[Xenophobia] Si Gadis dan Para Pria dari Kerajaan Majapahit

Seperti teman-teman yang lain, sebelum memberanikan diri menyerahkan tulisan ke http://www.wayanlessy.multiply.com aku pun mencari tahu definisi yang tepat agar tulisanku tidak melenceng jauh dari yang diharapkan penyelenggara lomba.
Here i go, ikut meramaikan lomba tentang Xenophobia nya Mbak Lesly meski mungkin tulisan ini belum layak diikutsertakan, tapi aku ingin menuliskan ini untuknya: Mbak Lessy. ^_^

Okay then, ini salah satu definisi yang kudapat dari search engine google:

Xenophobia adalah sebuah kebencian atau rasa benci yang tidak beralasan terhadap orang asing atau sesuatu yang berbau asing yang diakibatkan oleh rasa kebangsaan yang berlebihan. Xenophobia selain karena rasa kebangsaan yang berlebihan, juga bisa diakibatkan dari rasa kesukuan, kebangsaan, atau tempat asal yang sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan terciptanya diskriminasi terhadap orang lain. Dalam hal ini orang asing atau segala sesuatu yang berbau asing.

Sumber: KOMNAS HAM, SUAR, No. 06/tahun II, Januari 2001 dan berbagai sumber lainnya.

Ah, definisi yang kemudian membuka kotak memoriku ke sebuah file tentang cerita seorang gadis di tahun-tahun yang telah berlalu. 
Tentang seorang yang terlahir sebagai mojang priangan (sebutan bagi gadis sunda), kisahnya dalam menemukan belahan jiwa ternyata menjadi cerita unik tersendiri.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa suku di Indonesia agak “senewen” dengan suku lainnya dalam masalah pernikahan,salah satunya JAWA Vs. Sunda

Kisah ini bermula semenjak semester 2 di bangku kuliah, si Gadis sudah memberanikan diri dengan meminta ijin pada Ibunya untuk menikah, saat itu usianya sekitar 18 tahun. Alasannya? Banyaaaaaak, dari A-Z (hmmm kalau harus dituliskan disini rasa-rasanya akan menghabiskan ribuan kata yang kalau dihitung wordcount melebihi ketentuan lomba )
Sang Ibu mengiyakan karena alasan-alasan yang dikemukakan si Gadis amat rasional dan insya Allah tidak mengganggu perkuliahan dan kehidupan keluarganya.

Kembali ke Gadis usia 18 tahun yang meminta ijin menikah…
Semangatnya menggenapkan dien makin menggebu seiring dengan buku-buku, seminar dan dauroh bertema pernikahan, Ia semakin mantap untuk menikah di usia dini. 
“Bismillaaah” katanya.

Ia pikir dengan segala persiapan yang ada (seadanya ), semangat, doa-doa nya untuk menikah saja sudah cukup untuk menghadirkan Sang Pangeran dari-Nya? Ia kira sebelum wisuda sarjana Ia sudah bisa menggandeng Pangeran Jodohnya.
Ouu… ternyataaa….

Perjalanan menemukan Pangeran pilihan-Nya itu amaaaaaaaaaaaaaaaaaaat panjang dan berliku.
Bertemu dengan berbagai macam pria dengan segala latarbelakangnya.

Dari yang single-yang duda
Dari yang tua-brondong
Dari yang dikenalkan sampai yang sudah kenal
Semua peluang jodoh yang datang pada si Gadis sudah dicobanya, namun ikhtiar belum selaras dengan hasil.

Setelah direnungkan dan dianalisa… 
Si Gadis baru menyadari bahwa hampir semua peluang itu selaluuuuu datang dari satu suku tertentu, suku yang kabarnya memiliki asumsi negatif terhadap perempuan dari suku Sunda: JAWA

Siapa yang bertanggungjawab terhadap Xenophobia Sunda Vs Jawa ini?
Latar belakang perang Bubat kah alasannya?
Hingga akhirnya Perempuan Sunda demikian buruk dalam pengkisahan leluhur Jawa?
Arrrghhh 
Siapa yang salah? Siapaaaa???

Kenapa baru sadar ya? Selama ini kenapa selalu “dipertemukan” dengan para pria dari suku tersebut?

