Category Archives: Lomba

[Xenophobia] Si Gadis dan Para Pria dari Kerajaan Majapahit

Seperti teman-teman yang lain, sebelum memberanikan diri menyerahkan tulisan ke http://www.wayanlessy.multiply.com aku pun mencari tahu definisi yang tepat agar tulisanku tidak melenceng jauh dari yang diharapkan penyelenggara lomba.
Here i go, ikut meramaikan lomba tentang Xenophobia nya Mbak Lesly meski mungkin tulisan ini belum layak diikutsertakan, tapi aku ingin menuliskan ini untuknya: Mbak Lessy. ^_^

Okay then, ini salah satu definisi yang kudapat dari search engine google:

Xenophobia adalah sebuah kebencian atau rasa benci yang tidak beralasan terhadap orang asing atau sesuatu yang berbau asing yang diakibatkan oleh rasa kebangsaan yang berlebihan. Xenophobia selain karena rasa kebangsaan yang berlebihan, juga bisa diakibatkan dari rasa kesukuan, kebangsaan, atau tempat asal yang sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan terciptanya diskriminasi terhadap orang lain. Dalam hal ini orang asing atau segala sesuatu yang berbau asing.

Sumber: KOMNAS HAM, SUAR, No. 06/tahun II, Januari 2001 dan berbagai sumber lainnya.

Ah, definisi yang kemudian membuka kotak memoriku ke sebuah file tentang cerita seorang gadis di tahun-tahun yang telah berlalu. 
Tentang seorang yang terlahir sebagai mojang priangan (sebutan bagi gadis sunda), kisahnya dalam menemukan belahan jiwa ternyata menjadi cerita unik tersendiri.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa suku di Indonesia agak “senewen” dengan suku lainnya dalam masalah pernikahan,salah satunya JAWA Vs. Sunda

Kisah ini bermula semenjak semester 2 di bangku kuliah, si Gadis sudah memberanikan diri dengan meminta ijin pada Ibunya untuk menikah, saat itu usianya sekitar 18 tahun. Alasannya? Banyaaaaaak, dari A-Z (hmmm kalau harus dituliskan disini rasa-rasanya akan menghabiskan ribuan kata yang kalau dihitung wordcount melebihi ketentuan lomba )
Sang Ibu mengiyakan karena alasan-alasan yang dikemukakan si Gadis amat rasional dan insya Allah tidak mengganggu perkuliahan dan kehidupan keluarganya.

Kembali ke Gadis usia 18 tahun yang meminta ijin menikah…
Semangatnya menggenapkan dien makin menggebu seiring dengan buku-buku, seminar dan dauroh bertema pernikahan, Ia semakin mantap untuk menikah di usia dini. 
“Bismillaaah” katanya.

Ia pikir dengan segala persiapan yang ada (seadanya ), semangat, doa-doa nya untuk menikah saja sudah cukup untuk menghadirkan Sang Pangeran dari-Nya? Ia kira sebelum wisuda sarjana Ia sudah bisa menggandeng Pangeran Jodohnya.
Ouu… ternyataaa….

Perjalanan menemukan Pangeran pilihan-Nya itu amaaaaaaaaaaaaaaaaaaat panjang dan berliku.
Bertemu dengan berbagai macam pria dengan segala latarbelakangnya.

Dari yang single-yang duda
Dari yang tua-brondong
Dari yang dikenalkan sampai yang sudah kenal
Semua peluang jodoh yang datang pada si Gadis sudah dicobanya, namun ikhtiar belum selaras dengan hasil.

Setelah direnungkan dan dianalisa… 
Si Gadis baru menyadari bahwa hampir semua peluang itu selaluuuuu datang dari satu suku tertentu, suku yang kabarnya memiliki asumsi negatif terhadap perempuan dari suku Sunda: JAWA

Siapa yang bertanggungjawab terhadap Xenophobia Sunda Vs Jawa ini?
Latar belakang perang Bubat kah alasannya?
Hingga akhirnya Perempuan Sunda demikian buruk dalam pengkisahan leluhur Jawa?
Arrrghhh 
Siapa yang salah? Siapaaaa???

Kenapa baru sadar ya? Selama ini kenapa selalu “dipertemukan” dengan para pria dari suku tersebut?

