

    anty…dirimu….sangat “ceria” ternyata yah?????

    za bilang kita mirip bagian sanguinisnya..
    ah ternyata ga, lala secupritnya anty aja..wkwkwk..lala kan kalem..

    Reply
  7. lala luthfiy

    iyo, ada padangnya dikit. ada tubannya dikit (lha koq kek nyritain silsilahnya uwi ya….)

    belum sempet anty..
    lala lagi ngejar buat cuti ni. besok senin dah mulai cuti panjang hehehhehe..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s