Category Archives: kontemplasi

Melewatkan Peluang Kebaikan

Setiap kita pastilah pernah mengalami -hal-waktu-kesempatan- untuk berbuat baik sekecil apapun.
Dan bisa jadi diantara kita pernah melewatkan kesempatan untuk berbuat baik, disadari atau tidak 🙂

Ada kalanya kita berada pada kondisi memungkinkan atau sebaliknya.

Seperti misalnya pagi ini saat aku sedang mengepel teras depan, Bapak-bapak tukang roti keliling berhenti menawarkan rotinya ke arahku (it means to me), dengan abai-nya aku menggeleng karena merasa sibuk+lelah mengepel.

Dan beberapa detik setelah Bapak itu berlalu, aku merasa menyesaaal sekali 

“kenapa harus secuek itu sih?”
Kenapa tidak menggeleng dan tersenyum plus berkata maaf? Padahal itu mudah sekali antyyy!
I missed the chance to do the cheapest shadaqah 😦

Lain waktu pernah melihat seorang remaja sepantaran adikku berjualan agar-agar jelly keliling di daerah depok (lupa tepatnya), saat itu sudah terbersit ingin membeli -bukan karena ingin- tapi sang remaja nampak sangat kepayahan, dia mengayuh sepeda tua membawa jelly2nya

tapi kutangguhkan “nanti sajalah kalau sudah sampai depan, bisa menepi” pikirku

Ternyata, qadarullaah jalan yang kami tempuh tidak searah, seketika aku berputar bersama suami mencarinya, tak kunjung bertemu. 
Di saat yang bersamaan aku kehilangan peluang kebaikan itu.

Cerita lain adalah ketika seseorang mengirimkan sms menanyakan kesanggupanku tentang sebuah bantuan, aku tidak lekas menjawab, kubalas beberapa jam kemudian, ketika kukirim sms balasan, ternyata sang pengirim sms menyatakan bahwa tadi ada orang lain yang bersedia membantunya.
Yap. I missed the chance again.

Pantas saja kita dianjurkan untuk bersegera menunaikan kebaikan itu ketika sudah terbersit niat dalam hati dan juga harus bersiaga untuk setiap peluang tak terduga 🙂 karena bisa jadi peluang-peluang tersebut meluap begitu saja karena kita terlalu lama memutuskan, terlalu merasa sibuk, dll

Selain itu… Niat baik memang harus segera ditindaklanjuti ya, jika tidak ingin syaitan meniupkannya dalam kejapan mata 🙂

Yuk yuk yuk mari
Tebar kebaikan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun 🙂
Karena seberat dzarrah pun akan menjadi saksi kelak…

Al Faaqirah ilaa afwi Rabbihaa
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat terakhir di Ramadhan 1432 H

Aah waktu melesat bak kilat
Sampailah kita pada perpisahan
Bisa jadi ini yang terakhir kalinya meregup Ramadhan kariim
Tak mampu jumawa  akan bersua Ramadhan kembali

Lantas, akankah gelar faaiziin & muttaqiin menjadi milik kita?

Sungguh merugi bagi jiwa yang tak meraup rahmat, ampunan, & lindungan dari-Nya..

#IngatkanDiri
#Reminder26

26 Ramadhan 1432 H
Jum’atul Mubaarak
Jumat terakhir di Ramadhan 1432 H

Masjid Ukhuwah Islamiyah
UI – Depok

Bagaimana akhir hidupmu?




Bagaimana akhir hidupmu?

Kamu telah diberikan privilege berupa PILIHAN
Kamu memilih bagaimana mengisi hidup
Dan kamu juga yang menyelesaikan seperti apa akhir hidupmu
Akhir hidup adalah gambaran dari seluruh hidup yg telah dijalani

Kamu memang tidak pernah tau kapan, dimana dan dalam kondisi seperti apa
Tapi kamu bisa berusaha bagaimana menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya
Melakukan hal terbaik untuk diri, keluarga, lingkungan, teman, agama, negara, dunia???
Hingga mampu menyelesaikan hidupmu dengan akhir terindah

Sungguh MATI adalah NISCAYA yang tak terbantahkan

Waktunya adalah misteri
Bagaimana diri ini bersiap menemuinya?