Pria A keturunan Jawa Timur – Jawa Tengah
Orang tua Sang Pria ANTI menikahkan anak-anaknya dengan orang Sunda. DONE. GAGAL.
Sang Ayah memiliki trauma mendalam terhadap orang-orang dari suku Sunda. 
Sungguh,saat itu  rasanya hinaaaa sekali terlahir sebagai orang Sunda 
“apa salahkuuu” batinnya.


Pria B dari Jogjakarta
-_-” Again? Kenapa wong jowo lagi cobaaaa??? Aaaaa 

Orang Tuanya agak risih dengan perempuan sunda, meski begitu Sang Pria tetap berusaha melobi orang tuanya untuk terlebih dahulu bertemu dan berkenalan langsung dengan si Gadis.
Setelah bertemu kedua orang tuanya, si Gadis merasa bahwa aura penerimaan mereka pada si Gadis terlihat dingin :-s. Gadis galau karena Sang Pria begitu gigih berjuang untuk tetap berproses dengannya. Qadarullaah setelah beberapa waktu beristikharah dan berpasrah sampailah pada keputusan untuk tidak melanjutkan proses. 


Pria C keturunan Jawa Timur 
Sang Pria minta dicarikan Istri melalui temannya, lalu temannya langsung terpikir untuk menjodohkannya dengan si Gadis, tapiiii Sang Pria prefer tidak dengan orang Sunda meski setelah melihat si Gadis, sang pria berubah pikiran. Si Gadis merasa heran “Kenapa dengan Perempuan Sunda? Kisah serupa lagi kah?”.
Si Gadis tidak mantap dan memutuskan untuk tidak melanjutkan. Heuheuheu

Pria D dari Jawa Timur
Jowo agaiiinnn??? Kutukankah?

Orang tuanya pernah seletingan mendengar kabar kurang sedap tentang orang sunda meski mereka tetap open mind bahwa semua berpulang pada pribadi manusianya bukan sukunya, setelah dilobi macam-macam, Qadarullaah memang bukan jodoh akhirnya…

Pria D Keturunan Jawa tengah dan Timur
Pria E dari Jogjakarta
dan seterusnya…. dan seterusnya….

Tahun demi tahun terlewati dan si Gadis belum juga menemukan jawaban: siapakah Jodohnyaa???
Mulai lelah, mulai terbangun Xenophobia akan suku Jawa
“Teh, aku kapok berikhtiar dengan Suku Jawa, aku bener-bener trauma, siapa yang minta dilahirkan dari suku sunda sih teh? apa salahnya suku sunda sama suku jawa teh hingga nasibku begini huhuhuu” keluhnya sedih

Meski pengetahuan akan qada, qadhar, jodoh, dll sudah ia khatamkan, tapi ternyata ketika menghadapi sendiri kenyataan “gagal berproses” dengan hambatan bernama suku sunda yang selalu berulang membuat si Gadis lemah juga heuheuheu


Waktu berlari begitu cepat, tak terasa 5 tahun sudah Ia berjuang untuk menemukan pangeran jodohnya… 
Hingga pada suatu titik Ia merasa benar-benar lelah berusaha, mengikhtiarkan semuanya…
Ia berpasrah pada-Nya saja…
Ia bahkan sudah lulus kuliah dan bekerja saat itu…
Qadarullaah Ia harus mau dimutasi ke Ibu kota karena tugas barunya, Ia tidak memiliki sanak saudara disana, pun teman yang dikenalnya dengan baik. 
Ahhh teringat Ianya pada salah satu online buddy dan menanyakan perihal alamat yang akan dia tempati sebagai kantor. Masya Allaah ternyata kantornya itu masih satu kecamatan dengan rumah sang online buddy.
Tidak ada firasat apapun ketika akhirnya dibantu orang tua Sang Online Buddy menemukan tempat kos, hingga saat orang tua si online buddy tersebut bertemu dengan si Gadis dan keluarganya, Beliau menyapa begitu hangat, hangat yang berbeda, hangat yang diinterpretasikan oleh Ibu si Gadis sebagai penanda “suka” Sang Ibu terhadap si Gadis “untuk dijadikan calon mantu” 

Dan benar saja ternyata feeling Ibu si Gadis tersebut dengan pernyataan mendadak & tiba-tiba dari Ibu Sang Online Buddy: “Semoga anak kita berjodoh ya buu” -__-” 
Kaget, shocked, dll


Walaupun agak shocked dengan ungkapan tersebut, tapi itulah saat pertama kalinya ada keluarga Jawa yang begitu hangat bertemu dengannya, kala itu si Gadis benar-benar tak percaya ada keluarga Jawa yang tidak mengidap Xenophobia terhadap sukunya.

