Kisah persalinan pertamaku: kelahiran Haya Taqiyya

Bismillah…

Setiap kelahiran bayi memiliki kisahnya tersendiri, unik dan pasti berbeda antara satu ibu dengan yang lain, antara satu bayi dengan lainnya. Tidak bisa disamakan.
Begitupun kisah kelahiran putri pertama kami.

Banyak orang menyebutkan bahwa proses kelahiran bebi cilik (panggilan untuk bayi dalam perutku) terbilang mudah, cepat dan lancar untuk ukuran anak pertama. Alhamdulillah hanya sekitar 1 setengah jam di ruang persalinan.

Alhamdulillah berkat ijin Allah, doa dari keluarga terutama orang tua kami dan juga berbagai usaha yang ditempuh.
Kami menyebutnya pemberdayaan diri. Ini yang diajarkan dalam grup Gentle Birth Untuk Semua (GBUS) yang kami ikuti.

Pemberdayaan diri bukan semata hunting tenaga medis yang pro gentle-water birth karena jelas, tenaga medis yang pro gentle water amat terbatas jumlahnya, maka dari itu kami tidak bergantung pada poin tersebut, selain itu bilapun kita telah bertemu dengan yang sevisi belum tentu berjodoh, belum tentu Allah takdirkan.
So, all we can do: give the best effort and pray for the best.

Memberdayakan diri untuk setidaknya agar persalinan bisa mudah, tanpa obat-obatan, minim intervensi medis yang tidak perlu dan menjadi konsumen kesehatan yang cerdas.
Benar-benar memberdayakan diri melalui membaca buku, dokumen di grup, olah raga (jalan kaki pagi, pelvic rocking on the gym ball, senam hamil), relaksasi, induksi alami melalui titik titik akupresure, diskusi dengan berbagai macam tenaga medis, hunting tenaga medis dan tempat persalinan yang cocok dengan visi kami, mengkomsumsi makanan sehat bernutrisi, dll proses melahirkan bisa kuat kami lewati.

Meski belum berjodoh dengan tenaga medis yang melaksanakan metode watergentle, kita masih bisa mengupayakan kemudahan persalinan spontan tanpa obat-obatan dan meminimalisir trauma persalinan pada ibu dan bayi.

Terima kasih kepada:
– Allah SWT. Sebaik-baik Pembuat Skenario, semua atas kuasa-Mu. Tanpa-Mu aku takkan mampu

-Rasulullaah SAW yang membuatku ingat keutamaan perjuangan seorang Ibu. “Ibumu, Ibumu, Ibumu, lalu ayahmu”

– Suami shalih dan baik hati, pangeranku dunia akhirat yang selalu sabar dan setia mendampingi.
You know i love you so much. So much in love with you baby.

-Ibuku, wanita yang melahirkanku, yang menyayangiku, selalu mendoakanku.
Syurga selalu kumohonkan untukmu Ibu. I owe you this life. I love you so muchhhh.

-Ibu dan Bapak mertuaku yang luaaaar biasa baik, hebat, selalu mendukung kami, menyayangi kami.
Terima kasihku dari lubuk hati terdalam, terima kasih telah merawat dan mendidik suamiku menjadi pria terbaik dalam hidupku (setelah alm.ayahku) sebelum kami bertemu dan berjodoh.
Syurga pula yang kumohonkan untuk kalian

-Keluarga, saudara, sahabat serta teman-teman yang telah mendoakan

– Bidan Erie Marjoko untuk cinta, sabar, dan seeemuaaanyaaa meski akhirnya kami tidak berjodoh dalam proses kelahiran anak pertamaku. Jazakillaah khayr.

– Bidan.Yesie Aprilia yang sudi membalas private message ku, menjawab kecemasanku menjelang persalinan malam-malam

– Bidan Yuliana yang beberapa kali berkontak denganku dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

– Bidan Abna, Bidan Hodi dan Bidan Sukma yang membantu proses persalinan di RB Depok Jaya

– Teman2 para member GBUS yang selalu hangat dalam berbagi ilmu 🙂
Yah segala sesuatu memang harus berpondasi ilmu.

