Category Archives: ramadhan

Ramadhan kini

Jum’at terakhir di Ramadhan tahun ini

Entah apakah masih bisa bertemu lagi tahun depan?

Ramadhan selalu ajaib untukku

Ramadhan mengingatkanku bahwa Allah selalu menjaga dan menyelamatkanku dari kejahatan diri sendiri

kejahatan yang akan membunuh diri dan jiwaku

sungguh, jika bukan karena cinta kasih dan ampunan-Nya pastilah aku termasuk orang yang menyesal dan merugi saat ini

Allaah, semoga Ramadhan selalu kuingat sebagai salah satu besarnya cinta-Mu yang menuntun langkahku di sepanjang waktu

Terima kasih Allah atas penjagaan, cinta, ampunan dan kesempatan untuk kembali pada cinta-Mu

Terima kasih karena tidak meninggalkanku meski saat itu aku hampir tersungkur kedalam jurang kehinaan

Terima kasih Allah karena sudi mengangkatku dari kubangan dosa yang nista dan hina

Terima kasih Allah tahun ini mengizinkanku membersamai Ramadhan-Mu… meski mungkin tak sempurna ibadahku.

Allah, mohon jangan tinggalkan aku sejauh apapun langkahku…

Jumu’ah Mubarakah

29 Ramadhan 1433

Advertisements

Jumat terakhir di Ramadhan 1432 H

Aah waktu melesat bak kilat
Sampailah kita pada perpisahan
Bisa jadi ini yang terakhir kalinya meregup Ramadhan kariim
Tak mampu jumawa  akan bersua Ramadhan kembali

Lantas, akankah gelar faaiziin & muttaqiin menjadi milik kita?

Sungguh merugi bagi jiwa yang tak meraup rahmat, ampunan, & lindungan dari-Nya..

#IngatkanDiri
#Reminder26

26 Ramadhan 1432 H
Jum’atul Mubaarak
Jumat terakhir di Ramadhan 1432 H

Masjid Ukhuwah Islamiyah
UI – Depok

[Ramadhan Giveaways] Sebulan untuk selamanya



Ramadhan 1428 telah menyapa kami dengan begitu indah

Maka…

Ramadhan demi Ramadhan setelahnya menjadi kian berbeda, bermakna.

Meski raga tak lagi bersama

Meski kata tak lagi kerap berjumpa

Meski jarak sungguh mengikis asa

Ia selalu di hati

Selalu terbayang saat Ramadhan

Entah apakah ia masih ingat padaku

Pada kebersamaan kami kala senja

Pada keriuhan diskusi kami kala berdua

Pada lomba kami dalam kebaikan

Pada shalat awal waktu yang kami tinggikan

Pada tilawah 1 juz per hari yang kami tekadkan

Pada hafalan Qur’an yang kami citakan

Pada dakwah kampus yang didalamnya kami berjuang

Pada pertanyaannya:

“Teh, mau kah jadi saudara yang saling mencinta karena-Nya? Agar kelak dinaungi Allah di yaumil akhir? ”

Deg! Dia mungkin tak tahu, saat itu hatiku haru… Terkejut, terharu tapi juga senang

Hatiku berdesir lirih: “Ya Allah akhirnya aku temukan teman sejati yang dengannya cinta ini ada karena dan untuk-Mu”  :”>

Dia mungkin tak pernah tahu betapa besar pengaruhnya dalam hidupku

Betapa besar porsi cintaku untuknya…

“Rina tahu teh, Teteh lebih sayang sama Teh Dina ketimbang Rina, itu sebabnya Teteh lebih dengerin Teh Dina”

Aaah kau tahu apa?

Ingin rasanya saat itu aku menamparnya dengan: Kau tidak pernah tahu!

Ya. Kau tak pernah tahu…

Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku hingga saat ini

Memoriku masih jelas memutar kata-katanya senja itu…

“Kalau Teteh gak berubah juga menjadi lebih baik, apa gunanya Rina di deket Teteh?”

Ah apakah kau tahu, kau sangat bermanfaat untukku… Untuk hidupku…

Menjadi sahabat sejati, sahabat sebenar-benarnya…
Menjadi teman dalam pencarianku di jalan pulang pada-Nya sebagai anak hilang yang tersesat di belantara dunia….

Ramadhan 1428 yang sudah berlalu, tapi tak pernah pergi dari ingatanku.

