Category Archives: For You Ukhti

I feel you, dear wifey…

Episode hidup senantiasa berganti
Kemarin anak-anak sekarang dewasa
Kemarin ditanya kapan menikah sekarang ditanya “sudah isi?”
Ah pertanyaan basi yang tak kunjung mereda, seolah dunia ingin tauuuuu saja persoalan hidup kita meski kita bukanlah selebrita.

Rasanya ingin abaikan sederet pertanyaan basi itu ya? Tapi kenapa tidak bisa? Apa tidak sekalian ditanyakan kapan mati saja? Posisinya kan sama. Jodoh, rezeki, maut hanya Allaah yang tahu. Continue reading

Tetangga Maya OK, Tetangga Nyata Apakabar?


Ini pertanyaan yang aku lontarkan didepan cermin


Firman Allah Ta’ala: “Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat den tetangga yang jauh” (An Nisa’:36)


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari AKhir, maka janngan menyakiti tetangganya” (HR. Mutafaq Alaih)




Setelah bertahun-tahun terbiasa hidup sebagai manusia kampus
Kemudian menjadi manusia dibelakang meja komputer yang pergi pagi pulang sore.

Akhirnya kini aku menyadari ada yang hilang dari puzzle hidupku, interaksi akrab dengan tetangga nyata.

Tetangga yang rumahnya terbuat dari batu bata bukan sebuah ID. Continue reading

Para Perempuan Arsitek Peradaban yang kembali pada-Nya

Dalam kondisi seperti apa kita kembali ke sisi-Nya?

Berpulangnya para perempuan hebat ini melecuti jiwaku untuk kemudian mengingat sebuah NISCAYA: MATI

Setelah penulis Nurul F. Huda yang meninggal pada 18 Mei kemarin, pagi ini mendapat kabar bahwa Ustadzah Yoyoh Yusroh yang kisah pernikahannya menginspirasi dan perjuangannya demi ummat mengobarkan semangat berkontribusi untuk negara ini “pulang” menuju Ilahi Rabbi… Continue reading

Semuanya yg bermuara pada Allah dan Rasul akan sampai pada tujuannya

Semuanya yg bermuara pada Allah dan Rasul akan sampai pada tujuannya
Tak peduli apapun kendaraannya.
Jangan taqlid, jangan merasa lebih baik dan jangan memandang rendah firqah lain.
Kita hanya berikhtiar, Allah sendiri yang menyeleksi hamba-Nya dan tak ada satupun yang berhak menghakimi saudaranya yang lain
ketika aqidah sudah hanif. Tidak ada alasan bagimu untuk bermusuhan.
Maka hanya karena Allah sajalah alasanmu tegar berdiri membela aqidah, bukan firqah atau jama’ahmu.

Maka, berlomba-lombalah dalam kebaikan…
Fastabiqulkhayyraat

Sebuah pikiran yang mengakar kembali setelah chatting dengan seorang sahabat
Matraman, 13 April 2011

Jangan tanyakan hal yang hanya Tuhan tahu jawabnya

Gegara chatting dengan seorang kawan yang curhat karena kesal selalu disodorkan pertanyaan “basabasi” yang sama, aku jadi tergelitik untuk membagi hasil pikiranku disini.

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan.
No Offense please?



Dari waktu ke waktu
Rasanya setiap fase dalam hidup, kita “dibiasakan” dengan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan fasenya:
– Sekolah
– Kuliah
– Kerja
– Menikah
– Anak
– Dan seterusnya

Pertanyaan-pertanyaan “basabasi” pun pasti bermunculan dengan jenis question type serupa:

KAPAN?


Bagi pelajar (SD-Mahasiswa) mungkin masih bisa memperkirakan bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, karena jelas ada grade dan waktu lulusnya, except jika ada kasus tidak lulus atau skripsi molor. 

Lalu bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan “basabasi” bagi orang-orang yang ada di fase selanjutnya: kerja, menikah dan punya anak?

