Category Archives: parenting

Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika

Yukyuk mari kita kumpulkan nutrisi otak yang terserak 😀
Halah bilang aja copas (lagi) gitu, Anty :p
Cekidot…

Seminar parenting “Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika” nya Bu Elly Risman

Ada dua gaya mendidik populer. Gaya Helikopter dan Gaya Sersan Pelatih. Keduanya tidak bagus untuk perkembangan anak.

Gaya helikopter: mengawasi anak terlalu berlebihan, menganggap anak seperti raja yang tidak boleh “disenggol” sedikitpun

Gaya helikopter: tiada hari tanpa perlindungan, anak menemui kesulitan sedikit saja… bantuan langsung datang dan orangtua sangat tidak tegaan

Akibat gaya helikopter jika terbawa sampai anak besar: nyogok sekolah terbaik, mencarikan kerja untuk anak, anak berkemah ditengokin

Biasanya helicopter parents selalu berdalih ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Padahal yang terbaik itu bukan diwujudkan dengan  membelikan feeding set, stroller, atau barang-barang termahal

Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan orangtua

Gaya sersan pelatih dan helikopter mungkin terlihat bekerja dengan baik ketika anak masih kecil, tapi akan bermasalah di kemudian hari

Banyak orangtua yang menerapkan dua pola asuh tersebut atas nama cinta. Padahal  parenting itu bukan untuk jangka pendek, harus pikirkan dampak jangka panjangnya

Anak = pinjaman, dititipkan Tuhan untuk kebahagiaan, kesenangan, dan juga ujian kita. Jadi harus kita yang mengasuh secara total, bukan “diekspor”.

Sekarang banyak orangtua mengalihkan tugas pengasuhan ke orang lain, dari mulai babysitter, nenek, guru di sekolah sampai guru mengaji.

Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak permisif (semua boleh), cinta yang kuat untuk membiarkan anak berbuat salah dan menjalani konsekuensi

Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak mentolerir tingkah laku yang tidak terpuji.

Kalau anak menangis karena mainan direbut temannya, jangan dialihkan dengan memberi mainan lain karena itu mengajarkan anak untuk menghindari masalah

Sebaiknya anak yang merebut diharuskan untuk mengembalikan mainannya. Anak kita perlu diajarkan untuk mempertahankan haknya

Masalah besar orangtua sekarang dengan anak mulai umur 7 tahun: tidak bertanggung jawab, manja, pemalas, dan melawan karena kecilnya salah asuh

Kalau anak mau memakai baju yang tidak pas padu padannya kita selalu menyuruhnya ganti karena kita malu pada orang lain. Padahal parenting is never about us.

Peduli dengan anak bukan berarti melindungi dari semua kesalahan dalam proses berkembang. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar

Tanggung jawab tidak diajarkan tapi harus di-CONTOH-kan. Kalau mengharuskan anak membereskan mainannya, kita contohkan dengan membereskan barang atau bekas masak sendiri

Tanggung jawab membutuhkan kesempatan. Kalau semuanya disediakan dan terlalu mudah, kapan anak akan mendapat kesempatan untuk belajar tanggung jawab?

Berikan anak pilihan dan batasan dari sedini mungkin. Proses pengambilan keputusan adalah momen yang sangat berharga

Anak harus dicontohkan beberapa macam tanggung jawab. Terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, alam, dan masyarakat

Anak yang bertanggung jawab akan tumbuh harga dirinya, lebih percaya diri, berprestasi, mandiri, dan mengerti konsekuensi

Contoh kecil: kita dapat mengajak anak untuk memilih sendiri menu sarapannya untuk besok, biarkan mereka memiliki kontrol

Anak belajar dari apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan

Tiga kaki konsep diri yang baik: merasa dicintai sekitar, yakin punya kemampuan dan merasa mampu mengontrol hidup sendiri

Jangan mengambil alih proses pembelajaran anak seperti mengancingkan bajunya, menalikan sepatunya supaya cepat selesai

Kasihan harga dirinya nanti ketika sudah TK atau SD tapi belum bisa mengancingkan bajunya sendiri

Biarkan anak melakukan kesalahan asal tidak berbahaya, tekankan kekuatan yang dimilikinya, hindari mengkritik, dan melindungi

Bermusyawarahlah dengan anak, kalau anak melakukan kesalahan jangan dihancurkan lagi harga dirinya

Dalam rangka memperbaiki gaya pengasuhan kita:

Tutup AIB anak! Jangan suka mengeluh atau menjelekkan anak di media sosial. Kita nggak mau kan nanti dijelekkin mereka ke teman-temannya?