Ramadhan 1428 yang lalu…

Aku mencintaimu…

Hingga kinipun begitu.
Oya satu lagi, Aku Rindu…

——-

Menjelang akhir Ramadhan 1428 itu

Aku memintanya menuliskan surat untukku
Lalu kemudian kami bertukar surat itu sebelum kami berdua pulang ke kampung halaman masing-masing
Isi suratnya bisa dilihat disini.
Surat darinya masih kusimpan, meski sudah usang.
Surat kenangan. Surat Ramadhan.

Teruntuk Rina Anugrah, S.Si, Apt.
Sang Pejuang al Qur’an
Sahabat, kakak dan saudariku

 

Selama ini ku mencari-cari
Teman yang sejati buat menemani perjuangan ini
Bersyukur kini pada mu Illahi
Teman yang dicari selama ini telah ku temuiii…
Dengannya disisi perjuangan ini
Tenanti arungi bertambah murni
Kasih ilahi..kepada mu Alloh kupanjatkan doa
Agar berkekalan kasih sayang kita
Kepada mu teman ku mohon sukungan
berkorban dan pengertian
telah kuungkap segala-segalanya

(Brothers – Teman Sejati)

 

____________

Tulisan ini dibuat untuk berpartisipasi dalam Ramadhan Giveaways yang diadakan oleh Rifi http://rifzahra.multiply.com/journal/item/295/Ramadhan_Giveaways
Tidak berharap menang…
Tapi kalau boleh, aku berharap buku bukavu HTR

Menuai Pahala dengan Sebiji Kurma di Metromini 46

Kamis, 9 menjelang 10 Ramadhan 1431
Ashar Menuju Maghrib

Jalan Matraman Raya dan Pramuka macet, padat merayap…

Allahu Akbar… Allaaahu Akbar…


Sayup-sayup terdengar suara adzan pertanda ifthar dan berakhirnya shaum di 9 Ramadhan 1431.


Saat itu aku masih didalam Metromini 46 dengan kondisi belum sempat membeli ta’jil atau sekedar air mineral untuk berbuka, ini berarti aku akan menunda iftharku sekitar 10-15 menit lagi untuk sampai ke kosan. Tiba-tiba seorang Bapak menyapaku, ia menawarkan
kurma yang dibawanya padaku dan beberapa penumpang lain.





“Terima Kasih Pak… ucapku sembari berhamdalah dalam hati tanda kebaikan Allah tengah menghinggapi. Alhamdulillaah.

Betapa saat itu sebiji kurma yang kuambil dari kotaknya bak air segar yang mengguyur dahagaku. Alhamdulillaah.

Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.”
(HR. At Tirmidzi).

Dari Abu Huraira radhiyallahu `anhu , ia berkata :


“Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam  bersabda : “Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari  usahanya yang halal lagi baik (Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik), maka sesungguhnya Allah menerima sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang  di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.”
Muttafaq ’alaih



Sebiji kurma yang menjadi pahala Bapak itu, pahala yang diakumulasikan dengan jumlah biji kurma yang dinikmati oleh para shaaimiin di metromini 46, pahala yang setara dengan shaum orang yang mendapatkan kurmanya. Subhanallaah… Jadi terpikir olehku… “Kenapa aku tidak sengaja menyiapkan makanan lebih saat dijalan, di saat-saat tak terduga semisal macet?” Saat-saat ketika orang-orang sangat membutuhkan.


Sungguh, Ramadhan ini hanya sebentar… Bukankah seharusnya setiap hal, setiap laku dipertimbangkan agar menuai pahala dari arah mana saja?

Karena kita tak pernah tau, dari jalan kebaikan mana amalan kita diterima
Karena kita takkan pernah tahu, melalui do’a siapa Allah mengijabah kebaikan untuk kita? Bisa saja dari doa orang-orang yang menerima ta’jil dari kita atau doa orang yang menerima sebiji kurma itu? We’ll never know
.

So… tebarkan kebaikan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun, yuk?

*Membiasakan diri berbuat baik di Ramadhan, agar menjadi karakter di 11 bulan kedepan*

Gambar dari sini

Yeyeyey! Character Building Melalui Ramadhan \^o^/

Dalam berbagai literatur apapun pengertian tentang puasa adalah al-imsak menahan. Ismail Raji Alfaruqi menyebut puasa sebagai media yang paling tepat untuk menahan diri. Kata kunci puasa sejak diwajibkannya terhadap umat terdahulu sampai sekarang adalah menahan diri dari segala perangai buruk yang merupakan karakter binatang. Oleh karena itu puasa Ramadhan sebagai bulan yang begitu khusus diberikan oleh Allah SWT menyediakan waktu dan metode dalam pembentukan karakter manusia. Karakter manusia yang diharapkan lahir dari madrasah Ramadhan adalah manusia yang bertaqwa (QS.2:183).

