Category Archives: Spiritual

Ramadhan Pertamaku diiiiii……. Jakarta! *sigh*

Tahun ini, pertama kalinya aku harus menghabiskan Ramadhanku di Jakarta, Ramadhan tak biasa. Pasti.

Semenjak SK Mutasiku turun, terbayang olehku bagaimana kerasnya hidup di Jakarta, terlebih aku tidak punya sanak family disini, semua keluarga berdomisili di negeri parahyangan Bandung, Sukabumi dan Bogor ck..ck..
Cerita beruntungnya adalah aku bertemu dengan teman-teman MP yang selama ini sulit kutemui, Alhamdulillaah… Allah menjagaku melalui bodyguard-bodyguard persahabatan yang indah.

Sore itu… Senin, 10 Agustus 2010
Waktu Ashar

Pulang dari kantor, di metromini ternyata aku tertidur…
Bangun-bangun entah dimana, turun deh daripada kejauhan…
Ternyata masih Utan Kayu (panjang juga jalannya ternyata)

Sesampainya di Jl.Mede aku dikagetkan dengan segerombolan orang yang mengarak Ondel-ondel, “Inikah cara orang Jakarta menyambut Ramadhan?” Pikirku sendiri sambil tersenyum geli Doengdoeng

Hihihii lucu juga, eeeh si gerombolan ondel-ondel malah berada tepat dibelakangku saat berjalan, doh! Berasa jadi artis Ondel-ondel aja, sementara warga sekitar menertawakan ondel-ondel tersebut hadoooh X_X

Benar-benar sendiri

Di tempat kosku kini, tinggallah aku sendiri… Teman-teman kos sebelumnya (yang sudah lama tinggal disana) memutuskan untuk pindah karena satu dan lain hal (menemukan kosan “yang lebih baik”, pindah tempat dll) yang jelas BUKAN karena kehadiranku, absolutely NOT

Jadilah aku penghuni terakhir itu fufufufu… Satu-satunya penghuni kosan Ibu Elga

Sebagai satu-satunya penghuni kos, sebagai pendatang baru, aku belumlah kenal siapapun di daerahku, disebabkan waktu yang sangat kurang memungkinkan untukku bersosialisasi dengan masyarakat sekitar mengingat jam “hidupku” disana yang bersiklus : Pergi pagi pulang malam (sore deng).

Malam harinya aku memutuskan untuk mencari Mesjid yang sering disebut-sebut “Al Manar”, tempatnya para aktivis -katanya-, waktu udah mepeeet banget mau tarawih, aku baru sampe dan taraaaaaaaaaaa penuuuh banget! aku gak dapet tempat di Masjidnya… Hingga seorang ibu menunjukkanku sebuah kelas yang dipadati jama’ah (area mesjid al manar juga, kelas dan mesjidnya tetanggaan).

Jrengjreng… No Carpet, No Sajadah. Unfortunately… I didn’t bring it also

Lalu aku duduk mendengarkan Sang Ustadz berceramah sambil memandangi lantai yang kurang oke buat sujud heuheu… *adegan anak tiri melintas* qeqeqe
Tiba-tiba seseorang akhwat, Mbak Yanti namanya, menawarkan sajadahnya untuk dibagi berdua, kami berkenalan dan beliaulah orang pertama yang kukenal disana, di Ramadhan pertamaku. Beliau asal Madiun (kalau tidak salah)… Merantau ke Jakarta untuk sebuah pekerjaan, khas wanita jawa pada umumnya beliau sangat kental dengan dialek jawa, ramah dan sederhana. 

Sekali lagi… Allah menjagaku melalui pertemuan dengan Mbak Yanti. Alhamdulillaah.

Selepas Tarawih, disana ada beberapa orang yang berkumpul untuk tadarus-an, sebuah kegiatan membaca al-Qur’an dengan bergiliran…

Ada beberapa orang akhwat, seingatku ada Mbak Mire (yang kemudian kuketahui sebagai teman kuliahnya Lya MP), Mbak Aya (Ibu Muda cantik yang memiliki Baby Maryam kecil), Mbak A, B, dan C yang aku lupa namanya, terus adaaaaaa Oca dan Nila yang dikemudian hari memberiku kejutan… hihihihi (ceritanya nyusul )