Buat prioritas, mana yang didahulukan, tetapkan target untuk diri sendiri, dan berikan target yang realistis untuk anak

Belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik, lengkapi diri, siapkan mental, dan selalu sediakan waktu (jangan tergesa-gesa)

It takes a village to raise a kid. Tularkan gaya pengasuhan yang kita mau ke pengasuh, kakek nenek, om tante, dan bahkan tetangga

TV tidak memberikan imajinasi karena TV itu kongkret ada visual dan audio. Buku memberikan imajinasi tak terbatas

Mudah-mudahan berguna ya, Mommies 🙂

Source Mommiesdaily

Advertisements

Listening with your eyes?

Berhubung aye belom ahli nulis parenting “things” jadi sementara ini aye copas copas artikel yang bergizi dulu yaa…. 😉
Cekidot

I found this on the recent book I read, Have a Little Faith by Mitch Albom (P.59) and thought I’d share it with you here.

——

A little girl came home from school with a drawing she’d made in class. She danced into the kitchen, where her mother was preparing dinner.

“Mom, guess what?”, she squealed, waving the drawing.
Her mother never looked up.
“What?”,  She said, tending to the pots.
“Guess what?” The child repeated, waving the drawing.
“What?” the mother said, tending to the plates.
“Mom, you’re not listening”
“Sweetie, yes I am”
“Mom”, the child said. “You’re not listening with your eyes”.

Don’t we hate it when we talk to someone and his/her eyes are not looking at us? We hate it because makes us feel ignored and less valuable.

Sadly, there are times when our kids are talking to us and our eyes are so focus on the Blackberry screen instead of on their sparkling innocent eyes :(. Isn’t it ironic that as mother we always say proudly that kids are our number one priority, yet on day to day basis, we always seem to multitask the most important people in our life with the not so important things, like reading time line on our Twitter or replying someone’s BBM 😦

So yes, that’s just a friendly reminder *sort of a note to (MY) self* that to really listen to our children, we have to put aside whatever we’re doing at the moment, squat to their  eye level and look them in the eyes. Listening is different than hearing. Hearing is something that just happens, but listening requires more effort. Listening demands concentration so we can process the words and comprehend what’s exactly they are saying and understand their feelings. Listening leads to learning and helps us connect with them. And if we want them to listen to us, we better listen to them first.

May we  be a good listener to our children, the one who listens with her ears, eyes and heart :).

Source from Mommiesdaily

Never a perfect mom

Menjadi seorang Ibu itu membahagiakan. Ya kan ya kan?
Kadar bahagianya setara dengan kadar tangisannya, sejurus dengan jalan perjuangannya, sehebat energi yang harus dikeluarkannya dari detik ke detik.

Long time ago…
Jauh sebelum aku merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang Ibu, kerap sekali cibiran keluar dari mulutku kala kudapati ibu-ibu yang memarahi anaknya. Merasa menderita bak anak yang dimarahinya. Semacam senasib.

Seringnya aku kecewa dengan apa yang kuterima sebagai anak dari seorang Ibu seperti Ibuku.
Lantas bertekad kuat untuk memperbaiki kekurangannya dalam mendidik, merawat dan membesarkanku. Dalam kata dan laku.

Beberapa jam setelah melahirkan, rasanya aku ingin menampar diri sendiri yang selalu menyalahkan kekurangan Ibu dalam mengasuhku.
Aku memohon maaf padanya.

Months after being mom…
Aku tahu, bahwa aku pun seperti Ibuku yang tak pernah sempurna menjadi seorang Ibu
Yang kadang tak bisa menahan emosi menghadapi tangis anak
Menghadapi letihnya diri sendiri dalam mengasuh anak
Memerangi emosi diri sendiri dalam merawat bayi, sendiri…

Sebanyak apapun buku, materi, artikel dll yang kubaca agar aku menjadi sempurna dalam membesarkan anak-anakku
Sesering apapun aku mengikuti kajian, pelatihan terkait mothering dan parenting… Satu yang pasti:
I will never be the perfect mom. I try hard to be better time to time. I just try hard not to be the bad one.