Jalan menuju karakter menjadi manusia bertaqwa ada dalam makna-makna tertinggi berpuasa, di antaranya :


Pertama, Ramadhan mengajarkan optimisme

Tidak ada satupun ancaman bagi orang yang bersiap bersatu dengan Ramadhan. Setiap orang dalam keadaan apapun sebelumnya Ramadhan menjawabnya dengan optimism. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa bulan Ramadhan awalnya adalah bulan rahmat, pertengahannya ampunan dari segala bentuk dosa, dan akhirnya adalah selamatnya kita dari api neraka. Syeikh Abdul Fatah Ilmuwan Mesir memaknai hadits ini bahwa kendatipun orang sepanjang hayat tidak pernah mendapat rahmat dan ampunan dari Allah tetapi begitu datang Ramadhan ia bertaubat memohon ampun, maka Allah akan memberikan ampunan tersebut dan akhirnya dijaga oleh Allah SWT segala keburukan tingkah lakunya.


Kedua, puasa Ramadhan membiasakan orang untuk jujur dan adil

Jujur artinya ia dapat dipercaya dan tidak melakukan bentuk kebohongan sekecil apapun. Dalam hadits riwayat Bukhari Nabi Muhammad SAW bersabda barangsiapa yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya (puasanya). Para tokoh dunia yang berhasil menjadi pemimpin adalah mereka yang memiliki sifat kejujuran. Nabi Muhammad SAW menjadi tokoh yang paling berpengaruh di dunia ini memupuk diri menjadi seorang yang memiliki kepribadian jujur sehingga semasa muda sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul telah diberi gelar oleh masyarakatnya dengan al-amin yaitu orang terpercaya. Dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang menyebabkan krisis multi dimensional adalah karena kita sudah tidak memiliki sifat kejujuran. Akibatnya korupsi, manipulasi, kolusi, dan nepotisme menjadi bagian dari karakter hidup. Puasa Ramadhan mentraining kita untuk keluar dari cengkraman virus tersebut. Pentingnya jujur dan adil dalam kehidupan sebagai bukti taqwa Allah SWT mengingatkan,

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran/kejujuran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Almaidah:8).

Ketiga, puasa Ramadhan membiasakan hidup disiplin

Puasa Ramdahan memiliki aturan waktu yang sangat jelas
. Misal pelaksanaannya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Sebelumnya disunahkan untuk sahur yaitu makan dan minum sebelum fajar terbit. Terbenam matahari kemudian berbuka puasa tidak harus maka menahan lagi saatnya untuk makan dan minum sesuai kesukaannya asal tidak berlebihan. Malamnya setelah sahalat Isya disunahkan untuk shalat Tarawih (shalat sesudah suasana rileks setelah menikmati santapan hidangan berbuka puasa. Sehingga puasa Ramadhan mengajarkan bagaimana kita membiasakan diri untuk disiplin dengan rangkaian waktu yang jelas. Disiplin merupakan cerminan dari sebuah masyarakat yang berbudaya maju. Oleh karena itu karakter disiplin merupakan karakter orang yang sukses. Dengan demikian puasa melatih dan membentuk disiplin setahap demi setahap. Biasanya sebuah kebaikan seperti disiplin jika dibiasakan dalam beberapa waktu bahkan satu bulan akan menjadi jiwa dan kepribadian seseorang ketika dijalani dengan penuh kesabaran. Maka pantas Rasulullah SAW menegaskan barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan mengaharap keridhaon Allah (dengan disiplin), maka diampuni dosa-dosa yang terdahulu.


Keempat, puasa Ramadhan membiasakan hidup bertoleransi.

Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk hidup dengan damai. Bahkan Rasulullah SAW mengingatkan ketika ada orang yang memerangi diwaktu kita berpuasa dianjurkan untuk mengalah, katakan saya sedang berpuasa. Artinya bagi orang-orang yang jelas mengajak konflik dan memerangi saja harus mengalah apalagi kepada orang-orang yang sama sekali tidak bermusuhan Nabi mengajarkan kita untuk menghargainya dan berlaku baik dengan mereka. Maka pantas puncak dari taqwa sebagai tujuan akhir puasa adalah penghargaan terhadap pluralitas. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat : 13

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.