Terima Kasih GBUS 🙂

Ou, jadi beginilah kisah kami….
Semoga bermanfaat

3 bulan yang lalu
Depok
Jum’at 24 Agustus 2012
Di rumah

06.00-14.00 WIB
Bolak-balik ke WC untuk pup dan pipis.
Kukira aku akan mencret.
Karena HPL 40 w sekitar 1 pekan lagi.
Mulai nyutnyutnyut 10 menit sekali. Nampaknya bukan “mencret” biasa
Hmmmm
Texting dengan teman-teman yang lebih dulu melahirkan, diskusi macam-macam, tapi tidak ada keyakinan 100% bahwa itu tanda menjelang true labor haaaisshhh. -_-‘
Masih keukeuh berharap bisa melahirkan dibantu Mbak Erie yang masih mudik di Blitar.

14.00 WIB
Kami datang ke RB Depok Jaya untuk memeriksakan kontraksi yang aku alami, guess what? Setelah VT, Mbak Bidannya bilang: masih jauh bu, mungkin sekitar 3 hari-1 pekan lagi.
Aku dan suami saling berpandangan dan tertawa, mungkin saja kami berjodoh dengan Bidan Erie, tempat kami biasa kontrol kehamilan dan beliaulah yang kami rencanakan sebagai tenaga medis penolong persalinan nanti.
Setelah itu, kami kembali lagi pulang ke rumah dengan riang gembira dengan harapan berjodoh dengan Bidan Erie yang masih mudik. Hehehe

18.00-19.40 WIB
Kontraksi mulai intens
Aku nungging-nungging, sujud, dll
Pelvic rocking, atur nafas (masih bisa nih), makan-makan, ketawa-ketawa bercanda dengan suami, tilawah (membaca al Qur’an), texting dengan teman-teman, dikunjungi teman, pokoknya masih saanntaaaiii meski nyutnyutnyut makin terasa 😀

19.40-21.00
Mulai gusar, menghubungi Bidan Erie yang masih mudik, mengabari kondisi, Ia bahkan rela mempercepat kepulannya menjadi hari minggu.

Kirim message FB ke Bidan Yessi dan sms ke Bidan Yuliana menggambarkan kondisi dan menanyakan kapan sebaiknya harus ke RB.
“tunggu flek muncul” begitu kesimpulanku.

Aku belum berani ke RB karena saat itu belum ada flek atau lendir, belum lagi diagnosa bidan tadi siang menahanku untuk tetap di rumah.

21.00-00.00
Kontraksiku makin intens sekitar 2 menit sekali dengan durasi 30-60 detik
Aku sudah ingin menggigit gigit
Setelah sebelumnya terus mencoba mempraktekkan teknik nafas panjang dan terus dzikir.
Tidak bisa tidur meski mata lelah dan ingin terpejam.
Bolak balik WC karena rasanya ingin pup dan pipis.
Suami meminta dengan keras agar aku tidur!
Dan aku malah marah karena aku tidak bisa, aku kelelahan.
Aku menangis, lalu istighfar dan mencoba berbicara dengan janinku
“bebi cilik, kalau mau lahir sekarang ga apa-apa, ga usah nunggu budhe Erie pulang. Bunda ikhlas nak”
Tak lama setelah itu…
Flek!

Sabtu, 25 Agustus 2012

00.20
“Bebiii flek, darah!”
Cemasku memberitahunya saat kudapati flek di celana dalamku setelah aku mencoba berendam di kolam yang airnya tak kunjung penuh karena keterbatasan air yang dimasak memakai dandang.

00.50 WIB
Aku muntah. Ya, beberapa saat sebelum kami memutuskan untuk berangkat ke RB seluruh isi perutku keluar melalui mulut. Pahiiit dan lemas sekali rasanya padahal aku akan melahirkan, butuh banyak tenaga. Allaahhh….