Semua yang kubaca, semua kajian dan pelatihan yang kuikuti adalah bukti bahwa aku berusaha, berjuang sungguh-sungguh untuk memutus mata rantai pola asuh yang salah
Semoga Allah menghitungnya sebagai ibadah, sebagai baktiku pada-Nya.
Allaah… Hanya kepada-Mu kumohon pertolongan
Mohon bimbing aku merawat semua amanah-Mu

Aamiin

I have carried you, always.*

Before you were conceived, I carried a part of you in my soul.
When I met your father, I looked into his eyes and saw the other part of you, and knew you, and prayed that you would come to be.

Before you were born, I carried you in my womb.
When you were restless I sang to you and soothed you and told you how I loved you.

When you were born, I carried you in my arms. I kissed you and held you and put you to my breast, so that you would know that there is light and warmth and goodness in the world.

Later, I wrapped you in cloth and carried you close to my heart. I held you close so that you could hear that my heart beats like yours; that we are the same, you and I, and that you would never have to cry alone.

After a while, I carried you on my back, so that you could look at the world with confidence and joy and know that you belonged; so that you could share all of the beauty of the world as an equal to all that live in it.

Now, later still, I carry you when you are tired or fearful. So that you know that no matter how weary you become, or what life holds, you can always depend on others for support and comfort.

When you grow older, my darling, and your adventures take you further from my arms, know that even in my last hour I will carry you.
I will carry you in my heart, for you are always with me.

I will carry you, always.

——–

Dan aku menangis baca ini
(T_T)
。゜(`Д´)゜。

* Copas dari Islam For Kids

Rahasia mengerjakan pekerjaan domestik dengan masa depan :-D

Repost dari Fan Page nya Darwis Tere Liye

**Rahasia mengepel, mencuci, dll dengan masa depan Anda

Tulisan ini untuk main-main saja, tidak
serius–saya nulisnya saja sambil cengar-cengir, tidak pakai landasan ilmiah apalagi hingga riset lama.
Nah, ditulis, agar banyak orang realized, menyadari begitu beragamnya pekerjaan rumah yang boleh jadi kita tinggal terima beres saja.
Semoga dengan membaca tulisan ini, jadi ngeh, kalau semua pekerjaan rumah itu penting dan pantas diapresiasi.

Kabar baiknya,
karena saya tidak suka menggurui orang lain, memaksa kalian, catatan akan saya tulis dengan pendekatan berbeda.

Topik tulisan ini adalah: jika kita sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan sebuah pekerjaan rumah, maka kelak, kita akan jadi pribadi seperti apa?

1. Mencuci piring
–Kalau dia cewek, maka kelak saat tumbuh besar, dia akan jadi gadis yang anggun.
Anak cewek usia 5-6 tahun, terampil
mencuci piring, mulai dari membuang sisa makanan, menyiramnya dengan air,
disabun, dibasuh, lantas mengeringkannya, disusun di rak piring, itu simbol betapa anggunnya kelak saat dia menjadi wanita dewasa. Kalau dia cowok, maka kelak akan jadi pemuda yang penyabar. Mencuci piring itu pekerjaan yang butuh kesungguhan
bukan? Orang2 habis makan tinggal pergi, eh kita disuruh cuci piringnya. Maka, para cowok yg sejak kecil terbiasa disuruh mencuci piring, adalah laki-laki yang pantas dipertimbangkan sebagai calon suami.
Dia type suami yang penyabar.