Alhamdulillah wa syukurillaah…

Sukseskan Ramadhan! Ramadhanku, Ramadhanmu, Ramadhan kita semuaaa… \^o^/

Dengan penuh Cinta
The Night of 1st Ramadhan 1431 H/ 10-11 Agt 2010

Pelangi dijalanku… [sebuah warna rasa]


Prolog:
Sekitar satu tahun yang lalu, seorang Ardian Perdana Putra Sang Aktivis Salman mengajakku untuk gabung bikin
Proyek Buku Kampung Bocah Part II: sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan tentang ukhuwah bersama aktivis Salman dan anak-anak FSLDK se-Indonesia, buku Kampung Bocah sequel pertamanya udah terbit, berisi kumpulan tulisan anak-anak Salman aja…

Setahun berselang…

Tulisan untuk kampung bocah ini belum terbit juga, kendalanya karena pengurusnya pada sibuk kegiatan lain, pada nikah, dll ck...ck…  tadinya mah ga akan kupublish di blog yang ini, karena emang niatnya buat projek buku Kampung Bocah itu ajah… hehee berhubung belom ada kejelasan nasib Buku Kampung Bocah II ituuuuuhhh, maka aku putuskan untuk posting tulisanku disini aja deeh… lumayan semoga bermanfaat  ^____^

Happy Reading!!
Cekidooottttt…

Pelangi
Miranty Januaresty*


Tiba-tiba aku terjaga malam itu, kucubit pipiku…
“awww… sakit” ringisku.
Alhamdulillaah aku masih hidup! Allah masih memberikanku kesempatan (entah untuk keberapa kalinya) berbekal amal baik dan mengizinkanku memperbaiki diri, hingga saat Ia menjemput… aku berada dalam keadaan terbaik , dalam keadaan mencintai dan dicintai oleh-Nya. Terimakasih Allah.   
Alhamdulillaahilladziii, ahyanaa ba’damaa amaatanaa wailaihinnusyuur.

Akhir-akhir ini, aku berpikir keras, bilakah waktuku akan tiba? Waktu Ia memanggilku? Aaah namun pemikiran itu belum berbanding lurus dengan persiapanku menjelangnya.
Naifnya diri ini.

Rabb, jika boleh aku meminta.. aku ingin Kau jemput dalam keadaan Kau cintai ditengah orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Keluarga dan saudara-saudaraku seiman. Betapa indahnya. Amin, Allaahumma Amiin.

Aku telah dididik dalam nuansa pendidikan agama sejak kecil. Pagi sekolah di Madrasah, siang di sekolah Diniyah, malam mengaji kitab kuning. Pun ketika beranjak SMP, saat aku menjadi santriwati di salah satu Pondok Modern di Sukabumi. Dari kecil itu pula, kata ukhuwah tidak lagi asing bagi ku. Tapi tak pernah sekalipun aku memahami dan menjiwai kata ukhuwah tersebut. Sepertinya kata itu hanya ada pada masa Rasulullah hidup, hanya sebagai kata pelengkap kosa kata bahasa Arab yang kupelajari. Tidak ada spirit yang kurasakan dari kata-kata itu.

Hingga saat kuliah tiba, aku menemukan sebuah komunitas unik dimana para lelakinya (rata-rata) berjanggut, bertitik-titik hitam di jidatnya, celana mereka ngatung, jika berbicara menunduk dan berhijab, dan yang pasti… ehmm mereka keren (cakep-cakep juga hohooo…) dikemudian hari aku mengenal mereka dengan panggilan ikhwan.  Para wanitanya berjilbab lebar, selalu ramah, murah tersenyum, selalu bersalaman ketika bertemu. Aku mencoba menghampiri mereka, dan.. mereka sangat menyambutku dengan hangat, hangat sekali. Kelak, aku menyebut mereka sebagai akhwat. (diawal mengenal mereka, aku masih belibet mengucapkan kosa kata baru ini, ikhwat, ikhwit, akhwit, akhwin, akhwan,  ato bakwan heheheh).