Aah… Allaah sungguh…
Sungguh malu hati

Memimpikan jannatunna’iim dengan gelimang dosa
Syukur yang teramat sedikit…
Sabar yang tipis, robek di awal cobaan…

Dusta, pura-pura, khianat, apalagiiiii???
Lalai, ujub, ghurur, sum’ah, riyaa??
Hubungan dengan orang tua
saudara, tetangga, teman??

Lantas bagaimana berharap Surga???

Astaghfirullaah

T___T
Kematian Bu Yoyoh memang sangat menohok diri
Dengan apa kamu menghadap Allah??
Dengan apaa??



Ustadzah Yoyoh adalah minoritas terbaik ditengah gempuran para koruptor, ditengah kepungan para pengkhianat bangsa di DPR
Dia adalah satu dari sedikit anggota DPR yang sungguh-sungguh berjuang demi ummat, demi negeri ini
Sayang, orang seperti Bu Yoyoh hanya SEDIKIT


#Berharap semoga dijemput maut dalam keadaan terbaik, bisa bertemu Ilahi Rabbi dan para manusia terkasih
Aamiin

Foto dari sini http://goo.gl/B3sOy

Berikut pesan singkat beliau dengan beberapa orang sebelum kecelakaan itu terjadi:

“Ya Robb, aku sdg memikirkan posisiku kelak diakhirat,
mungkinkah aku
berdampingan dgn penghulu para wanita Khodijah Al Kubro yg berjuang dgn harta dan jiwanya?
 Atau dgn Hafsah binti Abi Bakar yg dibela oleh Allah
saat akan dicerai karena showwamah dan qowwamahnya?
Atau dgn Aisyah yg
telah hafal 3500-an hadits, sedang aku…ehm 500 jg belum… Atau dgn Ummu Sulaim yg shobiroh, atau dgn Asma yg mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dr jihad…
 Atau dgn siapa ya,
ya
Allah.. Tolong beri kekuatan tuk mengejar amaliah mereka…sehingga aku
laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dgn mereka di taman firdausMu…”

Package & isi



Pagi ini, aku membeli tiket kereta ekonomi AC menuju Manggarai.

Ndilalah, yang datang duluan kereta ekonomi *silahkan bayangkan kereta ekonomi* dari pada semakin terlambat aku paksakan naik kereta ekonomi meski berdiri berdesak-desakan, tidak nyaman dan tidak suka.

Saat tengah terombang ambing berdiri dengan posisi badan yang tidak stabil karena tidak berpegangan/bertumpu pada sesuatu, seorang Bapak berwajah ramah dan baik hati mempersilahkanku untuk gantian berdiri di tempatnya yang memungkinkan untuk bersender pada sisi dinding kereta agar badanku tak lagi oleng. Aku taksir umurnya sekitar 50 akhir, terlihat banyak uban di rambutnya.

Setelah bertukar tempat berdiri, bapak tersebut dengan sopan dan ramah bertanya kepadaku tentang dimana aku bekerja, lulusan mana, kuliah di jurusan apa, suamiku bekerja dimana, mengapa pergi sendiri, dll
Percakapan kami pun dimulai dan semakin akrab ketika mengetahui bahwa beliau mengenal salah satu teman kantorku, aah sempitnya dunia.

Berlanjut pada obrolan-obrolan ringan mengenai Sukabumi (saat beliau tahu asal daerahku), Desi Ratnasari yang dikenalnya semenjak kecil, lalu mengenai pergerakan Islam tahun 80-an, beliau adalah anggota HM* aktif, sebelum organisasi tersebut terpecah seperti sekarang.