Kelima, Ramadhan mengasah kepekaan sosial.

Salah satu isi khutbah Rasulullah SAW kepada para sahabat tentang pelaksanaan puasa Ramadhan adalah “Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin (faqir dan miskin)”. Puasa Ramadhan mengenalkan kepada kita untuk merasakan lapar dan hausnya orang miskin dalam menjalani hidup. Bagi orang yang berpuasa mereka lapar dan dahaga hanya sepanjang hari dari pagi sampai sore tetapi bagi orang yang miskin mereka lapar dan dahaga sepanjang waktu siang mapun malam. Maka pantas Rasulullah mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan bulan berderma atau berfilantropi. Dengan ikut merasakan lapar dan dahaganya kekurangan makanan dan minuman menjadikan orang akan tersentuh nuraninya untuk peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Bahwa sharing dan berbagi atas apa yang kita miliki merupakan kenisacyaan manusia yang beriman.


Keenam, Ramadhan membangun sikap bertanggung jawab.

Dalam pelaksanaannya ibadah puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lain yang mengharuskan pelibatan orang lain dan kontrol sosial. Seperti shalat yang sangat dianjurkan adalah berjama’ah, artinya terlihat oleh orang lain. Zakat bahkan ada panitianya (amil), sehingga orang yang berzakat pasti akan diketahui oleh orang lain. Menikah tidak sekedar suka sama suka tetapi juga diperlukan saksi-saksi untuk menjadi dasar legalitasnya. Ibadah puasa begitu rahasia, privat, dan tidak deklaratif yang tahu hanya diri orang yang melaksanakannya dan Tuhan. Sehingga sikap tanggung jawab yang didasari keimanan menjadikan orang mampu berpuasa. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa puasa itu milik Tuhan, jadi Tuhan yang akan langsung mengontrol dan membalasanya.

Copas dari web internal kantor
Author:
Sumadi (Guru Pesantren Darussalam Ciamis Jawa Barat, alumnus East West Center USA).
Source: unknown

Indonesia ada karena Ramadhan

Buka Learning Center-nya kantor (web internal), ada artikel bagus ditulis oleh salah satu rekan di Divisi lain, semoga bermanfaat.

Indonesia ada karena Ramadhan: Sebuah Tinjauan Historis terhadap sejarah Perjuangan Kaum Muslimin

Oleh: Muhammad Haden Aulia Husein*

“Allohu Akbar….Allohu Akbar…. Allohu Akbar”.

Itulah sekiranya pekikan yang digaungkan bung Tomo tanggal 10 November 1945, disela-sela pidato penyemangatnya di radio RRI Surabaya yang mampu memecut semangat arek-arek suroboyo untuk menyambut serangan dari Sekutu yang membonceng tentara belanda. Peperangan yang disebabkan tewasnya jendral Malaby dari sekutu laknatulloh alaih dimana tidak pernah ada jendral sekutu di perang dunia II saat itu yang terbunuh, melainkan di bumi nusantara. Kisah heroik yang harusnya menjadi pembelajaran yang penting bagi pemuda-pemuda Islam yang sekarang lebih sibuk dengan dugem, happy hour, Narsis dan lain sebagainya.

Di detik-detik Romadhon yang terus berdenting. Berapa banyak manusia terutama pemuda yang menyisihkan waktu hidupnya untuk ikhlas berjuang untuk orang lain. Mungkin, kita hanya mampu melihatnya di layar kaca itupun karena ada pujian dan hadiah yang diberikan oleh stasiun TV atau sponsor acara tersebut. Sejatinya, kita sebagai anak bangsa harus mampu bekerja produktif dengan ikhlas sebagai pondasi dasar perjuangan di pelbagai kehidupannya.

Slogan yang di lontarkan bung Karno sebagai founding father kita yaitu “JAS MERAH” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) merupakan ungkapan yang tepat bagi merevolusi gaya berfikir pemuda Indonesia saat ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri. Islam pun mengajarkan demikian, yaitu perjuangan/ jihad dimana Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma mengartikannya: “mencurahkan kemampuan karena yakin pada Allah serta tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela” . Karenanya, perjuangan indonesia bukanlah hal yang biasa tapi hal yang luar biasa karena merupakan kristalisasi dari perjuangan para ulama dan kaum muslimin Indonesia.