Setelah hari itu.. aku merasa nyaman selalu berdekatan dengan mereka, bisa merasa betah berada seharian di Masjid, entah itu ada kegiatan, rapat, ta’lim dll (kawan, tahukah bahwa baru kali ini aku rela diceramahi dan berlama-lama di Mesjid, hohoo… Dulu? Uhhh… terpaksa). Hobi mereka adalah memekikkan takbir. Jujur.. pertama kali melihat mereka bertakbir, my mind said: ga ada keren-kerennya hehehe. Namun entah kekuatan magis apa yang mereka punya, sehingga mampu membuat seseorang berkepala batu sepertiku menjadi luluh dan lumer. Haaahhh… mungkin ini energy dari kosa kata itu; ukhuwah fillah wa lillah! Dari sana aku belajar mengenal mentoring, Liqo’, tarbiyah, ta’lim, dakwah, jihad, daurah dll. Dari sana pula aku memaknai syahadat dan keislamanku kembali. Ajaibnya, aku justru ketagihan dengan semua itu TANPA paksaan seperti masa kecil dahulu ketika aku belajar agama.

Tahun-tahun kuliah pun berganti, ukhuwah itu tetap indah dengan warna-warninya. Tetap nikmat meski dengan berjuta rasa, yang tidak selalu manis.
Bagiku mereka (para ikhwan dan akhwat itu) adalah keluarga kedua. Kenangan bersama mereka indah tak terperi. Diantara mereka ada beberapa orang spesial di hatiku.

Ada Ibu Peri yang selalu menjadi Ibu kedua sekaligus kakakku yang sabarnya seluas lautan, menghadapi seorang ‘aku’ yang ‘aneh’, Ibu Peri yang menjadi penopang ketika rapuh, yang mengajarkanku banyak hal tentang syukur dan sabar secara riil, dalam praktek, bukan sekedar teori. Kami saling menasehati dalam kebaikan (kebanyakan beliau yang menasehatiku), saling mencintai persis Ibu dan anaknya. Darinya aku belajar hidup sederhana dan belajar berzuhud. Pernah suatu ketika uang saku kami sudah menipis, kami harus mensiasati itu semua dengan cara yang sehat tapi murah, karena tahu Mie Instan itu tidak baik dikonsumsi secara terus-menerus maka kami menjadikan QO (Quaker Oat) sebagai solusi terbaik untuk mengganti kebutuhan kami akan karbohidrat dan nutrisi lainnya (solusi baru buat anak kost kere nih… tahan satu bulan, bisa asin bisa juga manis tergantung selera kita hehehe). Lucunya saat-saat itu. 

Ada pula Bu DeCe yang mempercayaiku ketika semua meragukan, yang menjadikanku sebagai seorang qiyadah dalam hajat besar tahunan kami di Keputrian, yang yakin terhadapku bahwa aku bisa berubah menjadi akhwat tangguh, dewasa dan bermanfaat, yang rela meminjamkan bahunya untukku, yang rela menjadi ‘tong sampah’ku, yang rela mengajariku banyak hal, yang rela mengantarku keliling Jakarta seharian penuh untuk mencari data-data dan mengejar interview skripsi, yang selalu tersenyum untukku, mengalah untukku, hmm.. rindu sekali.

Ada Mbil yang gembil alias chubby, galak, cadas, teman sesama gila dan aneh, selalu jadi saingan, selalu berseteru, jarang akur, tapi dia yang mengerti diri ini dan selalu kurindukan. Mbil yang menerimaku apa adanya. Tak jarang aku merasa iri dengan amal-amal dakwahnya yang luar biasa (Ampuni aku yaa… Rabb). Mbil, maafkan kekuranganku yang belum mampu mempersembahkan tafahum sebagai hadiah ukhuwah terindah untukmu. Mbil yang selalu harokiy, akhwat rocker yang ghirah dakwahnya selalu menginspirasi, darinya kubelajar banyak tentang Dakwah Kampus.