Saat Xenophobia terhadap suku Sunda itu tidak diindahkan oleh keluarga Sang Online Buddy
Saat si Gadis sudah pasrah akan takdirnya dan tidak ada lagi Xenophobia terhadap Suku Jawa
Akhirnya Si Gadis Sunda ini berjodoh dengan Sang Online Buddy keturunan Jawa, karena orang tua yang insya Allaah ridha

Ternyata, dalam hal pernikahan tidak semua Suku Jawa mendendam Xenophobia pada Suku Sunda, ini hanya tentang persepsi lama, hanya soal jodoh, hanya soal mitos, dll
Buktinya keluarga Sang Online Buddy justru merasa senang dan tidak mempermasalahkannya, dan si Gadis yakin bahwa Ia bukanlah satu-satunya Perempuan Sunda yang mengalami kisah serupa. ^___^

So, Jawa atau Sunda tidak masalah kan? 😉


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 
(Al Hujuraat : 13)


Sumber foto dari sini 

———
Demikian kisah Si Gadis dan Xenophobia-nya, semoga masih bisa ikut berpartisipasi dalam lomba Xenophobia nya Mbak Lessy, kalau sudah telat dan tidak sempat maka tulisan ini Anty tujukan sebagai hadiah untuk Mbak Lessy yang baik hati. ^___^

Hummm wondering, would it be my last journal? TT___TT
MP oooh MP….

[3] Akhir Cinta yang Tak Mudah

Jodoh adalah misteri takdir Ilahi yang siapapun tak bisa mencuri jawabannya dari Lauhul Mahfudz. Kisah ini merupakan salah satu cerita hikmah tentang perjalanan panjang seorang Nina menemukan jodohnya, berawal dari gosip tentangnya dengan seorang teman kelasnya bernama Adit,  gosip itu muncul karena teman-teman satu angkatan mereka menilai bahwa Adit sepertinya memiliki ketertarikan khusus terhadap Nina dan mereka dianggap akan sangat cocok sebagai pasangan suami-istri mengingat mereka adalah dua makhluk unik yang berada dalam kelas, jurusan, fakultas, kampus dan organisasi keislaman yang sama.

Teman-teman kelasnya “seolah” menginginkan mereka untuk bersama, hingga terdengarlah gosip tidak sedap mengenai Nina dan Adit akibat guyonan-guyonan tersebut, teman-teman sekelas tidak mengerti bahwa guyonan itu akan membawa petaka bagi Adit dan Nina di lingkungan organisasi kerohanian Islam tingkat kampus.


Witing tresno jalaran soko kulino. Begitulah pepatah jawa, terbiasa dengan guyonan teman-teman sekelasnya, mengantarkan Adit pada sebuah tanya “Adakah sebenarnya perasaan dalam hati Nina untuknya???”. Pertanyaan tersebut disimpulkan secara sepihak oleh Nina sebagai bukti kebenaran gosip itu, pertanyaan itu pula yang akhirnya membuat Nina “menolak Adit” dan membuat hubungan mereka sebagai saudara dan teman sekelas merenggang.

Adit menikah pada tahun 2007 dengan seorang muslimah shalihah yang disangka teman-teman sekelasnya adalah Nina.


—Ini adalah kelanjutan dari cerita yang sudah lebih dari 2 tahun lalu kutulis, aku menunggu ending kisah ini, karena ceritanya adalah kisah nyata—


Sejak tahun 2007, Adit hidup bahagia
di kota tempatnya bekerja bersama istri dan bayinya yang baru lahir dengan sehat dan selamat. Sementara di belahan bumi lainnya, Nina bergelut dengan aktifitasnya setelah menyelesaikan kuliah dan bergelar Sarjana Teknik. Nina masih sendiri. Bukan karena Adit, sama sekali bukan. Beberapa kali Nina melakukan proses ta’aruf (perkenalan sebelum menikah) dengan berbagai pria mulai dari preman –menuju— insyaf hingga “level ustadz”, tapi mungkin karena belum berjodoh, ta’aruf selalu kandas… das… das.