01.00 WIB
Masih di rumah

Aku dan Suami sepakat untuk berangkat ke RB saat itu juga dengan menggunakan motor yang kami miliki. Kami tak lagi terpikir untuk menghubungi taxi, dll semuanya begituuu cepat

Suami segera menyambar tas persalinan yang sudah kami siapkan 1 bulan lalu, memasukkan kurma ke food container dan madu sebagai amunisi.
Di perjalanan, kami kerap berhenti saat kontraksi hingga perjalanan yang seharusnya kami tempuh hanya dalam waktu 10 menit menjadi 30 menit.
Setiap kali kontraksi datang aku meremas kuat-kuat pundak dan leher suamiku sebagai tanda untuk memberhentikan motor.

01.30
Kami sampai di Rumah Bersalin Depok Jaya, aku segera menggedor gerbang RB yang sebenarnya tidak dikunci itu.
Segera setelahnya, seorang bidan memeriksaku melalui VT di ruang persalinan. Yup tangannya merogoh ke dalam jalan lahir anakku. Aku takut.
“Bukaan 6” katanya
Masya Allaah! Berarti sebentar lagi!
Aku terus mengaduh kesakitan dan memohon Mbak Bidan untuk tidak “galak dan jutek” selama menolong persalinanku, ohya aku dibantu oleh 3 orang bidan, 1 agak galak, 1 agak pengertian dan 1 lagi ramah.

It’s a surprise and unpredicted labor, aku tidak tahu akan melahirkan hari itu, pun siapa bidan yang akan menolongku.
Aku hanya berdoa diberikan yang terbaik oleh Allah.
Tubuhku menggigil, aku langsung diobservasi di ruang tersebut.
Lalu, bidan yang ramah memberikanku minum teh manis hangat
Tak lama aku muntah untuk yang kedua kalinya.
Allaah bagaimana ini? Allaah tolonglah kami
Aku membujuk-Nya.
Rasanya itu adalah titik tertinggiku memohon kepada Allah, dalaam, dalaaam.
Waktupun terasa lamaaaa sekali.

02.25 WIB
“Bukaan 8” kata Mbak Bidan
Saat itu pula ketubanku pecah, byaaarrr rasanya udah ga karu-karuan, seolah ada dorongan untuk mengejan padahal memang aku tidak sengaja mengejan, sedang Mbak Bidan belum mengijinkanku mengejan. Rasanya ituuuuu errrr seperti pup udah diambang pintu tapi ga nemu WC 10x lipatnya heuheuheu

Sementara otak primitifku yang bekerja, ternyata aku belum berhasil mempraktekkan teknik nafas yang kupelajari saat hamil, aku belum berhasil mengatur emosi, belum berhasil menaklukkan diri untuk bersabar saat anakku berjuang membuka jalan lahir, belum berhasil untuk tidak berteriak dan mengaduh kesakitan. Ya, aku berteriak-teriak hingga seantero Rumah Bersalin mungkin mendengar.
Aku merasa akan mati saja, aku memohon maaf kepada suami yang setia menemani di sampingku
Aku memintanya meridhaiku jikalau waktuku hanya sampai hari itu.
Aku menangis, tapi suamiku meyakinkan bahwa aku kuat, aku mampu. Disaat yang sama ia menyuapiku buah kurma segar yang kami bawa dari rumah.

02.45
Bukaan lengkap!
“Ayo sekarang ngeden buu, jangan tanggung-tanggung”
Setelah beberapa kali berusaha ngeden, aku berhenti sejenak dan tak lama kemudian suami menyemangati “beb, ayo beb kepalanya udah nongol”
Haaaa iyakah? Secepat ini? Pikirku

Ditengah perjuangan tersebut aku masih sempat berusaha dan memohon agar tidak diepis (episiotomi: pengguntingan jalan lahir) kepada bidan, namun akhirnya ia tetap melakukannya, alasannya karena bayi keluar masuk jalan lahir (ah mbak bidan, andai engkau mau lebih sabar sebentar, kepalanya kan udah muncul)
Setelah ngeden panjang 2 kali, akhirnya kepala bayiku keluar, bulat sempurna Allaahu akbar!