Puncak perjuangan Muslim Indonesia dalam upaya kemerdekaan Indonesia ternyata sangatlah nyata yaitu pada saat detik-detik proklamasi. Mungkin kita hanya mendengar tentang desakan para pemuda yang menculik sukarno ke rengasdengklok agar menyegerakan proklamasi kemerdekaan dari buku-buku sejarah di sekolah. Tapi sesungguhnya, sukarno tetap tidak berani. Dikarenakan di dorong oleh K.H Hasyim Asy’ari lah akhirnya Sukarno mau memproklamasikan Negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 M atau bertepatan dengan 19 Romadhon 1364 H. Jelaslah sudah bahwa tepat yang disampaikan jika Romadhon adalah Syahrul Jihad/ Bulan perjuangan. Dan sebagai balas jasa kaum muslimin, Sukarno kemudian membangun Masjid Syuhada Di Jogjakarta. Dan sebagai tambahan bahwa pemimpin tentara PETA dari 68 batalyon pada saat itu, bukan hanya terdiri dari perwira melainkan para Ulama.

Jadi, Dimanakah anda wahai pemuda Islam? Jika sejarah telah menorehkan tinta kecemerlangan Kemerdekaan Negara kita, apa yang kalian tunggu untuk membangun bangsa ini menuju keperbaikan yang nyata? Bukan hanya fisik dan intelektual yang akan anda susun tapi membangun peradaban bangsa dengan memulai membangun ruhiyah kalian dengan bersemangat dalam berislam di tiap-tiap sendi kehidupan. Karena ini akan mengantarkan kita menjadi bangsa yang besar, yang masyarakatnya mencintai Alloh dan Allohpun mencintai mereka.

فَلاَ تُطِعِ الْكاَفِرِيْنَ وَجاَهِدْهُمْ بِهِ جِهاَداً كَبِيْراًً  “Maka janganlah kamu mengikuti orang2 kafir dan berjihadlah terhadap mereka dgn Al-Qur’an dgn jihad yg besar.”

Author:
Muhammad Haden Aulia Husein
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Univ Padjajaran
ZIS Consultant Rumah Zakat
http://babehhaden.blogspot.com/

Rambu-rambu Ramadhan!

Gugling image nemu gambar2 lucu dan wokeh
Semoga bermanfaat 🙂

Hadits terkait dengan Shaum

1. Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (HR. Bukhari)

2. Allah Azza wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunahkan shalat malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam dengan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. (HR. Ahmad)

3. Rasulullah Saw menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan, “Aamin”, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah mengucapkan “Aamin”? Beliau lalu menjawab, “Malaikat Jibril datang dan berkata, “Kecewa dan merugi seorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu” lalu aku berucap “Aamin.” Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga.” Lalu aku mengucapkan “aamin”. Kemudian katanya lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya.” Lalu aku mengucapkan “Aamin.” (HR. Ahmad)

4. Bau mulut seorang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat dari harumnya misik (minyak wangi paling harum di dunia). (HR. Bukhari)

5. Makanlah waktu sahur. Sesungguhnya makan waktu sahur menyebabkan berkah. (HR. Mutafaqalaih)

6. Manusia tetap berkondisi baik selama mereka tidak menunda-nunda berbuka puasa. (HR. Bukhari)

7. Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya. (HR. Bukhari)

8. Barangsiapa shalat malam pada malam Lailatul Qodar dengan keimanan dan harapan pahala dari Allah maka akan terampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (HR. Bukhari)

9. Mungkin hasil yang diraih seorang shaum (yang berpuasa) hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul lail) hanyalah berjaga. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

10. Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun. (HR. Tirmidzi)

11. Tidaklah termasuk kebajikan orang yang tetap berpuasa dalam perjalanan (musafir). (HR. Bukhari)

12. Barangsiapa berbuka puasa sehari tanpa rukshah (alasan yang dibenarkan) atau sakit, maka tidak akan dapat ditebus (dosanya) dengan berpuasa seumur hidup meskipun dia melakukannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Barangsiapa berpuasa Ramadhan (penuh) lalu diikuti dengan berpuasa enam hari dalam bulan Syawal maka dia seperti berpuasa seumur hidup. (HR. Muslim)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

*Pengirim/Sumber Artikel :
Ardiz.Blogspot.com

*Gambar dari berbagai Sumber