– Kerja
Baiklah jika anda termasuk anggota keluarga yang memiliki perusahaan atau anda yang berasal dari kampus yang menjaminkan anda pekerjaan, anda tidak perlu ketarketir menjawab pertanyaan semacam ini, tentu sudah aman.
Lantas bagaimana bagi mereka yang harus merintis dari nol, harus mencari, atau bagi orang yang memilih menjadi entrepreneur mungkin mulai merintis?
Tentu sangat mengganggu sementara dia sudah berjuang mati-matian.
Padahal hanya Allah yang Maha Mengatur Rezeki dan tahu kapan seseorang mendapatkan sumber penghasilan.

Suggestion: Lebih baik mengganti kata “Kapan” dengan do’a =>
“Semoga dimudahkan rezekinya yaa”
*dengan tulus dan sungguhsungguh*

Toh kalau sudah mendapatkan pekerjaan, dia pasti akan bercerita dengan sendirinya, iya kan?


– Menikah
Tak masalah jika anda dalam waktu dekat akan menikah atau sedang berproses untuk menikah, tapi please tidak usah menanyakan hal ini kepada mereka yang belum terlihat akan menikah, khususnya pada mereka yang tidak menganut pacaran sebelum menikah. Sungguh pertanyaan seperti itu sama dengan menanyakan “Kapan kah kiamat tiba?” Karena tidak seorangpun yang tahu kapan jodoh akan dipertemukan dengannya, meski berbagai jenis ikhtiar sudah ditempuh.

Hattaa… Termasuk orang-orang yang memutuskan untuk menjalin hubungan pra nikah yang disebut pacaran, Demi Allah mereka tidak pernah tahu apakah mereka berjodoh atau tidak.
Meski 1 miggu lagi menikah, kalau Allah berkehendak lain? Maka aqad itu tak akan pernah terjadi.


Suggestion: Lebih baik mengganti kata “Kapan” dengan do’a =>
“Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya yaa…”
Atau
“Kalau nikah, jangan lupa undang kami yaa…”
 
*dengan tulus dan sungguhsungguh*
Toh menjelang pernikahannya, dia pasti akan mengabarkan / mengundang kan?


– Anak
Pasca nikah seisi dunia lebih berminat mengutarakan pertanyaan basabasi itu ketimbang kabar anda.

“Sudah isi belum?”
“Kapan hamil nyusul si A”

Nyusul? Emangnya mobil?


Bagi anda yang selamat dari pertanyaan berfase pasca pernikahan karena tidak lama setelah menikah anda dikaruniai kehamilan mungkin anda tidak akan mengalami/ tidak lama mengalami uncomfort feeling akibat dari pertanyaan “basabasi” itu.

Tapi bagaimana dengan mereka yang belum dikaruniai hamil setelah 1 tahun? bertahun-tahun? Atau bahkan baru dalam hitungan bulan & sudah ingin sekali hamil?
Itu akan menjadi pertanyaan yang sangat mengganggu kebahagiaan pernikahan mereka.

Bisa saja pasangannya memang masih ingin menikmati pacaran setelah nikah, menikmati proses pacaran yang bertahap? (Segala alasan tentu ada pertimbangannya, tentu dengan tidak menolak jika rezeki diberikan segera ya? Jangan sampai menolak donk ya? ya?)
Atau karena memang belum diberikan rezeki hamil oleh Tuhan, meski sudah berikhtiar?
Bagaimana jika yang ditanya baru saja mengalami musibah keguguran? Atau anaknya meninggal?

Hayooo… Dijaga yaa pertanyaannya, bersabar untuk tidak ingin tahu “urusan dalam negeri orang lain”

Suggestion: Lebih baik pertanyaan basabasi nya diganti jadi do’a =>
“Semoga Mbak dan Mas segera diberikan rezeki keturunan yang shalih dan shalihah yaa…”

*dengan tulus dan sungguhsungguh*
Toh, kalau lagi hamil / punya anak pasti ketahuan doonk.

Aku yakin yang dido’akan akan merasa termotivasi dan dihargai tanpa dengan perasaan tidak enak. ^_^


Mungkin niat awal dari pertanyaan “basabasi” ini adalah ingin memotivasi dan perhatian, tapi jika caranya kurang berkenan dihati orang-orang yang ditanya? Kuatir niat baik tidak sampai.

