Tentang Malaikat, Iblis dan mengapa aku Manusia?

Pertanyaan yang selalu meminta dikeluarkan oleh isi otak ini akhirnya terjawab sudah.

Suatu saat aku bertanya pada diri sendiri…
“Mengapa aku tidak diciptakan menjadi bidadari saja?
Duduk-duduk dalam tenda menanti mujahid dan ahli syurga dengan bersih, tanpa noda hati dan raga?
Indahnya… Tanpa perlu berpeluh lelah, tetap cantik jelita Hihihi

Atau… Mengapa tidak dijadikan malaikat saja yang seumur hidupnya taat?
Tidak usah bersusah payah melawan hawa nafsu dan kejahatan dalam diri?
Enaknyaaa… Pasti masuk Syurga. 

(it’s my personal problem, no need to tell me how they’re jealous to shalihah women in the world )


Padahal jelas-jelas disebutkan bahwa manusia adalah makhluk paling mulia.
The masterpiece of Allah. Allah Maha Cinta pada manusia.
Tapi… Sungguh tidak mudah menjadi manusia, yang dalam jiwanya terdapat dua kubu malaikat dan iblis, berperang setiap waktu. Tidak selamanya menjadi jahat dan menjadi baik.

Ia diberikan privilege bernama: PILIHAN.
Ia sendiri yang memilih bagaimana akan mendominasi warna hidupnya, dengan hitam atau putih?

Tak seperti bidadari dan malaikat…
Kami -manusia- ini berjuang sekuat tenaga untuk menjadi baik, berperang setengah mati untuk melawan godaan.
Kami patuh karena kami memilih untuk patuh: itu artinya… kami menang melawan the dark side dalam diri
Tak jarang kami jatuh, karena kami lengah, kami tersungkur ke dalam kubangan kenistaan. Kami kalah.
Perjuangan adalah keniscayaan dalam perjalanan kami menuju Ilahi.
Semoga bukan sebuah kesombongan karena telah berjuang.

Aahh Allah, semoga aku selalu ingat untuk bersyukur pada-Mu



Dilain waktu, aku berpikir tentang syukur…
Mengapakah tidak bersyukur menjadi manusia? Masih untung jadi manusia, coba dijadikan hewan, syetan atau iblis? Naudzubillah.


Alkisah dari mulut ke mulut, dari blog ke blog, dari diskusi ke diskusi
Pikiranku menganalogikan sesuatu yang aneh: Kisah Iblis sebelum diturunkan dari syurga adalah seorang makhluk berasal dari golongan jin yang ta’at kepada Allah hingga disejajarkan dengan malaikat, lalu hanya karena kesombongannya menganggap dirinya lebih baik dari manusia hingga dia tidak mau menuruti perintah Allah untuk bersujud kepada manusia pertama: ADAM.

Pikirku saat itu: Kasihan sekali. Hanya karena sombong, seorang makhluk yang ta’at bisa menjadi nista?

Setelah diskusi dengan seorang sahabat, aku merasa bahwa otakku ini belum banyak isinya dan aku salah berpikir. Harusnya logika ini dibalik.
Sebuah kalimat dari rekan diskusi itu menghujam otakku yang tumpul ini:


Kesombongan dan kekufuran, tidak bisa terobati oleh amal setinggi apapun

That’s the point!

SOMBONG dan Kufur (membangkang) adalah sumber masalahnya.

Iblis telah sombong merasa dirinya lebih baik dari manusia.
Ia pun dengki terhadap Adam sehingga meminta waktu untuk menghasut manusia ke jalan sesat selama dunia ini belum kiamat.

Sombong itu akar dari segala penyakit hati lainnya, ia menumbuhkan dengki, ghurur, sum’ah, riya’ dan lainnya. Ia menelusup ke kejahatan hati dan fisik. Merambat menjadi kejahatan-kejahatan pribadi lalu kejahatan sistem. Wow menyeramkan.


Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata :
“Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” Seorang laki-laki bertanya :”Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab : “Sesungguhnya Alla itu Indah, Dia menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.”

Well, semoga hanya aku orang yang berpikir kenapa aku manusia dengan pikiran-pikiran nyeleneh seperti tadi.

*sigh*

 



Oya, berikut aku copy paste ‘irisan’ tulisan tentang Iblis, manusia dan malaikat di sebuah milis:

***
Ada tiga jenis makhluk: Malaikat, Iblis, dan Manusia.
Malaikat mulia karena bila diajak Allah berdikusi, super kritis!
Tetapi kalau sudah turun perintah (untuk menghormati manusia [Adam]), langsung tunduk patuh ikhlas menjalankan.