Terakhir dari yang terspesial.. ada Pejuang al-Qur’an, sahabatku, guruku, teman seperjuanganku, orang yang seandainya saja dia adalah ikhwan, akan aku nikahi hihiii ^___^. Ia adalah ‘Sayyid Quthb-ku’ yang bersamanya aku belajar membiasakan diri shalat tepat waktu, menghafal Qur’an, diskusi tentang Islam, dakwah, tarbiyah, fiqih, sejarah, buku hingga hal-hal lucu yang tak penting.
Ada kejadian yang takkan pernah aku lupakan. Sekitar setengah tahun yang lalu, ketika tengah mengerjakan skripsi, daya tahan tubuhku drop, aku sakit (dengan berbagai macam penyakit). Entah kenapa aku tak ingin diperiksa dokter dan hanya ingin dirawat oleh Sang Pejuang Al-Qur’an dikamarnya, alhasil aku (pasti sangat) merepotkannya. Seolah menjelang ajal, sungguh aku lemah sekali dan sudah berpasrah terhadap apapun yang akan terjadi, Sang Pejuang Al-Qur’an begitu sabar mengurusku, membelikan bubur untukku, menyuapiku, meminumkan obat untukku, menjagaku, mendo’akanku, bertilawah di dekatku, hingga yang membuatku terharu adalah ketika ia menitikkan air matanya saat melihatku mengerang kesakitan (tapi Sang Pejuang Al-Qur’an tidak mau mengaku kalau dia menangis melihat kondisiku yang mengkhawatirkan), sehingga suatu hari ternyata skenario hidupku tidak berhenti di episode itu. Allah menyembuhkanku. Alhamdulillaaah… alangkah indahnya saat-saat itu.

Seperti apapun kondisi saat ini, mereka takkan pernah tergantikan. Sungguh sulit mendefinisikan ukhuwah dengan kata pengganti yang lebih indah dari kata cinta untuk mereka, yang kutahu aku belajar banyak hal dari mereka tentang ketulusan, pengorbanan, keikhlasan, kebaikan, kesabaran, tentang cinta, tentang memberi, tentang hidup, tentang Islam, dakwah, tarbiyah dan ukhuwah.
Saat ini seorang Miranty, telah memahami bahwa ukhuwah islamiyah bukan sekedar kosa kata biasa. Bahwa ukhuwah islamiyah itu sesuatu yang ril, sebuah ikatan hati agung karena Allah dan Iman. Sesuatu yang berwarna-warni seindah pelangi, berbeda namun indah, Indah tak terperi.

Rabb.. jagalah mereka yang berusaha menemukan cinta-Mu melalui saudara-saudaranya, terangilah jalan bagi mereka yang berharap akan cahaya dari-Mu. Kokohkanlah ikatannya, mohon pertemukan dan kumpulkan kami di jannah-Mu kelak bersama Rasulullah, para sahabat, keluarga dan para Pejuang al-Qur’an yang lain. Amiin.


Ya Muqallibal quluub tsabbit quluubanaa alaa diinik, Ya Muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa alaa thaa’atik
Rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idzhadaitanaa wahablana min ladunka rahmah innaka antal wahhaab…

Gelombang kehidupan kan terus menghantam, kedepan kan semakin banyak tantangan
Lalu, mungkinkah Allah dan Rasulullah terlupakan?
Kita buktikan “idealisme takkan pernah tergadaikan”
Ukhti, bersama kita ukir peradaban
(Pejuang al-Qur’an on January 2008)

The picture is taken from: http://tiarrahman.multiply.com/photos/album/58#photo=2
=> tengkiiuu mas


Ukhuwah memang tak selalu putih, namun ia pun tak selalu hitam, ia bukanlah satu hal yang ekstrim berada pada satu gradasi warna, ia bisa jingga, merah, kuning, biru, ungu dll… tidak selalu indah dalam pandangan setiap orang, karena setiap orang memiliki warna kesukaannya masing-masing…
tapi ia tetap indah dilangit cinta-Nya… meski berbeda… meski suka atau tidak.
wallaahua’lam bish shawaaab…

Menjelang fajar, Maret 2009

al-faaqirah ilaa ‘afwi Rabbihaa
*Penulis adalah tukang corat coret di http//:www.cinderellazty.multiply.com

DALAM 7 HARI YANG TELAH LALU DAN MUNGKIN AKAN TERULANG

Hari per-1, tahajudku tetinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku
Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil
Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib
Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesai

Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama

Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn
Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya
Tapi… enggan sekali aku membaca Al-qur’an walau cuma 1 juzz
Al-qur’an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata
Tapi… ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan

Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang keselatan Jakarta dengan niat mengaji
Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan
Kubiarkan ustadzku yang sedang  mengajarkan lebih luas tentang agamaku
Aku  lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disamping kiri &  kananku
Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai
Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa

Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku
Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh


saat imam sholat jum’at kelamaan bacaannya
Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat,  serunya
saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam

Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku
Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar
Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi
Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku
Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh

Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal
Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu
Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga
Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini
Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya
& ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud

kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan
Dia bisa hinggap kapanpun dia mau

selama ini aku lalai….
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku

Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam


Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku…..