Pria A keturunan Jawa Timur – Jawa Tengah
Orang tua Sang Pria ANTI menikahkan anak-anaknya dengan orang Sunda. DONE. GAGAL.
Sang Ayah memiliki trauma mendalam terhadap orang-orang dari suku Sunda. 
Sungguh,saat itu  rasanya hinaaaa sekali terlahir sebagai orang Sunda 
“apa salahkuuu” batinnya.


Pria B dari Jogjakarta
-_-” Again? Kenapa wong jowo lagi cobaaaa??? Aaaaa 

Orang Tuanya agak risih dengan perempuan sunda, meski begitu Sang Pria tetap berusaha melobi orang tuanya untuk terlebih dahulu bertemu dan berkenalan langsung dengan si Gadis.
Setelah bertemu kedua orang tuanya, si Gadis merasa bahwa aura penerimaan mereka pada si Gadis terlihat dingin :-s. Gadis galau karena Sang Pria begitu gigih berjuang untuk tetap berproses dengannya. Qadarullaah setelah beberapa waktu beristikharah dan berpasrah sampailah pada keputusan untuk tidak melanjutkan proses. 


Pria C keturunan Jawa Timur 
Sang Pria minta dicarikan Istri melalui temannya, lalu temannya langsung terpikir untuk menjodohkannya dengan si Gadis, tapiiii Sang Pria prefer tidak dengan orang Sunda meski setelah melihat si Gadis, sang pria berubah pikiran. Si Gadis merasa heran “Kenapa dengan Perempuan Sunda? Kisah serupa lagi kah?”.
Si Gadis tidak mantap dan memutuskan untuk tidak melanjutkan. Heuheuheu

Pria D dari Jawa Timur
Jowo agaiiinnn??? Kutukankah?

Orang tuanya pernah seletingan mendengar kabar kurang sedap tentang orang sunda meski mereka tetap open mind bahwa semua berpulang pada pribadi manusianya bukan sukunya, setelah dilobi macam-macam, Qadarullaah memang bukan jodoh akhirnya…

Pria D Keturunan Jawa tengah dan Timur
Pria E dari Jogjakarta
dan seterusnya…. dan seterusnya….

Tahun demi tahun terlewati dan si Gadis belum juga menemukan jawaban: siapakah Jodohnyaa???
Mulai lelah, mulai terbangun Xenophobia akan suku Jawa
“Teh, aku kapok berikhtiar dengan Suku Jawa, aku bener-bener trauma, siapa yang minta dilahirkan dari suku sunda sih teh? apa salahnya suku sunda sama suku jawa teh hingga nasibku begini huhuhuu” keluhnya sedih

Meski pengetahuan akan qada, qadhar, jodoh, dll sudah ia khatamkan, tapi ternyata ketika menghadapi sendiri kenyataan “gagal berproses” dengan hambatan bernama suku sunda yang selalu berulang membuat si Gadis lemah juga heuheuheu


Waktu berlari begitu cepat, tak terasa 5 tahun sudah Ia berjuang untuk menemukan pangeran jodohnya… 
Hingga pada suatu titik Ia merasa benar-benar lelah berusaha, mengikhtiarkan semuanya…
Ia berpasrah pada-Nya saja…
Ia bahkan sudah lulus kuliah dan bekerja saat itu…
Qadarullaah Ia harus mau dimutasi ke Ibu kota karena tugas barunya, Ia tidak memiliki sanak saudara disana, pun teman yang dikenalnya dengan baik. 
Ahhh teringat Ianya pada salah satu online buddy dan menanyakan perihal alamat yang akan dia tempati sebagai kantor. Masya Allaah ternyata kantornya itu masih satu kecamatan dengan rumah sang online buddy.
Tidak ada firasat apapun ketika akhirnya dibantu orang tua Sang Online Buddy menemukan tempat kos, hingga saat orang tua si online buddy tersebut bertemu dengan si Gadis dan keluarganya, Beliau menyapa begitu hangat, hangat yang berbeda, hangat yang diinterpretasikan oleh Ibu si Gadis sebagai penanda “suka” Sang Ibu terhadap si Gadis “untuk dijadikan calon mantu” 

Dan benar saja ternyata feeling Ibu si Gadis tersebut dengan pernyataan mendadak & tiba-tiba dari Ibu Sang Online Buddy: “Semoga anak kita berjodoh ya buu” -__-” 
Kaget, shocked, dll


Walaupun agak shocked dengan ungkapan tersebut, tapi itulah saat pertama kalinya ada keluarga Jawa yang begitu hangat bertemu dengannya, kala itu si Gadis benar-benar tak percaya ada keluarga Jawa yang tidak mengidap Xenophobia terhadap sukunya.