2. Mencuci dan menyetrika pakaian
–Berlaku untuk dua-duanya, cowok dan cewek. Anak-anak yang sejak kecil
dibiasakan bertanggungjawab mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, atau bahkan mencuci pakaian seluruh keluarga, akan tumbuh jadi anak yang disiplin dan paham tentang pengorbanan. Tidak mudah loh
mencuci pakaian sendiri. Banyak yang suka ditumpuk2 dulu pakaiannya, kelupaan direndam, sampai bau, maka melihat anak-anak yang sejak kecil sudah terampil mencuci pakaian, itu sama saja dengan melihat calon pemuda-pemudi masa depan
yang tangguh. Apalagi menyetrika, itu
menghabiskan banyak waktu, belum lagi hanya untuk tahu, disetrika rapi-rapi nanti-nanti juga lusuh lagi saat dipakai.
Bagaimana kalau anak2nya bahkan
semangat mau mencuci baju-baju
tetangga? teman2nya? Kalau yang ini, bisa dipastikan, bakal sukses besar kalau dibuatkan bisnis laundry.

3. Menyapu dan mengepel rumah
–Kalau cewek, ini jelas akan tumbuh jadi gadis yang gesit dan cekatan. Kalau cowok, saat dewasa nanti akan tumbuh jadi pemuda yang bisa diandalkan, semua pekerjaan yang diberikan padanya akan beres.
Nah, mau cewek atau cowok, anak-anak yang sejak kecil dibiasakan menyapu dan mengepel rumah, pasti akan tumbuh jadi anak yang cerdas, memakai logikanya dan sistematis.
Kalian tahu, lulusan sarjana sekalipun, kalau tidak pernah mengepel lantai, maka dia akan kagok, dan lupa logika
bahwa ngepel itu harus mundur. Logika,
bukan?

4. Memasak
— Wuah, anak2 cowok yang sejak kecil
dibiasakan masak, besok lusa akan punya istri cantik jelita. Nah, ibu-bapak, kalau mau punya menantu cantik, anak bujangnya diajari masak, ya. Kalaupun ternyata rumus ini gagal–dan sy jelas ngarang saja, setidaknya di rumah akan ada koki kecil yang bisa diandalkan.
Semua wanita suka dengan cowok yg pandai masak. Sementara
kalau anak cewek yang dibiasakan masak sejak kecil, sama, besok lusa juga akan punya suami yang tampannya pol, plus baik hati. Ditambah bonus, disayang anak2nya.
Jadi membiasakan anak-anak masak sejak kecil, adalah strategi paling mudah untuk memperbaiki keturunan.

5. Menyikat kamar mandi
–Bukan main, kalau dia cowok, maka
sungguh beruntung Bapak/Ibu yg punya anak demikian. Kelak kalau sudah besar, dia berbakat jadi pemimpin semacam gubernur DKI Jakarta yg rendah hati dan suka mendatangi orang2 kecil itu. Tanya saja
sama beliau, waktu kecil pasti rajin menyikat kamar mandi. Nah, kalau dia cewek, dia akan tumbuh jd ibu yang sayang dgn anak2nya, menjaga keluarganya, dan bisa selalu
menjaga amanah.

Apa hubungannya
menyikat kamar mandi dgn hal2 tersebut? Cobalah menyikat kamar mandi, toilet, dsbgnya, maka akan paham sendiri. Ilmu ini hanya bisa dipahami jika dipraktekkan.

Kurang lebih demikian. Maka adik2 remaja atau juga orang2 dewasa di page ini, bersyukurlah selalu jika keluarga kita
berkecukupan dan kita tdk perlu melakukan hal ini semua–sebab ada yg sudah membereskannya. Tapi se kaya apapun keluarga kita, se makmur apapun orang tua kita, kita selalu bisa memilih utk bisa bekerja di rumah, mengurus pekerjaan rumah.
Jangan sebaliknya, sudah orang tuanya ngos-ngosan cari nafkah, kita susaaaahnya minta ampun disuruh ngepel.
Lebih sering ribut minta pulsa biar bisa
facebookan, internetan, dan itu tuh, lebih
asyik menghabiskan waktu baca tulisan2 di page tere-liye.

—–
LOL
Tapi makjleb loh
Noted di pikiran 😀

When we love something…

“When we love something it is of value to us, and when something is of value to us we spend time with it, time enjoying it and time taking care of it.
Observe a teenager in love with his car and note the time he will spend admiring it, polishing it, repairing it, tuning it.
Or an older person with a beloved rose garden, and the time spent pruning and mulching and fertilizing and studying it.
So it is when we love children; we spend time admiring them and caring for them. We give them our time.”

M. Scott Peck M.D.
The Road Less Traveled

Taken from here