Tak satupun mulus dan berhasil. Bermacam-macam alasannya, mulai dari restu keluarga, waktu yang tidak tepat, perbedaan prinsip, ketidakcocokan dll. Semua peluang jodoh berasal dari beraneka jalan, lewat kakak, adik, teman, saudara, dll tapi tidak pernah sekalipun melalui guru ngaji di tempat Nina menimba ilmu agama (ini yang seringkali membuat hatiku geram, Sang guru ngaji kurang peka dalam hal perjodohan anak binaannya ), sementara bulan demi bulan, tahun demi tahun, satu per satu junior Nina mendahuluinya menggenapkan setengah Dien , aku mengerti bagaimana tidak enaknya berada dalam posisi itu. Bukan karena tidak bahagia melihat saudari-saudarinya yang lain meretas cinta di jalan Ilahi dengan jodohnya masing-masing, ini karena masalah classic perempuan yang membudaya dan sulit dihilangkan meski dengan tingkat intelektual yang tinggi sekalipun. Orang sunda menyebutnya dengan istilah ‘ngarunghal’ yaitu melangkahi seorang kakak dalam menikah.

Nina seorang aktifis islam yang kepribadiannya sangat mencerminkan akhlak yang baik
seorang muslimah, hal itu membuat dirinya menjadi “magnet” bagi orang-orang disekitarnya, taat tapi tidak kaku, berwibawa tapi orang-orang tak merasa sungkan, lembut tapi kuat, ceria tapi pada tempatnya, intinya Nina sangat shalihah. Aku merasa beruntung dan bersyukur dipertemukan dengannya dan menjadi adik angkatnya.


Suatu sore seorang
  atasan (sebut saja Pak Ahmad) di tempatnya bekerja, menawarkan Nina untuk dijodohkan dengan binaannya yang shalih dan berkomitmen tinggi pada dakwah Islam (sebut saja Mas Didi). Beberapa hari kemudian dibulan Agustus, sebuah proposal pernikahan dan biodata dititipkan Pak Ahmad kepada teman prianya bernama Pak Abu yang bekerja satu instansi dengan Nina, hmmm entah apa yang menyulitkan Pak Abu karena hingga November proposal itu belum juga sampai pada yang berhak: Nina dan guru ngajinya!!! Ini Masalah amanah. Seringkali disepelekan, padahal amanah itu menyangkut masa depan dan kelangsungan hidup dua manusia, yang harusnya segera diantarkan karena Nina dan Pak Abu sering berinteraksi, sulit untuk ber-khusnudzan karena ketika Pak Abu menjawab kenapa proposalnya belum sampai pada Nina, Pak Abu memberikan jawaban yang tidak nyambung, tidak masuk akal, tidak berhubungan dengan masalah penyampaian amanah dan parahnya ketika ditanyakan baik-baik oleh adik Nina, Pak Abu malah membalas dengan sms penuh amarah dan sangat tidak kasar, ahhh wallaahua’lam.  Mungkin harus demikian jalannya.

Ternyata, belum berhenti sampai di situ rintangan dalam jalan perjodohan Nina. Masalah lain yang membuat Nina megap-megap menahan air mata adalah guru mengajinya sendiri (sebut saja Bu Tine), yang terkenal ‘menyulitkan’ anak binaannya untuk menggenapkan Dien, dengan alasan sekufu lah, sibuk lah, khusnudzannya mungkin hyper sibuk heueheue Wallaahua’lam *fiiuuhh*. Singkat cerita… Ketika proposal sudah berada ditangan guru ngaji Nina, malah tidak diproses dan sama sekali tidak ditindaklanjuti, sampai Pak Ahmad merasa jengah, beliau mencoba menghubungi beberapa kali sampai tak tahu harus bagaimana lagi menghubungi Bu Tine, Nina sudah terlalu lelah dan malas untuk membahas masalah ta’arufnya yang tidak jelas kelanjutannya, maju atau mundur, tak ada kepastian. Perih. Hingga Nina dengan wajah pasrahnya mengatakan “Mungkin jodohku tidak ada di dunia” hiks.. sangat sedih mendengarnya. Hal ini telah membuat Nina merasa kurang nyaman berhubungan dengan Bu Tine.