03.08 WIB
Subhanallah walhamdulillah walaa ilaah illallaah wallaahuakbar!
Bayi kami lahir ke dunia, sehat sempurna langsung skin to skin contact.
Ajaib! Ia yang awalnya menangis kencang, menjadi tenang diatas dadaku, indah sekali… :’)
Kami bertiga berpelukan penuh haru, ini benar-benar perjuangan kami bertiga. Aku, bayiku dan suami tercinta.

Alhamdulillah telah lahir putri pertama kami melalui persalinan normal spontan dengan berat 3.5 kg dan panjang 49 cm.
Skin to skin contact dilakukan bersamaan dengan saat penjahitan jalan lahir oleh para bidan 🙂
Setelah itu diadzani dan menyusui Taqiyya untuk pertama kalinya.

Ba’da.shalat subuh 05.15
“Assalamu’alaikum, Bu alhamdulillah bu, Anty sudah melahirkan” suamiku mengabari ibu dan mertuaku melalui telepon.

Berbagai ekspresi haru, terkejut, senang semua menjadi satu. Tidak ada yang tahu bahwa dini hari itu aku akan melahirkan.

Mertua di Utan Kayu -Jakarta dan Ibuku di Sukabumi.
Ya, aku memutuskan untuk melahirkan di Depok, bersama suami.
Well, yah selama hamil apalagi melahirkan rasanya berat sekali kalau berjauhan dengannya *blush*
Berbekal ridha Allah, restu keluarga, usaha dan doa, insya Allah kami bisa 🙂

Demikianlah perjalanan kisah persalinan yang menghabiskan waktu satu jam setengah saja di ruang bersalin itu ternyata sudah dimulai sedari pagi 24 Agustus 2012 hihihi

——

Oiya, Kami beri nama ia Haya Taqiyya (Putri yang bertaqwa) mudah-mudahan sebagaimana namanya ia menjadi putri yang shalihah, berbakti kepada orang tua, bertaqwa dalam arti sesungguhnya, dalam makna terbaik seorang muttaqiin. Allaahumma aamiin.

Sekarang kami sedang meneruskan perjuangan setelah melahirkan: exclusive breastfeeding.
Mohon doakan kami agar menjadi orang tua yang amanah yang mampu merawat dan mendidik sebaik-baiknya.
Aamiin 🙂

Advertisements

26 thoughts on “Kisah persalinan pertamaku: kelahiran Haya Taqiyya

  1. cimut78

    Mabrook Mba Anty…*Aku masih menunggu kurleb 8 minggu lagi Insya Allah…Smg Taqiya Menjadi Anak Yang Sholeha, Cantik hati dan Fisik, Sehat, Pintar, Bertaqwa, Amien

    Reply
  2. Iwan Yuliyanto

    *ikut mengaminkan do’anya.

    mbak Anty dan mas Miftah pinter ngasih namanya, setiap memanggilnya bisa menjadi do’a dan sekaligus pengingat.
    Melihat foto Taqiyya langsung berasa bau bayi yg khas, saat kulitnya kemerah-merahan.

    Reply
  3. andiahzahroh

    Sama Teh, aku juga teriak-teriak
    Nggak kedengeran seRS si, tapi ruang sebelah mungkin kedengeran
    padahal dari awal udah bertekad bakal “melahirkan cantik” ternyata akhirnya gabisa
    sempat bilang juga ke suami: Rasanya kayak mau mati
    padahal mah mungkin masih jauuuh dari rasa mau mati
    Sempet kapok melahirkan
    tapi ternyata beberapa jam kemudian lupa kapoknya dan bertekad melahirkan lagi 2 kali (rencananya :p)