Untuk yang suka bertanya…
Mungkin sebaiknya mengganti pertanyaan “basabasi” dengan cara-cara berikut:

– Kalau ingin memotivasi yang belum bekerja, mungkin dengan hal kongkrit seperti memberikan info lowongan perkerjaan.
– Untuk yang belum menikah, coba dicarikan teman yang kira-kira bisa “diproseskan” atau dikenalkan?

– Laah… Kalau untuk hamil bagaimana? “Tidak mungkin membantu” selain do’a dan saran-saran kaaan? Hahahaha *jitakdirisendiri*


Saran bagi yang ditanya:
– Sabar yaa, Allah Maha Tahu yang terbaik bagimu
– Tetap bersemangat yaa! Cheers
– Maafkanlah mereka yang bertanya jika ternyata melukai perasaanmu
– Balaslah dengan do’a-do’a baik untuk dirimu dan mereka
– Dibawa santai saja
– Jangan stress
– Anggep itu luculucuan, tertawalah qiqiiqqiqi


Jawaban standar yang halus adalah:
“Belum, mohon do’anya saja ya…” 


Kalau masih saja ada yang ngeyel dengan pertanyaan-pertanyaan “basabasi” seperti tadi, rasanya perlu dicoba jawaban seperti ini:

KENAPA TIDAK SEKALIAN SAJA MENANYAKAN KAPAN AKU MATI?
Karena rezeki (materi, jodoh, anak, dll), hidup dan mati adalah rahasia Allah, hanya Allah saja yang tahu ^_^
Hihihihi

Wallaahua’lam

Matraman, Akhir Maret 2011

Miranty Januaresty
Al Faaqirah ilaa afwi Rabbihaa

*gambar dari gugel

Cinta Kita Beda

“Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian atau pengorbanan

-Jalan Cinta Para Pejuang-

…Karena Cinta Kita Beda.
Bukan Cinta Biasa. Tidak Umum.
Tidak Seperti Kebanyakan.
Ghuraba…

Cinta kita, tidak lagi bermain di lingkaran subjek,
menuhankan manusia sebagai partner cinta: dengan siapa kita berpasangan

Lebih dari itu, ia bergerak, terus maju, dengan atau tanpa subjek yang diingini.


Ia bergerak dengan mereka yang siap mengemban amanah CINTA
Ya, Amanah Ilahiyah, Rabbaniyah dan Mulukiyah.

Ia terus maju karena janji cinta Sang Maha Pecinta
Melipatgandakan pahala setiap amal karena mencinta dalam bahtera cinta


Cinta Kita Beda
Karena….

“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.”
-M. Anis Matta-

Cinta kita Beda…
Karena
bertujuan mengantarkan siapapun yang ada didalamnya
menuju Syurga

Cinta Kita tidak berakhir hanya di Bumi,
tapi di langit-Nya juga
Insya Allah

…Karena Mencintai -harusnya- berarti menaikkan marhalah kebaikan kita,
berbanding lurus dengan ketaatan dan ketaqwaan kita pada Rabb
Beriringan dengan kebermanfaatan kita terhadap diri, pasangan, keluarga, masyarakat, bahkan ummat ini…

BUKAN

Sebaliknya

Jika dengan mencintai ternyata tidak sinambung dengan alur normal tadi,
maka perlulah kita telaah lagi, menghisab diri…

 KARENA APAKAH Mencintai??

al-Faaqirah
Si Bodoh yang terus belajar
-Miranty Januaresty 141010-

*gambar dari gugel, alamat tidak sempat tercatat, mohon maaf

Percayalah… Ikhwan/Pria yang baik itu akan memintamu menikah dengannya

Menanggapi kisah-kisah kurang menyenangkan yang kubaca dari thread QN di MP akhir-akhir ini, menyentil jiwa dan hati untuk menuliskan ini, tidak bermaksud latah, hanya ingin mengeluarkan apa yang melintasi akal dan hati berdasarkan pengamatan pribadi.

Ditujukan untuk kaum hawa, kaumku yang sering dirugikan…

Muslimah, Perempuan, Akhwat…

Percayalah…
Ikhwan/Pria yang baik itu akan memintamu menikah dengannya, dengan cara yang baik, melamarmu dan keluarga untuk menjadi bagian dari hidupnya… Continue reading