Hari demi hari, Nina menjalani rutinitasnya yang sangat melelahkan. Dalam perjalanan menuju kantornya di daerah Surapati-Bandung, Nina mencoba menghilangkan rasa bosan dan lelahnya dengan menghidupkan radio HP-nya, tanpa sengaja Tuning Radio Nina langsung melesat ke stasiun radio yang memutarkan lagu, yang dengan indah mengalun...

“Akhirnya… kumenemukanmu saat hati ini ingin berlabuh, kuberharap….”

Tanpa terasa ada air terjun deras dari kedua pipi Nina membasahi jilbab biru langitnya, hmmm mungkin gumamnya “kapan kira-kira aku bisa menyanyikan lagu ini?”. Lagu itu mengalun hingga akhir dan berganti dengan lagu lainnya, Nina segera memutar Tuning radio tersebut ke radio MQ favoritnya.

Suatu pagi di kamarnya, berita gembira datang.


HP-nya menjerit-jerit minta diangkat, Sang Guru ngaji memintanya untuk datang ke rumahnya untuk ta’aruf tahap II yakni saat Nadhor
(melihat calon pasangan.pen). Saat hari itu tiba… Jantung Nina berdetak kencang, gugup, malu, cemas, takut dll (biasa… Demam ta’aruf hehehe) membuat Nina tak sanggup melihat wajah Mas Didi, “ga beranii” katanya, padahal Nadhor itu perlu dilakukan muslimah dengan seksama. Mas Didi sangat mantap untuk melanjutkan proses ta’aruf dengan Nina. Tiga hari berselang, Nina didampingi guru mengajinya Mas Didi beserta istrinya dan salah seorang teman Nina datang untuk bersilaturrahim ke keluarga Mas Didi karena Mas Didi asli Bandung sedangkan rumah Nina di luar kota, jadi didahulukan yang dekat dulu meskipun Mas Didi menawarkan untuk lebih dulu silaturrahim ke keluarga Nina. Di tengah percakapan, keluarga Mas Didi menyindir “Neng Nina, jadi kapan atuh kami diundang silaturrahim ke rumah neng Nina?” glek glek glek… Nina tersedak hhhmmm… dia rikuh, untungnya Nina mampu mengendalikan perasaannya dengan menjawab “insya Allah secepatnya Pak, Bu…”, seisi ruangan tampak sangat antusias. 

Sampai di kamar, Nina bertanya pada temannya “Gimana sih wajahnya Akh Didi?” toeng!! Sang teman menjawab “cakep teh, tinggi, putih, rapih!!” wuaaa sebagaimana orang yang mendapat durian runtuh  pasti girang, jingkrak2 dll, Nina malah BIASA saja. Begitulah uniknya Nina membuktikan keistimewaan dan kualitasnya.



Kami selaku saudarinya merasa senang mendengar kabar ta’aruf-nya dengan Mas Didi, hmm… ternyata perjalanan Nina menemukan jodohnya tidak sampai situ, Mas Didi tiba-tiba memutuskan untuk tidak melanjutkan proses tersebut melalui Pak Ahmad, alasannya adalah  karena Didi tidak percaya diri untuk “maju” mengingat penghasilannya dibawah standar.

Didi berlalu…

Lalu datanglah Ozi, Mahasiswa S1 Syiria Fakultas Syari’ah…

Lalu Doni Sang Pelaut…


Semuanya gagal dengan ceritanya masing-masing yang begitu menyesakkan.
Huufff… Lalu Allah mempertemukan Nina dengan Azis alumni Teknik Sipil ITS. Secara keseluruhan proses mereka berjalan lancar, meskipun awalnya ada kendala keluarga tapi mereka berhasil meyakinkan kedua keluarga, berlanjut pada proses khitbah dan persiapan pernikahan.

Nina sudah bersiap, jika kelak ia akan dibawa Azis ke Balikpapan, tempat ia mendapatkan pekerjaan, Nina sangat excited dengan pernikahannya dua minggu lagi.

Menghitung hari…

Mempersiapkan hari H…

Tanggal sudah ditetapkan…

Undangan siap disebar…

Tak dinyana, sebuah sms datang bagai BOM ATOM yang meluluhlantakkan segala impian.