Aku akan selalu mengenang kejadian hari ini di kereta. Penampilan luar Bapak itu amat-amat amaaaaaat sederrrrrhaaanaaa, sekilas tampak seperti para pekerja tua yang hendak mendatangi Ibu kota

Ternyataa…
Dia adalah seorang Dosen di kampus pemerintahan IP*N di Jatinangor, mungkin salah satu orang terkenal disana, anaknya bersekolah dan kuliah di German.
Tidak tampak perasaan atau polah pongah dari nada bicara dan gesture tubuhnya, alhamdulillaah. Sangat bersyukur telah dipertemukan dengannya.

Menambah pelajaran lagi tentang Package dan isi.

Bapak tersebut, tampak tidak risih dengan kondisi kereta ekonomi yang begitu berjubel dan tidak nyaman, ia bahkan terlihat “merakyat” dengan clothing yang sederhana, tidak menonjolkan siapa dirinya. Itu sedikit menyentilku yang masih saja sering mengeluh dan bersungut-sungut jika terpaksa harus naik kereta ekonomi. Ck..ck..

Banyak manusia berlomba-lomba untuk memoles penampilan luarnya agar tampak terhormat dan dihormati banyak orang, membeli ini dan itu untuk tampak gaya, bergaya ini dan itu untuk tampak kaya, nongkrong disini dan disitu demi pergaulan yang berada, meski kondisi sesungguhnya jauh dari package luarnya.

Tidak  ada yang salah jika kita memperhatikan penampilan luar apalagi diniatkan ibadah, tetapi sebaiknya hal ini dibarengi dengan upgrading isi dalam diri dan hati, hingga nilai diri tidak hanya terukur sebatas fisik dan penampilan.

Meski tentu penampilan juga harus diperhatikan demi kebaikan diri, demi citra manusia yang bersih, dan -khususnya bagiku- untuk citra ummat muslim yang baik, agar tercatat sebagai amal ibadah syi’ar Islam.

Terpikir olehku, Bapak tersebut tentu mampu mengendarai mobilnya sendiri, tapi ia memilih trasnportasi publik karena alasan mengurangi polusi dan cinta lingkungan. Wow.

Aku takjub dengan kerendah-hatiannya, padahal ia bisa saja berlaku sombong atas kesuksesan hidupnya
Aku kagum dengan penampilannya yang sederhana padahal ia berada

Jadi malu hati.


Terima Kasih untuk pelajaran hati ini pak ^___^
Yuk mari perindah package dan isi kita agar menjadi insan yang mulia.


Cerita sebelumnyaa…
Hari ini hujan lebat
Aku masuk kantor telat, sangat telat.

Alhamdulillah boss memberikanku ijin 2jam

Semalam mati lampu, 3 kali dan blass mati lampu total se-daerah tempat tinggalku.
Sendiri & gelap, tanpa lilin.
Suami sedang Dinas Luar.
Pagi-pagi hujan deras dan harus naik kereta…

Gambar dari sini

Aku lupa

Aku lupa.
Sering lupa tepatnya…
Bahwa hidup sungguh sebentar saja
Bahwa dunia hanya persinggahan semata
Bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini selain mati
Maka kenapa aku sibuk memikirkan hal yang tidak pasti?
Maka mengapa masih tidak bersegera menuju Ilahi?


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Q.S. Ali-`Imran: 185

poto dari sini

Saat kita diminta mendo’akan

“Mohon do’anya ya… Semoga bla… bli… blu… ble…”
“Tolong do’akan ya…”
“Do’ain yaa….”

Berjuta ingin, harap serta mimpi kerap kita panjatkan pada Allah disaat-saat mustajab.
Ingin itu dan ini, untuk kita pribadi, keluarga, negara dan ummat secara umum.

Tapi, bagaimana…

Saat menerima permintaan untuk mendoakan dari seseorang, apa yang kita lakukan?

Apakah benar-benar mendo’akan seperti halnya kita memanjatkan do’a pribadi?
TULUS?
Atau hanya mengamini ditempat lantas tidak benar-benar mendo’akannya?