    Ahh, pengalaman tak terlupakan seumur hidup 🙂

    Reply
  4. zarahsafeer

    sangat wow, percaya diri menahan sakit di rumah lalu tergopoh-gopoh ke RSB..eh kalo anty pake tereak2, aku kenya emg tipe pendiem deh..bisnya ga bisa tereak hihihi..dokter n bidan jg pada bilang “ga sakit bu?”..hmmm…iya sih..berasa gada rasa…apa aku disuntik penghilang sakit yah? ahahhahah…#masih heran kenapa ga sakit, yg sakit pas pembukaan 7 menuju lengkapnya

    Reply
  5. donasofia

    Assalamu’alaikum, salam kenal mba….

    SUBHANALLAH, bagus banget ceritanya ampe ga kerasa airmata ikut berlinang…oiya, saya juga sedang menanti buah hati yang ke-2 dan sangat berharap bisa menjalani persalainan normal dengan minim trauma, setelah sebelumnya melahirkan dengan operasi caesar pada anak yang pertama…

    terimakasih untuk sharing ceritanya yang mengharu biru…selamat menikmati keindahan menjadi Ibu yang seutuhnya….

    SEMANGAT ASIIIIII !!!

    Reply
  6. Haya Najma

    selalu deg2an kalo baca cerita melahirkan 😀
    kalo nggak diepis mungkin nanti bisa ngga rapi robeknya mba, qiyya gendut gitu, hihi..
    temenku waterbirth juga robeknya ngga rapi, karena ngga diepis, ambil hikmahnya aja ya mba, mudah2an yang kedua nggak perlu diepis lagi 😀

    Reply
  7. dinar

    subhanallah….sampe netes air mata ini, semoga nanti saya bisa gentle birth ya mbak….
    tp sampai sekarang blm nemu bidan atau dokter yg srek, semoga sy segera dipertemukan karena sudah mendekati hpl nih

    Reply
  8. ukhtikecil88

    baru baca aku teh.. jadi inget waktu lahiran aila.. heu..
    waktu kerasa mulai kontraksi aku lagi sendiri ri ri di rumah, ortu masih ngajar di sekolah, suami di perantauan
    kupake jalaaaaaaaaaannn sampe nggak sanggup jalan, trus pas ortu pulang aku nggak bilang kalo udah kontraksi, hehe..
    siang itu aku dianter kontrol ke dokter (emang jadwal kontrol, wong baru 38w), dan dengan dudulnya aku juga nggak bilang kalo udah kontraksi ke dokter *krik krik
    pulang dari dokter kontraksi semakin hebat, baru ortu tau, eh.. malah diajakin makan di resto
    alhasil aku makan-jalan-makan-jalan-makan-jalan sambil nyengir2 pas kontraksinya datang
    trus pulang, sorenya kontraksi udah 15 menit sekali jadi kami putuskan buat ke RS (RSnya jauh, jadi berangkatnya cepet)
    di jalan masih sempet mampir di masjid buat sholat maghrib
    keluar dari mobil kontraksi, jalan lagi sampe di tempat wudhu kontraksi, selesai ambil wudhu kontraksi, jalan masuk masjid pake mukena kontraksi, selesai sholat kontraksi, jalan ke mobil sampai depan mobil kontraksi *amazing dah rasanya 😀
    sampe RS diVT bukaan 3, dan sampe menjelang bukaan 5 masih makan, becanda sama keluarga, baru deh mulai ‘merana’ pas disuruh berbaring di kasur dan diinfus
    aku nggak pake teriak2 teh, cuma atur nafas dan remes2 tangan mama :p
    aku juga nggak sengaja ngeden pas bukaan 9, jadi ketubannya pecah
    tapi yg berkesan banget itu kebaikan bidan yg rela dan ikhlas bersihin (maaf) pup ku yg berkali-kali keluar gegara nggak kuat nahan ngeden *salut banget sama bubid
    nggak terlupakan banget ya, tapi anehnya kok nagih ya? 😀
    *panjang beuuuuudd komennya, maap ya teh :p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s