Saat Xenophobia terhadap suku Sunda itu tidak diindahkan oleh keluarga Sang Online Buddy
Saat si Gadis sudah pasrah akan takdirnya dan tidak ada lagi Xenophobia terhadap Suku Jawa
Akhirnya Si Gadis Sunda ini berjodoh dengan Sang Online Buddy keturunan Jawa, karena orang tua yang insya Allaah ridha

Ternyata, dalam hal pernikahan tidak semua Suku Jawa mendendam Xenophobia pada Suku Sunda, ini hanya tentang persepsi lama, hanya soal jodoh, hanya soal mitos, dll
Buktinya keluarga Sang Online Buddy justru merasa senang dan tidak mempermasalahkannya, dan si Gadis yakin bahwa Ia bukanlah satu-satunya Perempuan Sunda yang mengalami kisah serupa. ^___^

So, Jawa atau Sunda tidak masalah kan? 😉


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 
(Al Hujuraat : 13)


Sumber foto dari sini 

———
Demikian kisah Si Gadis dan Xenophobia-nya, semoga masih bisa ikut berpartisipasi dalam lomba Xenophobia nya Mbak Lessy, kalau sudah telat dan tidak sempat maka tulisan ini Anty tujukan sebagai hadiah untuk Mbak Lessy yang baik hati. ^___^

Hummm wondering, would it be my last journal? TT___TT
MP oooh MP….
Advertisements

63 thoughts on “[Xenophobia] Si Gadis dan Para Pria dari Kerajaan Majapahit

  1. zarah sera

    Eh ktnya malah Bagus, suami jawa istri sunda..bakalan cocok kt org2 mah..yg kurang cocok suami sunda istri jawa,,ktnya mah ,ini kata orang2 sini sih (baca: Bandung)

    Reply
  2. desti .

    ihihihi.. iya ya teh, aku juga pernah dengar gitu..
    klo ibuku dulu sempet agak sensi wktu ada yg “berniat” tapi dari sulawesi.. bisa jadi orangjawanya ya yang high class.. aku orang indonesia aja deh, walopun ortu jawa tapi akunya gak lancar bahasa jawa soalnya (malu klo ngaku orang jawa).

    Reply
  3. Wayan Lessy

    wahhh….politik jaman baheula emang yaaa….ngaruh banget ternyata efeknya.

    Padahal memang semua jadi tergantung pada pribadinya masing2. Bagaimana kemampuan seseorang dalam mengolah pengaruh yang melingkunginya sehingga menjadi kekuatan dan bukan hambatan.
    Tapi memang yg namanya jodoh ya…bukan kuasa kita. ^_^ Yang ada kita bisa berusaha.

    Aku separuh Jawa, bangga juga ngaku berdarah Jawa. Separuh Bali dan bangga juga mengakui itu sebagai bagian jati diri, dan dengan riang aku perkenalkan hal itu ketika datang ke ranah Minang walau awalnya disambut oleh kernyitan.
    Pendekatan secara personal dan kasuistis ternyata perlu di setiap kesempatan.

    Stereotype itu ada bukan tanpa alasan, tapi perlu juga kita MENDIDIK diri sendiri (dan kemudian orang lain di sekitar kita) bahwa data pembangun stereotype itu biasanya terlalu renggang. Terlalu banyak data yang hilang di tengah grafik yang di buat. Dan ketika kita berhadapan dengan individu, stereotype itu nggak bisa jadi dasar penilaian. Baik untuk menilai orang lain maupun bagi orang lain untuk menilai kita.
    Susah?
    hihihi…memang nggak mudah. Tapi jangan pernah merasa sendirian ya dek…jadikan itu penyemangat untuk selalu menyemai harapan, dan prasangka baik. Amin.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s