Padahal, mungkin saja orang yang meminta kita mendo’akannya itu sangat butuh bantuan melalui do’a. sesuatu yang melangit.
Padahal, bisa jadi itulah satu-satunya bantuan yang bisa kita berikan. 

Sedang mengevaluasi diri sendiri…
Karena sering diminta untuk mendo’akan dan sering juga minta dido’akan
Jadi merasa bersalah karena masih lalai dalam menunaikan amanah permintaan do’a.

Apakah do’a-do’a yang diminta oleh orang-orang tersebut benar-benar ada dalam list do’a kita?

Berikut hadits-hadits anjuran untuk mendo’akan saudara kita, semoga memacu diri kita untuk menunaikan permintaan do’a saudara-saudara kita.

***

Hadits pertama
Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“

(Shohih secara sanad)

Hadits kedua
Dari Shofwan bin ‘Abdillah bin Shofwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan,

“Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shofwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shofwan, pen). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shofwan) berkata, “Iya.”

Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”:

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

Shofwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(Shohih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88]

Hadits ketiga
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,

“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”

Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa mampu mendoakan kebaikan bagi saudara-saudara Muslim kita yang lain.
Amin Ya Rabb Alamin

Sumber Hadist dari sini

Yuk saling mendo’akan ^__^

Saat kita diminta mendo’akan

"Mohon do’anya ya… Semoga bla… bli… blu… ble…"
"Tolong do’akan ya…"
"Do’ain yaa…."

Berjuta ingin, harap serta mimpi kerap kita panjatkan pada Allah disaat-saat mustajab.
Ingin itu dan ini, untuk kita pribadi, keluarga, negara dan ummat secara umum.

Tapi, bagaimana…

Saat menerima permintaan untuk mendoakan dari seseorang, apa yang kita lakukan?

Apakah benar-benar mendo’akan seperti halnya kita memanjatkan do’a pribadi?

TULUS?

Atau hanya mengamini ditempat lantas tidak benar-benar mendo’akannya?

Padahal, mungkin saja orang yang meminta kita mendo’akannya itu sangat butuh bantuan melalui do’a. sesuatu yang melangit.
Padahal, bisa jadi itulah satu-satunya bantuan yang bisa kita berikan.

Sedang mengevaluasi diri sendiri…
Karena sering diminta untuk mendo’akan dan sering juga minta dido’akan
Jadi merasa bersalah karena masih lalai dalam menunaikan amanah permintaan do’a.

Apakah do’a-do’a yang diminta oleh orang-orang tersebut benar-benar ada dalam list do’a kita?

Berikut hadits-hadits anjuran untuk mendo’akan saudara kita, semoga memacu diri kita untuk menunaikan permintaan do’a saudara-saudara kita.

***

Hadits pertama
Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu �anhu, beliau berkata,

�Sesungguhnya do�a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do�a yang mustajab (terkabulkan).�

(Shohih secara sanad)

Hadits kedua
Dari Shofwan bin �Abdillah bin Shofwan �istrinya adalah Ad Darda� binti Abid Darda�-, beliau mengatakan,

�Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda� (ibu mertua Shofwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda� (bapak mertua Shofwan, pen). Ummu Darda� berkata, �Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?� Aku (Shofwan) berkata, �Iya.�

Ummu Darda� pun mengatakan, �Kalau begitu do�akanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu �alaihi wa sallam pernah bersabda,�:

�Sesungguhnya do�a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa�a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo�akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do�anya. Tatkala dia mendo�akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.�

Shofwan pun mengatakan, �Aku pun bertemu Abu Darda� di pasar, lalu Abu Darda� mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda� mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu �alaihi wa sallam.�
(Shohih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du�aa�, hal. 88]

Hadits ketiga
Dari �Abdullah bin �Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,

�Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!�

Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam lantas bersabda,

�Sungguh engkau telah menyempitkan do�amu tadi dari do�a kepada orang banyak.�

Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa mampu mendoakan kebaikan bagi saudara-saudara Muslim kita yang lain.
Amin Ya Rabb Alamin

Sumber Hadist dari sini


Yuk saling mendo’akan ^__^