Iblis kebalikannya, waktu diskusi pasif, tetapi ketika turun perintah
ngeyel. Mempertanyakan alasan perintah kepada Allah.

Manusia, somewhere in between. Tetapi kemuliaan manusia terjaga,
ketika terjebak/menjatuhkan diri dalam dosa dan merasakan dosa itu
menyengsarakan jiwa, manusia tidak berputus asa terhadap ampunan dan
rahmat Allah. => berarti jangan putus asa ya *Anty said*

Sebaliknya Iblis [katanya akar kata Iblis itu Balasa (berputus asa)],
dia berputus asa dua kali.
Pertama di langit sebelum dia dikutuk,
dia telah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah akibat dengkinya yang sangat besar kepada manusia. Iblis bersumpah akan menjatuhkan manusia dengan berbagai cara, inilah permusuhan abadi.
Kedua, Iblis
berputus asa terhadap pekerjaannya menggoda, setelah manusia yang
jatuh dalam dosa dan menyadari penderitaannya, meminta ampun dan diampuni Allah. Jadilah manusia itu Arif (dewasa, waskita). Ini harapan jemaah haji di padang Arafah, menjadi Arif. Dan memang di Arafah itulah, menurut Nabi Muhammad SAW, Iblis berputus asa dan nampak seperti orang gila.

Iblis dipastikan kafir (tertutup diri) karena dua tabiat: Malas dan Sombong.
“Malas” terkait dengan keengganan bergerak karena merasa nyaman secara fisik. “Sombong” terkait dengan keengganan menerima kebenaran dan merendahkan manusia karena merasa dirinya sudah berilmu tinggi dan dekat dengan Allah.


 Astaghfirullaah… Nih berarti manusia gak boleh males kalo gak mau disebut Iblis *Anty nangis dipojokan*

Iblis memang sangat bahaya, sebab sifat dasarnya adalah senang melihat manusia tidak senang, dan tidak senang melihat manusia senang. Inilah kebencian yang terfokus, segala macam jenis tenung atau santet mengikuti pola ini.

Meski demikian Islam ternyata menempatkan Iblis sebagai makhluk yang
bisa diatur atau dikalahkan oleh manusia. Yang bahaya dari Iblis itu bukan penampakannya, tetapi godaannya yang menggelincirkan. Iblis tidak mampu menggoda orang yang ikhlas, pandai bersyukur, orang yang berilmu (ulil albab).
***

*Photo dari gugel

Advertisements

45 thoughts on “Tentang Malaikat, Iblis dan mengapa aku Manusia?

  1. Luqman Hakim

    Pertanyaan pertama ketika manusia sadar dirinya hanya makhluk fana, “siapa saya?”
    Jreng… perjalanan filsafat manusia dimulai, sama ketika Nabi Ibrahim A.S. mempertanyakan siapa dirinya, siapa Tuhannya.

    Selebihnya jawab sendiri-sendiri ya, jawaban yang nggak akan pernah sama.
    Dan tulisan Anty ini bagus buat nganterin ke alam bawah sadar pertanyaan filsafati tersebut.

    Reply
  2. Rasyid Isa

    manusia terlahir fithrah, suci, dan kemudian syaithan menggodanya, merusak kefithrahannya. sebagaimana nabi Adam ('alaihissalam) yang telah terisi dengan fithrah ketaatan, namun digoda syaithan, dan kemudian beliau bertaubat.

    Karena asal manusia adalah fithrah, maka essensi taubat adalah “kembali”. Kembali ke jalanNya.

    Taubat ini sebenarnya parsial. misal, ketika seseorang rutin menjalankan shalat zhuhur namun dia mengabaikan shalat ashar, kemudian dia bertaubat dengan tidak mengabaikan shalat ashar, maka dia dikatakan “taubat dari meninggalkan shalat ashar”, dan secara esensi adalah :”kembali (atau mendekat/menuju kembali) ke jalan Allah dalam memperlakukan shalat Ashar”.

    Allah tidak pernah menjadikan manusia sendirian, tanpa petunjuk dan pedoman, namun manusia-lah yang kehilangan pedoman itu baik sebagian2 ataupun keseluruhan..

    the essence of truth is not something new, but it is something we'd lost and then we've found it again… insya Allah 🙂

    Wallahu a'lam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s