“Saya positive mundur dari proses ini!!!”
Begitulah isi pesan singkat yang berasal dari pemilik nomor bernama Azis

Ia dan keluarganya meng-cancel rencana pernikahan yang tinggal dua minggu tersebut. Alasannya sangat tidak syar’i, gara-gara salah paham mengenai biaya walimah. Sangat disayangkan, kenapa tidak dibicarakan dulu? dikomunikasikan dengan baik, Sang Calon Ibu Mertua mengancam: “PILIH IBU ATAU MBAK NINA!!!” Sang Anak yang penurut dan tidak ingin durhaka itu sebenarnya bukan tak berusaha membujuk, tapi Sang Ibu memang telah berkeras hati, terlebih ia dihasut oleh saudara-saudaranya terkait dengan mitos ORANG SUNDA…  (padahal Nina bukan orang Sunda, Nina hanya tinggal di Jawa Barat)

Akhirnya pernikahan indah 26 September itu tidak pernah terjadi.
Kabar mengenai pernikahan yang sudah terdengar ke seantero kampung dan kawan-kawan itu GAGAL, BATAL. 

Life goes on

Fast forward

Nina berproses dengan Dwi.


Nina dan Dwi seolah “meminta” restuku.
Tahukah? Dwi adalah seseorang yang dulu pernah “ada sesuatu” denganku, orang yang sama, yang pernah akan berproses denganku dan kandas karena alasan keluarga.
Aku dan Nina sempat risih jika membicarakannya, Rabbii… ada yang tidak nyaman ketika bertanya tentang prosesnya, tidak seperti ketika Nina berproses
dulu, akulah orang yang pertama diberitahu, aku adalah adik angkatnya dan saat itu aku sangat merasa tidak nyaman. Ada yang berubah dengan hubunganku dan Nina. Aku bukan tidak ingin melihat Nina bahagia, bukan cemburu, aku pun justru ikut andil dalam menjodohkan mereka, tapi kuakui ada yang tidak nyaman saat itu, Nina pasti merasakan hal yang sama. Sebuah dilema. antara Kakakku dan dia yang sempat singgah di masa laluku.

2 bulan berlalu… Nina mengirim pesan singkat yang menjelaskan bahwa ia dan Dwi tidak melanjutkan prosesnya, karena alasan keluarga. Ehmm… Entah bagaimana perasaanku saat itu, tidak senang, tidak juga sedih. Aneh.


Akhirnya…

Nina tetap berjuang, berikhtiar menemukan jodohnya, do’a tak kunjung padam.
Sebulan berselang, tidak lama setelah itu… seorang teman “merekomendasikan seorang adik” di kantornya untuk berkenalan dengan Nina, step by step. Meskipun di awal banyak kesulitan dalam upaya melobi keluarga, tapi dengan langkah matang proses itu menjadi mudah: perkenalan-pertemuan keluarga-khitbah-hingga akhirnya AQAD NIKAH dan WALIMAH.

Aku hampir tidak percaya, prosesnya secepat ini, penantian panjang akhirnya berujung juga, Nina MENIKAH.

Aku memeluknya dengan sangat erat ketika bersalaman di pelaminannya. Adit beserta istri dan anaknya juga hadir menyaksikan momen ini.


Sesaat ketika Aqad terucap, para saksi mengucapkan: “SAH” dan do’a untuk kedua mempelai, Nina muncul dari kamar untuk kemudian mengecup tangan Sang Suami, terdengarlah lagu OST Ketika Cinta Bertasbih, ada haru menyeruak disana. Haru bahagia untuknya.

Selamat untukmu wahai bidadari dunia
Penantian panjang kini berakhir sudah
Ia… suamimu adalah hadiah terbaik untukmu.

Barakallahu laka wabaraka alaika wajama’a bainakumaa fii khaiirr.


Her wedding was held on Ahad, May 2 2010

Written on the last day in 1429 Hijriyah 11.07 PM
at my lovely room and finished on 11 May 2010 at 20.24 PM

THE END

***Tulisan yang “telah kuberanikan” untuk ikut berpartisipasi dalam kontes blog http://anazkia.multiply.com/journal/item/359/Kontes_Blog_Bermula yang dispronsori oleh http://denaihati.com/